Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pelajaran Penting Perang AS-Iran: Saatnya Negeri Islam Bersatu Kalahkan Hegemoni Global

Jumat, 24 April 2026 | 06:27 WIB Last Updated 2026-04-23T23:27:50Z

TintaSiyasi.id -- Konflik AS-Iran masih menyita perhatian dunia. Iran mengumumkan kemenangan dengan menyebutkan "kekalahan bersejarah dan telak" bagi Amerika Serikat dan rezim Israel setelah 40 hari perang. Setelah AS mengumumkan terpaksa menerima proposal 10 poin dari Iran yang mencakup genjatan senjata permanen, pencabutan semua sanksi, dan penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut. Dilansir Press TV Iran, Rabu 8 April 2026, dalam pernyataan yang ditujukan kepada "Bangsa Iran yang mulia, agung, dan heroik". Dewan Keamanan Nasional Tertinggi mengatakan bahwa musuh telah menderita kekalahan yang tak terbantahkan dan sekarang tidak melihat jalan keluar selain tunduk pada kehendak Bangsa Iran yang agung dan poros perlawanan terhormat. (Vivanews.com, 08/04/2026) 

Jika kita perhatikan, ternyata AS tidak sekuat yang dibayangkan dunia sebagai negara super power, Iran membuktikan keberaniannya dengan melawan AS. Perang yang dirancang Trump tidak berjalan sesuai skenario, tenggat waktu yang ditawarkan berubah jadi gencatan senjata dengan persyaratan dari pihak lawan. Perang bukan sekadar teknologi atau banyaknya rudal dan amunisi, tetapi ada unsur yang kerapkali gagal dihitung oleh kekuatan adi daya yaitu daya tahan politik internal lawan. Dari sebanyak 56 Negara Islam hanya Iran yang tegak berdiri menolak hegemoni AS. Selain itu, saat ini semua negeri Muslim tunduk dan patuh atas perintah AS. Tetapi Iran berdiri dengan tegak melawan dengan kekuatan militernya.

Dalam kapitalisme, tidak ada negara yang bersekutu secara permanen, kecuali ada kepentingan. Sebab, persekutuan yang terjadi didasari atas materi dan manfaat semata. Selagi ada kepentingan mereka akan terus bersekutu, tetapi jika telah selesai segala urusan mereka bisa saling memusuhi.

Seharusnya negara-negara Arab yang kaya raya berdiri bersama Iran untuk melawan hegemoni barat terhadap kajm Muslim. Namun, negara Arab saat ini lemah bahkan bertekuk lutut dihadapan AS. Para penguasa negeri Muslim telah buta mata dan hati nya sehingga tidak lagi mampu melihat mana kawan dan mana lawan. Mana yang harus dimusuhi dan mana yang harus dibela. Penguasa negeri Muslim telah berkhianat kepada saudara mereka dan pengkhianatan penguasa Muslim inilah yang melemahkan kesatuan umat Islam. Padahal, potensi kesatuan negeri Islam bisa menjadi kekuatan global baru untuk menghancurkan hegemoni barat. Kemenangan Iran atas AS akan mengubah geopolitik dunia dan menandai bangkitnya kekuatan baru untuk membendung kekuatan kapitalis barat yang bersifat hegemonis.

Untuk itu, umat Islam harus terus dibangun kesadarannya bahwa persatuan negeri Muslim sangat dibutuhkan. Untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta meyakini bahwa orang-orang kafir akan bisa dikalahkan. Sebagaimana Allah SWT berfirman, "Katakanlah (Nabi Muhammad) kepada orang-orang yang kufur, “Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (TQS. Ali-Imran : 12).

Seharusnya dalil ini menjadi pedoman bagi umat Islam khususnya bagi para penguasa negeri Muslim untuk percaya diri bahwa kemenangan hakiki ada dipihak kaum Mukmin selama mereka berdiri diatas sebab-sebab turunnya pertolongan Allah SWT.

Hanya dengan kesatuan negeri Muslim yang diikat dalam institusi Khilafah Islam akan mampu mengalahkan hegemoni negara adidaya kafir. Sebagaimana masa Daulah Khilafah Islam yang saat itu dipimpin Baginda Rasulullah SAW, masa Khulafah Rasyidin, dan masa kekhilafahan Islam setelah itu selama berabad-abad, mengalami kemenangan gemilang mengalahkan pasukan musuh. Bahkan sangat dikenal oleh dunia bahwa pasukan Islam adalah pasukan yang tidak terkalahkan. Selama kurang lebih 13 abad, Daulah Islam menjadi negara kuat dan menguasai hampir dua pertiga dunia.

Khilafah Islam yang akan membebaskan penderitaan negeri-negeri muslim yang terjajah. Persatuan umat yang hakiki (Khilafah Islam) akan melahirkan kekuatan global. Bahkan ketika umat bersatu tidak hanya membebaskan kaum muslim yang tertindas. Sejarah membuktikan dua kekuatan imperium terbesar dunia, kekaisaran Persia dan Romawi luluh lantah ditangan umat Islam.

Politik luar negeri Khilafah Islam dengan dakwah dan jihad akan membawa Rahmat bagi dunia. Umat ini harus memandang dengan jernih dan memahami bahwa Imamah (Khilafah) ditegakkan sebagai pengganti kenabian untuk menjaga agama dan mengatur dunia dengan syariah.

Syariah Islam tidak akan bisa diterapkan tanpa institusi politik dan pemerintahan Islam yaitu khilafah, karena tanpa Khilafah hukum-hukum Islam yang bersifat publik tidak mungkin bisa diterapkan. Hari ini AS masih menampakkan dominan nya atas negara-negara dunia. Akan tetapi ketika umat Islam sadar dan bersatu di bawah satu kepemimpinan khilafah, ini lah lawan tanding yang sangat ditakuti mereka. Maka, negara adidaya itu akan beralih kembali ke tangan umat Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Farida Marpaung
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update