Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lebih dari Kewajiban, Khilafah Adalah Bisyarah

Rabu, 01 April 2026 | 21:39 WIB Last Updated 2026-04-01T14:39:40Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menyampaikan bahwa khilafah bukan sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan bisyarah. "Lebih dari kewajiban, khilafah adalah bisyarah (kabar gembira)," tulisnya dalam akun Facebook Joko Prasetyo, Rabu (25/03/2026).

 

Lanjutnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Ahmad ibn Hanbal dalam musnad Ahmad akan tegaknya kembali Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah yang kedua.

 

“... Kemudian akan ada [lagi] khilafah yang mengikuti manhaj kenabian,” kutip jurnalis yang akrab disapa Om Joy itu.

 

"Ini bukan ramalan. Ini arah sejarah. Ini bocoran fakta di masa yang akan datang!" ucapnya.

 

Om Joy mengatakan, sebagian besar ulama ahlusunah menyatakan bahwa menegakkan khilafah merupakan kewajiban fardu kifayah.

 

Ia menyebut, di antaranya Adalah Ibn Khaldun dalam Muqadimah menyebut khilafah sebagai kewajiban yang diketahui secara syar’i.

 

“Kemudian ulama era modern Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizham al-Hukm fi al-Islam menegaskan, ‘Mengangkat seorang khalifah adalah fardu atas kaum Muslim seluruhnya di dunia. Menegakkannya termasuk kewajiban terbesar dalam Islam,” bebernya.

 

"Artinya jelas, ini bukan wacana opsional. Ini kewajiban yang jika diabaikan, umat menanggung dosa kolektif," ujarnya.

 

Lanjut dikatakan, khilafah adalah jawaban atas krisis multidimensi yang dialami dunia saat ini, karena telah tercatat dalam sejarah, ditegaskan oleh syariat, dan dijanjikan oleh wahyu.

 

"Sejarah tidak bisa dibohongi. Pada masa Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan begitu merata hingga sulit menemukan penerima zakat," ungkapnya.

 

Bahkan, jelasnya, sejarawan Barat seperti Will Durant dalam The Story of Civilization mengakui bahwa peradaban Islam kerap menunjukkan tingkat toleransi dan keadilan yang tinggi.

 

“Sementara itu, Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam juga mencatat bahwa penyebaran Islam tidak berlangsung melalui paksaan yang sistematis. Ini bukan propaganda. Ini pengakuan sejarah," lugasnya.

 

Ia meyakini, khilafah bukan sekadar wacana politik, bukan pula romantisme masa lalu, melainkan bagian dari ajaran Islam itu sendiri.

 

"Sejak wafatnya Rasulullah saw., para sahabat tidak menunda bai’at in’iqad (baiat pengangkatan) seorang khalifah (kepala negara khilafah). Bahkan sebelum pemakaman beliau saw. selesai,” ungkap Om Joy.

 

“Ini bukan sekadar keputusan politik. Ini adalah kesadaran syar’i. Umat ini tidak boleh hidup tanpa khilafah lebih dari tiga hari," tandasnya.

 

Janji Allah

 

Om Joy memaparkan, Allah Swt. tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menjanjikan kemenangan.

 

“Di dalam QS An-Nur ayat 55, Allah menjanjikan kekuasaan bagi orang-orang beriman dan beramal saleh,” sebutnya.

 

Ibn Kathir, tuturnya, menafsirkan bahwa Allah berjanji akan menjadikan umat Islam sebagai khalifah di bumi, sedangkan Al-Qurtubi menegaskan kewajiban mengangkat imam sekaligus kabar akan terwujudnya kekuasaan tersebut.

 

"Janji ini bukan ilusi. Janji ini pernah terjadi, dan akan terjadi lagi. Syaratnya jelas: iman yang benar, amal saleh, dan perjuangan kolektif," ujarnya.

 

"Khilafah, dengan demikian, bukan utopia. Khilafah adalah kewajiban syar’i, bisyarah Nabi saw., dan janji Allah Swt. sekaligus. Namun janji itu tidak turun tanpa sebab. Janji itu menuntut kesungguhan: dakwah yang jernih, perjuangan pemikiran yang konsisten, dan kerja kolektif umat," sebutnya.

 

Karenanya, terang Om Joy, tegaknya syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah adalah jalan sistematis dalam mengantarkan manusia menuju surga.

 

"Karena Islam bukan hanya mengatur dunia, namun juga membuat orang beriman dan rida diatur syariat menjadi selamat di akhirat," ujarnya.

 

Ia menambahkan, Taqiyuddin an-Nabhani di dalam kitab Nidzamul Islam menekankan bahwa syariat yang diterapkan secara utuh akan menghasilkan masyarakat yang seluruh interaksinya berdasarkan hukum Allah.

 

"Jadi bukan hanya tertib di dunia, namun juga menuju rida-Nya," pungkas Om Joy.[] Tenira

Opini

×
Berita Terbaru Update