TintaSiyasi.id -- Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran membuka tabir peta kekuatan global. Selama ini, dunia terlanjur percaya bahwa AS dan sekutunya, termasuk Israel, adalah kekuatan tak tertandingi. Namun realitas di lapangan menunjukkan narasi tersebut tidak sepenuhnya kokoh. Konflik ini menghadirkan pelajaran penting: satu negeri Muslim saja mampu memberi perlawanan signifikan, apalagi jika negeri-negeri Islam bersatu dalam satu barisan.
Sejumlah fakta menunjukkan bahwa AS tidak dengan mudah menundukkan Iran. Iran bahkan menolak proposal gencatan senjata sementara dari AS dan memilih mendorong kesepakatan yang lebih permanen (Kompas.com, 7/04/2026).
Sebelumnya, Iran juga menolak usulan gencatan senjata 48 jam di tengah eskalasi konflik (Liputan6.com, 6/04/2026). Di medan militer, Iran mengklaim berhasil melumpuhkan sejumlah aset udara AS-Israel, termasuk jet tempur dan drone (Asatu News, 7/04/2026). Sementara itu, dinamika terbaru menunjukkan situasi tetap tegang: penyitaan kapal oleh AS memicu ketidakpastian perundingan damai (Reuters, 20/04/2026), bahkan pejabat Iran menegaskan perang dapat kembali pecah kapan saja.
Fakta-fakta ini memperlihatkan bahwa konflik tidak berjalan dalam skenario kemenangan cepat dan mutlak bagi kekuatan besar.
Dari rangkaian peristiwa tersebut terlihat bahwa mitos tentang superpower yang tak tersentuh mulai retak. Ketika berhadapan dengan Iran yang tidak berada dalam payung aliansi militer global besar, dominasi Barat memiliki batas nyata. Ketahanan, kemandirian strategi, serta keberanian politik untuk tidak tunduk menjadi faktor penting yang mampu menahan tekanan kekuatan global.
Pada saat yang sama, konflik ini memperlihatkan watak politik internasional yang berbasis kepentingan. Aliansi tidak bersifat permanen dan tidak selalu berujung pada solidaritas nyata. Ketergantungan pada perlindungan pihak luar justru menunjukkan kerentanan, bukan kekuatan. Dalam konteks ini, kemandirian menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap negeri yang ingin menjaga kedaulatannya.
Ironisnya, kelemahan terbesar dunia Islam justru terletak pada kondisi internalnya yang terfragmentasi. Di tengah potensi besar—sumber daya alam, posisi geografis strategis, dan jumlah populasi—tidak adanya kesatuan politik membuat potensi tersebut kehilangan daya ungkit. Ketika sebagian penguasa lebih memilih selaras dengan kepentingan asing, kekuatan kolektif umat tidak pernah benar-benar terhimpun.
Karena itu, pelajaran paling mendasar dari konflik ini bukan sekadar tentang perang, melainkan pentingnya kesatuan. Jika satu negeri saja mampu bertahan dan mengguncang narasi besar kekuatan dunia, maka persatuan negeri-negeri Muslim akan menjadi kekuatan yang jauh lebih menentukan. Solusi atas persoalan ini harus berangkat dari kesadaran bahwa keterpecahan negeri-negeri Muslim adalah akar kelemahan.
Selama umat terkungkung dalam batas nasionalisme sempit dan kepentingan rezim, potensi besar tidak pernah berubah menjadi kekuatan nyata. Allah berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. Ali Imran: 103). Ayat ini menegaskan bahwa persatuan umat bukan pilihan, tetapi perintah yang harus diwujudkan, termasuk dalam aspek politik.
Persatuan tersebut tidak akan kokoh tanpa institusi yang mengikatnya. Dalam perspektif Islam, hal ini terwujud dalam kepemimpinan umum bagi kaum Muslim. Nabi ﷺ bersabda,
“Barang siapa mati dalam keadaan tidak memiliki baiat di pundaknya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah” (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan pentingnya keberadaan kepemimpinan yang sah bagi umat. Dengan institusi ini, potensi umat akan terkonsolidasi menjadi kekuatan yang mampu menghadapi dominasi global.
Keberadaan kepemimpinan ini juga menjadi jalan untuk mengakhiri penderitaan negeri-negeri Muslim yang selama ini terjerat konflik dan intervensi asing. Pengelolaan urusan umat tidak lagi tunduk pada tekanan luar, tetapi diarahkan untuk kemaslahatan rakyat. Allah berfirman, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas” (QS. Al-Baqarah: 190).
Lebih luas, kesatuan ini tidak hanya berdampak bagi internal umat, tetapi juga membawa misi rahmat bagi seluruh manusia. Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam adalah perisai, di belakangnya umat berperang dan berlindung” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam berfungsi sebagai pelindung umat.
Pada akhirnya, retaknya mitos superpower dari konflik Iran menjadi momentum refleksi bagi dunia Islam. Kekuatan besar ternyata tidak absolut, sementara potensi umat begitu besar namun tercerai-berai. Jika satu negeri saja mampu mengguncang dominasi global, maka persatuan umat akan menjadi kekuatan yang jauh lebih menentukan. Inilah saatnya dunia Islam bangkit menuju kesatuan yang hakiki.
Wallahu’alam.
Oleh: Tuty Prihatini
Aktivis Muslimah Banua