Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Zuhud Ideologis-Sufistik: Menjadi Musafir Ilahi di Tengah Gemerlap Dunia

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:51 WIB Last Updated 2026-03-31T14:52:03Z
TintaSiyasi.id -- Mukadimah: Seruan untuk Jiwa yang Lelah

Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi, manusia modern kehilangan satu hal paling berharga: arah pulang. Kita sibuk membangun dunia, namun lupa membangun jiwa. Kita mengejar pencapaian, namun lalai menyiapkan perjumpaan dengan Tuhan.

Dalam kondisi inilah, suara kenabian kembali menggema, melalui sabda Rasulullah ﷺ kepada sahabat mulia Abdullah bin Umar:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
Ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi ideologi hidup seorang mukmin—sebuah paradigma sufistik yang mengubah cara pandang terhadap dunia, waktu, dan tujuan hidup.

1. Dunia dalam Perspektif Tauhid: Fana yang Menipu

Al-Qur’an mengingatkan:
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba dalam harta dan anak…” (QS. Al-Hadid: 20)
Dunia bukanlah musuh, tetapi ujian. Ia bukan tujuan, melainkan jembatan. Namun banyak manusia tertipu—mengira jembatan sebagai rumah.
Dalam kacamata sufistik:
• Dunia adalah bayangan yang akan hilang
• Dunia adalah ladang, bukan hasil panen
• Dunia adalah perjalanan, bukan tujuan akhir
Maka zuhud bukanlah membenci dunia, tetapi membebaskan hati dari perbudakan dunia.

2. Memendekkan Angan: Revolusi Kesadaran Waktu

Perkataan emas Abdullah bin Umar:
“Jika engkau di pagi hari, jangan menunggu sore. Jika di sore hari, jangan menunggu pagi.”
Ini adalah revolusi cara pandang terhadap waktu.
Manusia lalai karena merasa:
• Waktu masih panjang
• Kesempatan masih banyak
• Taubat bisa ditunda
Padahal:
• Kematian datang tanpa pemberitahuan
• Umur adalah misteri
• Setiap detik adalah bagian dari hisab
Dalam perspektif sufistik, waktu adalah:
“Nafas yang tidak akan kembali.”
Setiap hembusan nafas adalah amanah. Jika tidak digunakan untuk Allah, ia akan menjadi penyesalan.

3. Hakikat Zuhud: Kemerdekaan Hati

Zuhud sering disalahpahami sebagai kemiskinan atau meninggalkan dunia. Padahal hakikatnya jauh lebih dalam.
Menurut para ulama seperti Sufyan Ats-Tsauri:
“Zuhud bukan dengan mengharamkan yang halal, tetapi dengan tidak bergantung pada dunia.”
Zuhud adalah:
• Kaya tanpa kesombongan
• Miskin tanpa kehinaan
• Memiliki tanpa dimiliki
Hati seorang zahid:
• Tidak bergembira berlebihan saat mendapat dunia
• Tidak berduka berlebihan saat kehilangan dunia
Karena ia tahu:
Semua hanyalah titipan, bukan kepemilikan.

4. Kesadaran Kubur: Titik Balik Kehidupan

Rasulullah ﷺ bersabda agar kita:
“Mempersiapkan diri di tengah penghuni kubur.”
Kubur bukan akhir, tetapi gerbang awal kehidupan sejati.
Dalam tradisi sufistik, mengingat kematian (dzikrul maut) adalah latihan ruhani yang:
• Melunakkan hati yang keras
• Menghancurkan kesombongan
• Menumbuhkan keikhlasan
Orang yang sadar kubur:
• Tidak menunda amal
• Tidak sombong dengan jabatan
• Tidak tertipu oleh pujian manusia
Karena ia tahu:
Tanah akan meratakan semua perbedaan.

5. Jalan Salaf: Integrasi Ilmu, Amal, dan Hati
Tokoh-tokoh seperti Mujahid bin Jabar hidup dalam kesadaran zuhud yang tinggi.
Mereka tidak lari dari dunia, tetapi:
• Mengelola dunia dengan iman
• Menjalani kehidupan dengan kesederhanaan
• Menjadikan akhirat sebagai orientasi utama
Mereka memahami bahwa:
Ilmu tanpa zuhud melahirkan kesombongan
Zuhud tanpa ilmu melahirkan kesesatan
Maka jalan yang benar adalah integrasi antara syariat dan hakikat.

6. Penyakit Dunia Modern: Ketergantungan dan Kehampaan
Hari ini, manusia mengalami krisis:
• Banyak harta, sedikit ketenangan
• Banyak hiburan, sedikit kebahagiaan
• Banyak koneksi, sedikit kedekatan
Mengapa?
Karena hati terikat pada dunia yang fana.
Karena ruh kehilangan hubungan dengan Allah.
Zuhud hadir sebagai solusi:
• Membebaskan manusia dari kecanduan dunia
• Mengembalikan orientasi hidup kepada akhirat
• Menanamkan ketenangan yang hakiki

7. Praktik Zuhud di Era Modern
Zuhud bukan konsep kuno. Ia sangat relevan hari ini.
Beberapa langkah praktis:
1. Mengatur niat dalam setiap aktivitas
2. Mengurangi ketergantungan pada materi
3. Memperbanyak dzikir dan tafakur
4. Mengingat kematian setiap hari
5. Menghidupkan kesederhanaan dalam gaya hidup
Zuhud bukan berarti mundur dari dunia, tetapi:
Menguasai dunia tanpa diperbudak olehnya.

Penutup: Pulang dengan Hati yang Bersih
Wahai jiwa…
Dunia ini bukan tempat tinggalmu.
Ia hanya persinggahan sementara.
Engkau adalah musafir, dan tujuanmu adalah Allah.
Jangan tertipu oleh gemerlap yang fana.
Jangan terlena oleh kenikmatan sesaat.
Bangunlah sebelum terlambat.
Berjalanlah sebelum waktu habis.
Karena suatu hari nanti, engkau akan kembali…
bukan membawa harta,
bukan membawa jabatan,
tetapi membawa amal dan hati.
“Hari di mana harta dan anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo 

Opini

×
Berita Terbaru Update