TintaSiyasi.id -- Ulama Ustaz Arief B Iskandar mengatakan, dalam menyikapi perbedaan dan bahkan penyimpangan, Islam mengajarkan jalan yang mulia dengan pencerahan bukan dengan permusuhan.
"Menyikapi perbedaan dan bahkan penyimpangan sekalipun, Islam mengajarkan jalan yang mulia: jalan ilmu, hujjah dan adab. Bukan dengan pemusnahan, tetapi dengan pencerahan. Bukan dengan membungkam, tetapi dengan menjelaskan," ungkapnya di akun Telegram Arief B Iskandar, Rabu (15/4/2026).
Ia mengatakan, pendapat adalah keniscayaan dalam kehidupan umat manusia. Termasuk dalam tubuh umat Islam. Sejak masa awal, para ulama telah berinteraksi dengan ragam pemikiran. Dari yang lurus hingga yang menyimpang.
Akan tetapi, lanjut dia, yang menarik, cara mereka menyikapi perbedaan menunjukkan kemuliaan tradisi keilmuan Islam. Bukan dengan emosi, tetapi dengan diskusi. Bukan dengan hawa nafsu, tetapi dengan ilmu. Bukan dengan membakar buku yang kebetulan isinya tidak disetujui, tetapi dengan membantah isinya secara kritis.
Ia menjelaskan, sebagian orang mungkin tergoda mengambil jalan pintas: menutup, melarang bahkan memusnahkan buku yang dianggap berbahaya.
"Padahal, jika kita menengok sejarah, jalan itu bukanlah arus utama. Benar. Ada riwayat bahwa sebagian ulama pernah mengubur atau membakar kitab. Akan tetapi, sebagaimana disebut oleh Imam Adz-Dzahabi, tindakan tersebut dilakukan dalam konteks menjaga keotentikan riwayat. Bukan karena tidak sepakat dengan isi pemikiran. Kekhawatirannya adalah manipulasi oleh pihak yang tidak amanah. Bukan semata-mata karena perbedaan pandangan," cecarnya.
Oleh karena itu, ia mengingatkan, di sinilah pentingnya ketelitian dalam memahami konteks. Menyamakan antara menjaga keaslian naskah dengan membakar buku karena tidak setuju isinya adalah penyederhanaan yang berbahaya. Tradisi Islam justru dibangun di atas dialektika ilmiah yang sehat.
"Lihatlah keteladanan Imam Al-Ghazali. Ketika beliau menilai sebagian pemikiran filsafat menyimpang, beliau tidak membakar buku-buku para filsuf. Beliau menulis karya monumental berjudul Tahaafut al-Falasifah. Membongkar kesalahan dengan hujah yang kokoh. Lalu datang Ibnu Rusyd yang tidak sepakat dengan Imam al-Ghazali. Ia balik membalas dengan karyanya, Tahaafut at-Tahaafut. Inilah peradaban ilmu. Adu argumen. Bukan adu emosi. Hasilnya bukan sekadar “menang-menangan debat”, tetapi melahirkan khazanah ilmiah yang terus dikaji hingga hari ini," contohnya.
Ia mengatakan, membakar satu buku tidak akan pernah memadamkan sebuah gagasan. Buku bisa dicetak kembali, bahkan dalam jumlah yang lebih besar. Adapun gagasan akan terus hidup selama belum dijawab atau digugurkan oleh hujah yang jauh lebih kuat. Justru dengan pelarangan tanpa penjelasan, rasa ingin tahu akan semakin besar. Umat pun dibiarkan tanpa bekal untuk menilai.
"Karena itu jika sebuah pemikiran dianggap menyimpang maka kewajiban para ulama dan intelektual adalah menjelaskan letak penyimpangannya: Di mana kesalahannya? Apa bahayanya? Bagaimana bantahannya? Apa argumentasinya? Dengan cara ini, umat tidak hanya “dijauhkan”, tetapi juga “dikuatkan”," tegasnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan, masyarakat juga perlu menyadari bahwa bahaya terbesar bukan sekadar membaca buku yang keliru, tetapi tidak membaca buku tersebut sama sekali.
"Sebabnya, umat yang tidak membaca akan mudah digiring, mudah diprovokasi dan mudah ditakut-takuti. Adapun umat yang berilmu, mereka akan mampu menimbang, memilah dan mengambil sikap dengan sadar," ungkapnya.
"Namun demikian, saya tidak sepakat jika membakar buku dituding sebagai sebuah kejahatan. Kata-kata di atas sengaja saya kutip sekadar ingin menegaskan bahwa masalah terbesar bukan pada pemusnahan buku, tetapi pada hilangnya budaya membaca dan berpikir kritis. Ini yang akan memicu ketidaktahuan pada diri umat. Masalahnya, ketidaktahuan tidak jarang memicu permusuhan tanpa alasan," ujarnya.
Ia mengutip kata-kata yang dinisbatkan kepada Imam Ali ra.:
الناس أعداء ما جاهلوا
Manusia itu acapkali memusuhi apa saja yang tidak mereka ketahui.[] Alfia