Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Demo No Kings, Kebangkrutan AS dan Penegakan Khilafah

Kamis, 09 April 2026 | 19:37 WIB Last Updated 2026-04-09T12:37:59Z

Tintasiyasi.id.com -- Unjuk rasa besar-besaran terjadi di beberapa wilayah Amerika Serikat (AS). Jutaan warga turun ke jalan dalam demonstrasi bertajuk "No Kings". Ini adalah aksi yang kesekian kali sejak pertama kalinya diadakan pada pertengahan tahun lalu (CNBC Indonesia, 31/03/2026).

Warga amerika serikat murka terhadap berbagai kebijakan yang diambil oleh Donal Trump. Diperkeruh dengan keikutsertaan trump dalam perang antara Israel dengan Iran, sehingga warga Amerika Serikat juga ikut menanggung dampaknya.

Utang nasional Amerika Serikat (AS) resmi menembus US$ 39 triliun atau sekitar Rp 661.440 triliun pada Maret 2026. Utang semakin membengkak, sementara perang antara Iran dan amerika serikat akan terus berlanjut (CNBC Indonesia, 28/03/2026).

Antara Amerika Serikat dan Iran tidak ada yang mematuhi persyaratan damai dari masing-masing pihak. Sementara, keadaan warga Amerika Serikat kacau balau akibat beban utang semakin membengkak. Tentunya, utang tersebut akan berefek pada berbagai aspek vital dalam hidup.

Apakah Trump berhasil menghadapi kekacauan di negaranya atau perlahan merosot menuju gerbang kehancuran?
Keruntuhan Amerika Serikat
Bukan sembarang ambisi! Trump sebagai Presiden Amerika Serikat memiliki visi raksasa, yakni ingin menguasai dunia. 

Melalui kebijakan dan kekuatan militer yang dimiliki, visi raksasa tersebut seakan berada dalam genggaman. Namun, realita berkata lain, senjata yang diandalkan tak seperti yang diharapkan. Ambisi Trump menguasai dunia dengan kebijakan militernya membuat utang AS berlipat dan menuju kebangkrutan.

Ongkos perang yang diserap dari anggaran negara semakin membengkak. Warga AS semakin murka karena anggaran negara yang berasal dari pajak, yang pemanfaatannya untuk kesejahteraan, tetapi yang didapati malah sebaliknya.

Sikap AS (Trump) mendukung Israel untuk menguasai Palestina dengan bersekutu bersama Eropa dan negara-negara teluk untuk kompak memerangi Iran telah membuka mata dunia dan warga AS.

Kejahatan Trump dan hegemoni kapitalisme AS tampak nyata menghujam di dada jiwa-jiwa yang memiliki rasa kemanusiaan.
Ada Apa dengan Pemimpin Muslim?

Di saat warga Amerika Serikat yang notabenenya adalah penganut agama selain Islam berani bersuara terhadap aksi Trump. Lalu, apa yang menyebabkan penguasa negeri-negeri muslim bungkam? 

Bahkan, memilih berada di barisan penjajah, yang menghalalkan ribuan warga kaum muslim untuk dibunuh. naudzubillah
Saat penguasa muslim bersekutu dengan AS, maka saat itulah pengkhianatan terhadap setiap jiwa kaum muslim dan ajaran agama ini berlangsung. 

Penguasa muslim mesti mengambil tindakan yang tegas dan nyata untuk kembali berada di jalan kebenaran. Persekutuan antara pemimpin negeri kafir dengan pemimpin negeri muslim harus segera diakhiri.

Kebangkitan Islam

Umat harus terus disadarkan bahwa AS dan hegemoni kapitalismenya serta politik demokrasinya telah merusak dunia. Bahkan, Umat Islam dan penguasa muslim jadi korban adu domba demi kepentingan AS.

Upaya penyadaran politik umat Islam harus semakin dideraskan dan dibarengi dengan edukasi tentang politik Islam, sistem Islam dan kepemimpinan Islam. 

Sebagaimana yang telah diinisiasi oleh uswatun hasanah terbaik sepanjang zaman, Nabi Muhammad saw. Rasulullah Saw. mencontohkan kepada setiap muslim bahwa Islam bukanlah sekedar agama ritual.

Islam juga memaparkan aturan terperinci terkait masalah kehidupan, seperti: pemerintahan, hukum, politik, budaya, kesehatan, kemiliteran dan sebagainya.
Semua aturan syariat Islam dapat diejawantahkan dalam sebuah institusi yang disebut dengan khilafah. Khilafah pernah berjaya dan akan kembali berjaya, hanya tinggal menunggu waktu.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“… Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Bazzar).[]

Oleh: Siska Ramadhani, S.Hum
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update