Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Demiliterisasi: Skema Barat Melumpuh Perlawanan Gaza

Rabu, 22 April 2026 | 06:31 WIB Last Updated 2026-04-21T23:31:46Z

Tintasiyasi.id.com -- Wacana perdamaian Gaza kembali digulirkan Barat dengan syarat yang problematis: Hamas harus melucuti senjata. Seperti dilansir antaranews, Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) disebut mendesak Hamas agar segera menyelesaikan rancangan kesepakatan demiliterisasi Jalur Gaza secepatnya (antaranews.com, 7 April 2026).

Hamas dengan tegas menolak tuntutan tersebut. Pelucutan senjata dipandang sebagai ancaman nyata terhadap eksistensi perjuangan rakyat Gaza. Dalam situasi penjajahan yang masih berlangsung, senjata bukan sekadar alat tempur, tetapi simbol dan sarana mempertahankan diri. 

Melepasnya berarti membuka pintu bagi penindasan yang lebih luas.
Gencatan Senjata yang Dikhianati
Fakta di lapangan menunjukkan ironi yang menyakitkan. Kesepakatan gencatan senjata yang telah diumumkan tidak menghentikan agresi. Serangan dari pihak Zionis terus terjadi, bahkan menelan korban sipil hingga hari ini. 

Di tengah pelanggaran yang nyata, dunia internasional tampak abai, tanpa tindakan tegas yang berarti.
Dalam kondisi seperti ini, tuntutan pelucutan senjata menjadi tidak masuk akal. Bagaimana mungkin pihak yang terus diserang diminta untuk melemahkan diri, sementara pelaku agresi dibiarkan tanpa konsekuensi? Ini bukan perdamaian, melainkan pemaksaan kehendak.

Barat Bukan Mediator Netral
Peran Barat dalam konflik ini jelas tidak bisa diposisikan sebagai mediator netral. Berbagai skema yang ditawarkan justru mencerminkan kepentingan geopolitik global yang berpihak. 

Perdamaian yang diusung bukanlah untuk menegakkan keadilan, tetapi untuk menjaga stabilitas yang menguntungkan kekuatan besar dan sekutunya. Desakan demiliterisasi adalah bagian dari jebakan tersebut. Dengan melucuti kekuatan perlawanan, Barat pada dasarnya sedang memastikan bahwa tidak ada lagi kekuatan yang mampu menantang dominasi dan penjajahan di Palestina. 

Ini adalah strategi klasik: melemahkan lawan, lalu mengendalikan keadaan atas nama perdamaian.

Perang Narasi: Mengubah Cara Pandang Umat

Pelucutan senjata juga merupakan bagian dari serangan pemikiran. Narasi global dibangun untuk menggiring opini bahwa perlawanan adalah ancaman, sementara menyerah dianggap sebagai langkah bijak. Ini adalah upaya sistematis untuk membalikkan makna perjuangan.

Ketika umat mulai menerima bahwa perlawanan harus dihentikan, maka sesungguhnya mereka telah kalah sebelum bertempur. Inilah bentuk penjajahan modern—tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga cara berpikir. 

Musuh tidak lagi sekadar menyerang secara fisik, tetapi juga membentuk persepsi agar penindasan diterima sebagai keniscayaan.

Khilafah: Jalan Pembebasan yang Terabaikan

Berulangnya kegagalan solusi diplomasi menunjukkan satu hal: akar persoalan tidak pernah benar-benar diselesaikan. Palestina bukan sekadar konflik politik, melainkan tanah yang terjajah dan wajib dibebaskan.

Dalam perspektif ini, solusi tidak cukup melalui negosiasi yang timpang. Diperlukan kekuatan riil yang mampu menghentikan penjajahan. Khilafah, sebagai institusi politik umat Islam, dipandang sebagai satu-satunya kekuatan yang memiliki legitimasi dan kapasitas untuk menggerakkan potensi militer dunia Muslim secara terpusat.

Dengan persatuan di bawah satu kepemimpinan, negeri-negeri Muslim tidak lagi terpecah. Kekuatan militer yang besar dapat digerakkan untuk mengusir penjajah Zionis dari bumi Palestina, bukan sekadar menegosiasikan batas-batas penderitaan.

Dalam Islam, pemimpin (khalifah) bukan sekadar administrator, tetapi raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung). Ia bertanggung jawab menjaga nyawa, kehormatan, dan keamanan umat. Dalam kerangka ini, pembiaran terhadap penderitaan Gaza bukanlah pilihan.

Kehadiran kepemimpinan semacam ini akan mengubah posisi umat dari objek tekanan menjadi subjek yang menentukan arah sejarahnya sendiri. Tanpa itu, umat akan terus berada dalam lingkaran ketergantungan dan kelemahan.

Pada akhirnya, perubahan tidak akan terjadi tanpa kesadaran. Umat harus memahami bahwa solusi yang ditawarkan hari ini bukanlah jalan keluar, melainkan bagian dari masalah. Kesadaran ini tidak lahir secara instan, tetapi melalui dakwah ideologis yang konsisten.

Membangun kembali cara pandang umat tentang perjuangan, kepemimpinan, dan persatuan adalah langkah awal menuju perubahan hakiki. Tanpa itu, setiap tragedi hanya akan berulang dalam bentuk yang berbeda.[]

Oleh: Noor Hidayah
(Aktivis Muslimah)


Opini

×
Berita Terbaru Update