Tintasiyasi.id.com -- Jutaan orang diperkirakan turun ke jalan di seluruh Amerika Serikat pada Sabtu dalam aksi nasional ketiga “No Kings” (Tidak ada raja), untuk menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Trump.
Unjuk rasa tersebut dilaksanakan di semua 50 negara bagian AS serta 16 negara lainnya, sehingga menandai salah satu aksi protes paling terkoordinasi sepanjang sejarah negara itu.
Keluhan yang disoroti pengkritik Trump dalam unjuk rasa kali ini antara lain konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel AS, kenaikan harga barang dan minyak, tarif impor yang berdampak pada barang sehari-hari, dan antrean pemeriksaan keamanan di bandara yang mengular akibat kebuntuan pembahasan anggaran (Antara, 29/03/2026).
Utang nasional Amerika Serikat (AS) resmi menembus US$ 39 triliun (Rp 661.440 triliun) pada Maret 2026. Utang bengkak, menyusul lonjakan pengeluaran akibat konflik AS-Israel-Iran. Akibatnya utang per penduduk AS Rp 1,93 M. AS di ambang kebangkrutan (CNBC Indonesia, 28/03/2026)
Amerika Serikat di Ujung Kehancuran
Kebijakan militer Amerika Serikat, khususnya rencana peningkatan anggaran pertahanan yang signifikan, dinilai menjadi faktor utama yang membuat utang nasional AS melonjak drastis, bahkan melampaui 38 triliun dolar AS pada awal 2026. Ambisi Trump menguasai dunia dengan kebijakan militernya membuat hutang AS berlipat dan menuju kebangkrutan.
AS di ujung kehancuran akibat ambisi dan keserakahannya, alih-alih ingin menguasa dunia AS berujung bangkrut. Akhirnya 8 juta masyarakat turun di jalan melakukan aksi demonstrasi, gelombang protes ini dipicu oleh beberapa faktor utama, antara lain:
Serangan militer oleh AS dan Israel ke Iran yang telah berlangsung selama empat pekan, kebijakan imigrasi yang dinilai terlalu agresif, lonjakan harga minyak dan kebutuhan pokok dan menurunnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah.
Sikap AS (Trump) mendukung Israel untuk menguasai Palestina, bersekutu dengan Eropa dan negara-negara Teluk untuk kompak memerangi Iran telah membuka mata dunia dan warga AS akan kejahatan Trump dan hegemoni kapitalisme AS. Dunia mulai membuka mata dan tersadarkan atas kejahatan dan hegemoni AS.
Kapitalisme adalah sistem yang tidak manusiawi, serakah dan penuh dengan ambisi. Sebab, kapitalisme tegak di atas asas materialis. Sesuatu yang menguntungkan AS akan diusahakan dengan ambisi yang kuat untuk melaraihnya, tanpa mempedulikan dampak maupun kerusakan yang besar.
Sebut saja, ambisi AS untuk menguasa dunia dengan hegemoni di negeri muslim, seperti Palestina yang digenosida, Suriah, afganistan dan negeri-negeri lainya.
Amerika Serikat dengan sistem kapitalismenya telah menundukkan negeri-negeri muslim untuk berada di bawah hegemoninya. Enam negara arab secara suka rela bergabung bersama AS dan mengutuk Iran.
Terhitung ada 12 negara mayoritas Muslim yang resmi bergabung dalam Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS Donald Trump dan menjadi penghianatan terbesar penguasa-penguasa muslim pada Palestina.
Pengkhianatan penguasa negeri muslim yang bersekutu dengan AS harus diakhiri. Negeri-negeri arab harus melepaskan tangan mereka dari AS dan bersatu, bersama serta berbaris di jalan Islam karena persatuan umat terlaksana jika kaum muslim bersatu di bawah bendara Islam.
Kepemimpinan Islam Pemersatu Umat
Umat harus terus disadarkan bahwa AS dan hegemoni kapitalismenya dan politik demokrasinya telah merusak dunia dan kehidupan antar bangsa. Umat Islam dan penguasa muslim jadi korban adu domba demi kepentingan AS.
Upaya penyadaran politik umat Islam harus semakin dideraskan, dibarengi dengan edukasi tentang politik Islam, sistem Islam dan kepemimpinan Islam. Dengan dakwah politik kepada umat akan membentuk opini umum sehingga menghasilkan kesadaran umum. Kesadaran akan rusaknya sistem Kapitalisme di bawa hegemoni As menuju kesadaran umum akan kepemimpinan Islam.
Mengajak umat dan penguasa muslim untuk menggencarkan perjuangan penegakan Khilafah, agar tatanan dunia yang rusak diganti dengan tatanan syariah Islam. Dengan bersatunya kaum muslim dan saling melindungi.
Karena dengan persatuan umat muslim akan menciptakan kekuatan besar yang dapat menandingi bahkan melampui negara-negara besar.
Umat akan memiliki kekuatan militer raksasa serta pengaruh geopolitik yang luar biasa. Letak negeri muslim yang strategis secara geopolitik seperti Selat Hormuz, terutama Suez dan Selat Malaka dapat dimainkan untuk menekan dunia agar tunduk kepada umat.
Akan tetapi, pemersatuan ini tidak mungkin terwujud tanpa tegaknya Khilafah Islamiyah. Hanya institusi Khilafah yang dapat menyatukan seluruh wilayah Islam di dunia. Khilafah juga yang sangup melindungi seluruh negeri muslim. Kita wajib bersatu dalam ukhuwah islamiyah di bawah panji kepemimpinan Islam global (Khilafah).[]
Oleh: Arbiah
(Aktivis Muslimah)