Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bangkit dari Tidur Panjang: Seruan Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 25 April 2026 | 14:16 WIB Last Updated 2026-04-25T07:16:40Z
TintaSiyasi.id -- Ada masa ketika umat ini menjadi cahaya dunia. Dari masjid-masjid lahir ilmu, dari hati-hati yang tunduk lahir peradaban. Dunia belajar dari Islam tentang ilmu, adab, keadilan, dan kemanusiaan. Namun hari ini, kita harus jujur bertanya:

Apa yang terjadi dengan umat ini?

Mengapa kita yang dahulu memimpin, kini tertinggal?
Mengapa kita yang dahulu memberi cahaya, kini justru mencari-cari cahaya dari arah lain?

Tidur yang Panjang Itu Bernama Lalai

Tidur umat Islam bukanlah tidur jasad, tetapi tidur kesadaran.

Kita masih shalat, tetapi belum menghadirkan ruhnya.
Kita masih membaca Al-Qur’an, tetapi belum menjadikannya sebagai sistem hidup.
Kita masih bangga sebagai Muslim, tetapi belum siap berjuang sebagai Muslim sejati.

Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai ghaflah (kelalaian) yaitu penyakit hati yang mematikan peradaban.

Ketika hati lalai, maka:

Ilmu kehilangan arah

Amal kehilangan keikhlasan

Hidup kehilangan makna

Kebangkitan Tidak Dimulai dari Luar, Tetapi dari Dalam

Perubahan umat tidak dimulai dari sistem, politik atau kekuatan ekonomi semata. Semua itu penting, tetapi bukan akar.

Akar kebangkitan adalah hati.

Ketika hati kembali hidup:

Shalat menjadi kekuatan, bukan sekadar rutinitas

Ilmu menjadi cahaya, bukan sekadar informasi

Dakwah menjadi gerakan, bukan sekadar wacana

Allah telah memberikan hukum yang pasti:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

Maka, kebangkitan adalah proyek ruhani sekaligus peradaban.

Dari Individu Menuju Peradaban

Peradaban besar tidak lahir dari orang-orang biasa. Ia lahir dari pribadi-pribadi yang:

Bertauhid kuat (tidak bergantung kecuali kepada Allah)

Berilmu dalam (menguasai agama dan dunia)

Berakhlak mulia (jujur, amanah, dan beradab)

Berjuang tanpa lelah (tidak menyerah pada keadaan)

Inilah generasi yang dahulu melahirkan kejayaan.

Mereka tidak menunggu perubahan, tetapi
mereka adalah perubahan itu sendiri.

Tiga Pilar Kebangkitan Umat

Untuk bangkit kembali, umat Islam harus kembali kepada tiga pilar utama:

1. Iman yang Hidup

Bukan sekadar keyakinan di lisan, tetapi energi yang menggerakkan kehidupan.

2. Ilmu yang Mencerahkan

Menggabungkan wahyu dan akal, dunia dan akhirat, masjid dan peradaban.

3. Amal yang Nyata

Bekerja, berkarya, berdakwah, dan memberi manfaat bagi umat manusia.

Tanpa tiga ini, kebangkitan hanya akan menjadi slogan.

Jangan Tunggu Semua Orang Bangun

Kesalahan terbesar adalah menunggu umat berubah secara kolektif.

Tidak.

Kebangkitan selalu dimulai dari segelintir orang yang sadar lebih dulu.

Sejarah membuktikan:

Perubahan besar dimulai dari satu jiwa yang yakin

Dari satu hati yang hidup

Dari satu langkah yang berani

Seruan untuk Bangkit

Wahai umat Islam…

Bangunlah dari tidur panjangmu.
Bangkitlah dari kelalaianmu.
Kembalilah kepada Rabb-mu dengan kesungguhan.

Jangan hanya menjadi penonton sejarah, tetapi
jadilah pelaku sejarah.

Karena masa depan Islam tidak ditentukan oleh masa lalu, tetapi oleh apa yang kita lakukan hari ini.

“Bangkit dari Tidur Panjang!”

Umat Islam, Saatnya Kembali Membangun Peradaba

Jangan hanya bangga sebagai Muslim

Jadilah Muslim yang membangun

Hidupkan iman, kuasai ilmu, dan bergeraklah!

Closing:  Peradaban besar dimulai dari satu hati yang terbangun.

Visual yang Disarankan:

Siluet umat yang bangkit dari gelap menuju cahaya

Masjid bercahaya di latar belakang

Nuansa emas (kejayaan) dan gelap (keterpurukan) yang kontras

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo
22 april 2026 The alana hotel malioboro Jogjakarta

Opini

×
Berita Terbaru Update