TintaSiyasi.id --Hikmah dan Inspirasi dari Perkataan Imam Syafi'i.
قِيلَ لِلإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ:
يَا إِمَامُ دُلَّنَا عَلَى: وَاجِبٍ وَأَوْجَبَ، وَعَجِيبٍ وَأَعْجَبَ، وَصَعْبٍ وَأَصْعَبَ، وَقَرِيبٍ وَأَقْرَبَ؟
فَقَالَ:
وَاجِبٌ عَلَى النَّاسِ أَنْ يَتُوبُوا،
وَلَكِنْ تَرْكَ الذُّنُوبِ أَوْجَبُ،
وَالدَّهْرُ فِي تَصَرُّفِهِ عَجِيبٌ،
وَغَفْلَةُ النَّاسِ عَنْهُ أَعْجَبُ،
وَالصَّبْرُ عِنْدَ الْمُصِيبَةِ صَعْبٌ،
وَلَكِنْ فَوَاتُ الثَّوَابِ أَصْعَبُ،
وَكُلُّ مَا هُوَ آتٍ قَرِيبٌ،
وَالْمَوْتُ مِنْ دُونِ ذَلِكَ أَقْرَبُ.
Dikatakan kepada Imam Syafi’i:
“Wahai Imam, tunjukkan kepada kami sesuatu yang: wajib dan lebih wajib, menakjubkan dan lebih menakjubkan, sulit dan lebih sulit, dekat dan lebih dekat.”
Beliau menjawab:
Wajib bagi manusia adalah bertaubat,
tetapi meninggalkan dosa itu lebih wajib.
Perputaran zaman itu menakjubkan,
tetapi kelalaian manusia darinya lebih menakjubkan.
Sabar saat musibah itu sulit,
tetapi hilangnya pahala itu lebih sulit.
Segala yang akan datang itu dekat,
tetapi kematian lebih dekat dari itu semua.
“Empat Cermin Kehidupan: Jalan Menuju Kesadaran Hakiki”
Perkataan Imam Syafi'i ini adalah cermin tajam yang memantulkan realitas jiwa manusia. Ia bukan sekadar kata-kata, tetapi manhaj kehidupan—jalan ideologis menuju Allah.
1. Taubat vs Meninggalkan Dosa: Dari Lisan ke Realitas
Banyak manusia mudah mengucap taubat, namun sulit meninggalkan dosa.
Di sinilah letak peringatan halus Imam Syafi’i: Taubat adalah pintu, tapi meninggalkan dosa adalah langkah masuk.
Dalam dunia tasawuf, taubat sejati adalah:
menyesal dengan hati
berhenti dengan anggota tubuh
bertekad tidak kembali
Makna ideologis:
Kebangkitan umat tidak cukup dengan slogan religius, tetapi harus dimulai dari revolusi diri.
2. Keajaiban Dunia vs Kelalaian Manusia
Dunia berubah setiap detik—kaya jadi miskin, kuat jadi lemah, hidup jadi mati.
Namun yang lebih mengherankan adalah manusia yang tetap lalai.
Kelalaian (ghaflah) adalah hijab terbesar antara hamba dan Allah.
Orang yang sadar akan berkata:
“Hidup ini singkat.”
Orang yang lalai berkata:
“Masih ada waktu.”
3. Sabar vs Kehilangan Pahala
Musibah memang berat, tetapi kehilangan pahala jauh lebih berat.
Karena:
sabar = pahala tanpa batas
keluh kesah = pahala yang hilang
Dalam maqam sufistik: Sabar adalah seni bertahan tanpa kehilangan iman.
Pesan mendalam:
Jangan hanya meminta ringan ujian, tapi mintalah kuatnya hati.
4. Kedekatan Kematian: Alarm Kehidupan
Semua yang akan datang terasa jauh—rezeki, sukses, cita-cita.
Namun kematian lebih dekat dari semuanya.
Ia tidak menunggu:
usia
kesiapan
atau rencana manusia
Dalam pandangan ruhani:
Kematian adalah gerbang menuju perjumpaan dengan Allah.
Penutup: Bangunlah Sebelum Dipanggil
Perkataan ini merangkum jalan hidup:
Taubat → Tinggalkan dosa
Dunia → Jangan lalai
Ujian → Bersabar
Hidup → Ingat kematian
Jika empat ini hidup dalam hati, maka manusia akan menjadi:
hamba yang sadar
jiwa yang tenang
dan ruh yang dekat dengan Allah
Doa
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang benar dalam taubat, kuat meninggalkan dosa, sadar dari kelalaian, sabar dalam ujian, dan Engkau wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah.”
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)