Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

No Kings for Trump, Amerika di Ujung Kehancuran

Kamis, 09 April 2026 | 20:00 WIB Last Updated 2026-04-09T13:00:33Z

Tintasiyasi.id.com -- Di bawah pemerintahan Trump, Amerika benar-benar berambisi menguasai dunia. Perang Gaza dan Iran, adalah buktinya yang sesungguhnya. Untuk itulah, rakyat Amerika menyuarakan penolakan keras terhadap kebijakan Trump. 

No Kings, merupakan gerakan protes politik yang digelar oleh kelompok masyarakat sipil di Amerika, sebagai bentuk penolakan terhadap kepemimpinan yang dianggap terlalu absolut. 

Gerakan ini, menekankan bahwa, Amerika adalah negara demokrasi yang menempatkan konstitusi sebagai landasan utama pemerintahan.

Melalui aksi protes bertajuk "No Kings" berlangsung di berbagai kota di Amerika, telah menjadi sorotan publik dunia. Demonstrasi ini muncul, sebagai bentuk penolakan terhadap kepemimpinan Donald Trump yang dinilai memiliki kecenderungan otoriter oleh para pengunjuk rasa.

Aksi demonstrasi berlangsung pada Minggu, (29/3/2026) waktu setempat dengan partisipasi besar di berbagai wilayah. Penyelenggara menyebut sekitar 8 juta orang berkumpul dalam lebih dari 3.300 acara yang tersebar di seluruh 50 negara bagian, mulai dari kota besar hingga kota kecil (detikNews, 30/03/2026).

Terlebih, aksi ini sebagai protes keras terhadap ambsi perang Trump yang membuat utang Amerika semakin membekak. Utang nasional Amerika, secara resmi telah melewati batas US$ 39 triliun atau Rp 661.830 triliun (US$1= Rp 16.970) pada pekan ini (CNBC, 22/03/2026).

Ambisi Perang dan Utang

Di bawah sistem kapitalisme, dunia ini hanyalah sarana untuk memenuhi ambisi yang berorientasi pada materi. Tidak ada patokan, dalam menjalankan setiap kebijakan selama ada keuntungan di dalamnya. Itulah, gambaran Amerika saat ini, di bawah kepemimpinan Trump, Amerika tampil sebagai negara adidaya yang haus akan perang dan kekuasaan. 

Perang Iran, telah menyebabkan utang yang semakin besar, yang berakibat pada eskalasi geopolitik yang berdampak langsung pada ekonomi dalam negeri, yaitu daya beli konsumen domestik semakin melemah, akibat terganggunya jalur distribusi minyak dan gas di Selat Hormuz. 

Harga minyak mentah telah menembus angka US$ 100 per barel, yang secara langsung memicu kenaikan harga bahan bakar di Amerika. Inflasi pun, semakin meningkat, menyebabkan harga kebutuhan melambung tinggi. 

Biaya militer yang besar, adalah penyumbang utang nasional Amerika, bukanlah sekadar angka di atas kertas, namun ancaman yang telah menimbulkan ketidakstabilan, yang telah mempengaruhi ekonomi masyarakat secara luas. 

Perang, adalah kebijakan politik luar negeri Amerika yang memang menjadi prioritas negara adidaya tersebut. Amerika dengan segala bentuk invasi perangnya, khususnya, perang melawan negeri-negeri Islam telah memakan biaya yang tidak sedikit, telah membawa Amerika ke dalam krisis kehancuran. 

Perang, Membuka Topeng 

Invasi perang di bawah Amerika, saat ini masih berlangsung sejatinya telah membuka mata dunia, bahwa Amerika dan sistem kapitalismenya, telah mencekram tatanan hidup dunia. Narasi perang melawan terorisme, yang telah menjadikan Islam sebagai pihak yang tertunduh, telah membuka kesadaran dunia, bahwa selama ini yang menjadi teroris sesungguhnya adalah Amerika. 

Di sisi lain, kita pun merasa ngiris melihat pengkhianat para pemimpin negeri Islam, yang masih saja bersekutu, memberikan dukungan terhadap Amerika dan Israel. Perang Gaza dan Iran, bukti nyata diamnya para pemimpin negeri Islam, tidak memberikan perlawanan, bahkan memberikan fasilitas pangkalan militernya untuk kepentingan Amerika. 

Padahal, Amerika selama ini hanya memanfaatkan keloyalitasan pemimpin umat Islam, untuk menguras kekayaan alamnya saja. Tentu hal ini jelas harus diakhiri, karena Allah Swt telah melarang umat Islam bersekutu dengan orang kafir, sepert dalam i firman-Nya :

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang 
mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28)

Semakin jelas, di bawah kekuasaan kapitalisme dan Amerika umat Islam, dan dunia semakin menderita. Sudah tidak layak untuk mengatur urusan dunia, sehingga perjuangan yang sesungguhnya adalah, kita kembali lagi kepada Islam. 

Dengan menjadikan perjuangan Rasulullah Saw, sebagai contoh dalam membangun tatanan hidup manusia di bawah sistem Islam yang sempurna. Dalam sejarahnya, kesempurnaan Islam mampu menaunggi seluruh manusia dengan keadilannya, karena sesungguhnya Islam lahir dari Allah Swt, yang lebih telah menciptakan manusia, sehingga hanya sistem islamlah yang layak mengatur manusia. Wallahua'alam.[]

Oleh: Anastasia, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update