TintaSiyasi.id -- Peneliti Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Ryan, M.Ag., memaparkan strategi jenius Khalifah Umar Menghadapi krisis.
"Strategi jenius daripada Khalifah Umar Bin Khattab bukan hanya sekedar sejarah tetapi blue print bagi kepemimpinan transformasional pada saat krisis, pertanyaannya kalau kemudian krisis ini terjadi kita mau meniru kepemimpinan yang mana?" Ujarnya dalam acara Kisah Khilafah #4 Strategi Umar Bin Khattab Menghadapi Krisis di akun YouTube RayahTV, Rabu (24/2/2026).
Ia menjelaskan, pertama, krisis tidak bisa diselesaikan oleh pemimpin yang hidup lebih nyaman dari rakyatnya.
"Saat krisis melanda, Umar diberi roti dan mentega, makanan mewah pada masa itu, seorang Badui memakannya dengan lahap, Umar kemudian bertanya 'sepertinya engkau sangat membutuhkannya'. 'Badui itu kemudian menjawab 'aku sudah lama tidak melihat makanan seperti ini', kisahnya.
Kemudian, di saat itulah Umar Bin Khattab bersumpah tidak akan makan daging dan mentega sampai rakyatnya kembali sejahtera. "Dan ini bukan slogan, ini benar-benar dilakukan, kulitnya berubah menjadi gelap karena hanya makan roti dan minyak, perutnya berbunyi karena lapar, bahkan ia memukul perutnya sambil berkata 'berbunyi atau tidak kita tidak punya selain ini sampai rakyat kenyang'.
Bahkan, lanjutnya, keluarganya pun tidak diberikan kekhususan atau privilege, ketika anaknya memakan semangka, Umar menegur 'bagaimana engkau makan buah sementara umat Muhammad kurus kering'.
Kedua, empati tanpa sistem tidak akan menyelamatkan rakyat.
Ia menceritakan, Umar tidak berhenti kepada empati, beliau membangun sistem, mendirikan posko pengungsian, memerintahkan pendataan, 7.000 orang harus diberi makan di Madinah, 4.000 sakit lalu meningkat menjadi 60.000 pengungsi.
"Setiap malam ada laporan baru, setiap petugas punya tugas yang jelas, ada dapur umum yang memasak sejak sebelum subuh, ia bahkan patroli malam hari sendirian, memanggul karung gandum dipunggungnya, memasak makanan dengan tangannya. Ketika menemukan keluarga yang makan tulang dan bangkai, ia tidak hanya memberi makanan, ia terus memantau mereka sampai kemudian pulih. Ini bukan sekedar batuan ini manajemen krisis yang berbasiskan data logistik dan monitoring," paparnya.
Ketiga, krisis tidak bisa diselesaikan secara lokal, butuh solidaritas wilayah bahkan global.
Umar tahu, lanjutnya, Madinah tidak cukup memenuhi makanan, maka ia berkirim surat kepada para wali atau Gubernur Mesir, Syam, dan Irak. 'tolonglah kami'. Dan responnya sangat luar biasa, 1000 unta membawa gandum, 20 kapal membawa minyak dan tepung, ribuan pakaian bantuan didistribusikan sampai ke pelosok. Setiap keluarga mendapatkan jatah bahkan ada kebijakan yang punya makanan harus berbagi dengan yang tidak punya.
Keempat, hukum harus ditegakkan dengan keadilan bukan formalitas.
"Pada masa kelaparan ada orang mencuri unta karena lapar, secara hukum seharusnya dipotong tangannya. Tetapi Umar menunda hukuman karena syarat had tidak terpenuhi, ia berpegang pada satu hadis yang artinya 'tidak ada potong tangan pada masa kelaparan'. Dan ada ayat yang kemudian berarti barang siapa Dia terpaksa maka dia tidak berdosa dalam surah al-baqarah ayat 173. Bahkan ia memerintahkan majikan pencuri itu untuk kemudian mengganti rugi dua kali lipat," terangnya.
Kelima, kebijakan fiskal adaptif. "Di masa krisis, Umar Bin Khattab menunda penarikan zakat, bukan menghapusnya tetapi ditagih setelah kondisi pulih, bahkan dua tahun sekaligus, artinya negara tidak membebani rakyat saat lemah, tetapi tetap menjaga keberlanjutan keuangan publik," ungkapnya.
Keenam, krisis diselesaikan dengan ikhtiar maksimal dan tawakal total.
Kemudian, ia menjelaskan, Umar tidak hanya bekerja secara struktural, ia mengumpulkan rakyat dan kemudian berkhotbah bisa 'jadi musibah ini karena kita (perbuatan)'. Beliau mengajak bertobat, istighfar, dan salat istisqa. Membaca ayat yang artinya 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu niscaya dia akan menurunkan hujan' QS. Nuh ayat 10- 11. Bahkan Umar bertawasul dengan Abbas dan hujan pun kemudian turun.
"Dari kisah ini kita belajar pemimpin harus hidup seperti rakyatnya, negara harus hadir dengan sistem, wilayah harus bersatu, hukum harus adil, kebijakan ekonomi harus adaptif, dan hati harus tetap kembali kepada Allah," pungkasnya. [] Alfia