Lanjutnya, sebagaimana sabda
Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Ahmad ibn Hanbal dalam musnad Ahmad akan
tegaknya kembali Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah yang kedua.
“... Kemudian akan ada [lagi] khilafah
yang mengikuti manhaj kenabian,” kutip jurnalis yang akrab disapa Om Joy itu.
"Ini bukan ramalan. Ini arah
sejarah. Ini bocoran fakta di masa yang akan datang!" ucapnya.
Om Joy mengatakan, sebagian besar
ulama ahlusunah menyatakan bahwa menegakkan khilafah merupakan kewajiban fardu
kifayah.
Ia menyebut, di antaranya Adalah Ibn
Khaldun dalam Muqadimah menyebut khilafah sebagai kewajiban yang
diketahui secara syar’i.
“Kemudian ulama era modern
Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizham al-Hukm fi al-Islam menegaskan, ‘Mengangkat
seorang khalifah adalah fardu atas kaum Muslim seluruhnya di dunia.
Menegakkannya termasuk kewajiban terbesar dalam Islam,” bebernya.
"Artinya jelas, ini bukan
wacana opsional. Ini kewajiban yang jika diabaikan, umat menanggung dosa
kolektif," ujarnya.
Lanjut dikatakan, khilafah adalah
jawaban atas krisis multidimensi yang dialami dunia saat ini, karena telah
tercatat dalam sejarah, ditegaskan oleh syariat, dan dijanjikan oleh wahyu.
"Sejarah tidak bisa
dibohongi. Pada masa Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan begitu merata hingga
sulit menemukan penerima zakat," ungkapnya.
Bahkan, jelasnya, sejarawan Barat
seperti Will Durant dalam The Story of Civilization mengakui bahwa
peradaban Islam kerap menunjukkan tingkat toleransi dan keadilan yang tinggi.
“Sementara itu, Thomas Arnold
dalam The Preaching of Islam juga mencatat bahwa penyebaran Islam tidak
berlangsung melalui paksaan yang sistematis. Ini bukan propaganda. Ini
pengakuan sejarah," lugasnya.
Ia meyakini, khilafah bukan
sekadar wacana politik, bukan pula romantisme masa lalu, melainkan bagian dari
ajaran Islam itu sendiri.
"Sejak wafatnya Rasulullah saw.,
para sahabat tidak menunda bai’at in’iqad (baiat pengangkatan) seorang
khalifah (kepala negara khilafah). Bahkan sebelum pemakaman beliau saw. selesai,”
ungkap Om Joy.
“Ini bukan sekadar keputusan
politik. Ini adalah kesadaran syar’i. Umat ini tidak boleh hidup tanpa khilafah
lebih dari tiga hari," tandasnya.
Janji Allah
Om Joy memaparkan, Allah Swt.
tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menjanjikan kemenangan.
“Di dalam QS An-Nur ayat 55,
Allah menjanjikan kekuasaan bagi orang-orang beriman dan beramal saleh,”
sebutnya.
Ibn Kathir, tuturnya, menafsirkan
bahwa Allah berjanji akan menjadikan umat Islam sebagai khalifah di bumi,
sedangkan Al-Qurtubi menegaskan kewajiban mengangkat imam sekaligus kabar akan
terwujudnya kekuasaan tersebut.
"Janji ini bukan ilusi.
Janji ini pernah terjadi, dan akan terjadi lagi. Syaratnya jelas: iman yang
benar, amal saleh, dan perjuangan kolektif," ujarnya.
"Khilafah, dengan demikian,
bukan utopia. Khilafah adalah kewajiban syar’i, bisyarah Nabi saw., dan
janji Allah Swt. sekaligus. Namun janji itu tidak turun tanpa sebab. Janji itu
menuntut kesungguhan: dakwah yang jernih, perjuangan pemikiran yang konsisten,
dan kerja kolektif umat," sebutnya.
Karenanya, terang Om Joy,
tegaknya syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah adalah jalan
sistematis dalam mengantarkan manusia menuju surga.
"Karena Islam bukan hanya
mengatur dunia, namun juga membuat orang beriman dan rida diatur syariat
menjadi selamat di akhirat," ujarnya.
Ia menambahkan, Taqiyuddin
an-Nabhani di dalam kitab Nidzamul Islam menekankan bahwa syariat yang
diterapkan secara utuh akan menghasilkan masyarakat yang seluruh interaksinya
berdasarkan hukum Allah.
"Jadi bukan hanya tertib di
dunia, namun juga menuju rida-Nya," pungkas Om Joy.[] Tenira