Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Yang Lalu Biarlah Berlalu

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:21 WIB Last Updated 2026-03-13T15:21:22Z
TintaSiyasi.id -- Hikmah Sufistik tentang Berdamai dengan Masa Silam
Di antara penyakit hati yang sering menimpa manusia adalah terpenjara oleh masa lalu. Ia terus mengingat kegagalan, menyesali kesalahan, dan meratapi luka yang pernah terjadi. Seolah-olah kehidupan hanya berputar di sekitar kenangan yang telah berlalu.
Padahal, masa lalu itu seperti bayangan senja. Ia pernah ada, tetapi tidak mungkin kembali. Ia telah tenggelam bersama matahari waktu.

Orang yang terus hidup dalam kesedihan masa lalu sama seperti seseorang yang berdiri di tepi sungai sambil menangisi air yang telah mengalir. Tangisannya tidak akan mampu mengembalikan setetes air pun ke tempat asalnya.
Demikian pula kehidupan. Apa yang telah terjadi tidak akan pernah kembali.

Masa Lalu adalah Takdir Allah

Dalam pandangan para arif billah, segala yang telah terjadi adalah takdir Allah yang telah selesai dituliskan. Apa yang luput dari kita tidak akan pernah mengenai kita, dan apa yang telah ditetapkan untuk kita, tidak akan pernah terlepas dari kita.
Oleh karena itu, terlalu larut dalam penyesalan masa lalu menunjukkan bahwa hati belum sepenuhnya rida kepada ketetapan Allah.

Orang yang mengenal Allah dengan baik akan berkata dalam hatinya:
"Ini adalah takdir Allah, dan Allah tidak pernah menakdirkan sesuatu kecuali ada hikmah di dalamnya."
Kesadaran ini akan melahirkan ketenangan. Hati tidak lagi memberontak terhadap masa lalu, tetapi menerima dan mengambil pelajaran darinya.

Penyesalan yang Menghidupkan dan Penyesalan yang Mematikan

Penyesalan tidak selalu buruk. Dalam tasawuf, ada dua jenis penyesalan.
Pertama adalah penyesalan yang menghidupkan hati.
Ini adalah penyesalan yang mendorong seseorang untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Penyesalan seperti ini adalah cahaya karena ia membawa manusia kembali kepada Allah.

Namun, ada pula penyesalan yang mematikan jiwa.
Penyesalan ini hanya berisi kesedihan tanpa perubahan. Ia membuat seseorang terpuruk, kehilangan semangat, dan merasa hidupnya telah berakhir. Penyesalan seperti ini berasal dari bisikan putus asa, bukan dari kesadaran spiritual.

Orang yang bijak akan mengambil pelajaran dari masa lalu, lalu menutup pintunya dengan rapat.

Waktu adalah Amanah

Para ulama sufi sering mengatakan bahwa waktu adalah pedang. Jika manusia tidak menggunakannya dengan baik, maka waktu akan memotong kehidupannya.
Setiap detik yang Allah berikan adalah kesempatan baru untuk mendekat kepada-Nya.

Namun, ketika seseorang menghabiskan waktunya untuk meratapi masa lalu, ia sebenarnya sedang menyia-nyiakan nikmat waktu yang tidak akan pernah kembali.
Hari ini adalah karunia Allah yang baru. Ia bukan kelanjutan dari masa lalu, tetapi lembaran baru kehidupan.
Oleh karena itu, orang yang arif tidak membiarkan hari ini dirusak oleh kenangan kemarin.

Rahasia Orang-Orang yang Dekat dengan Allah
Orang-orang yang dekat dengan Allah memiliki satu rahasia besar. 
Mereka tidak membiarkan masa lalu menguasai hati mereka. Jika masa lalu mereka berisi dosa, mereka segera bertaubat.
Jika masa lalu mereka berisi kegagalan, mereka menjadikannya sebagai pelajaran.
Jika masa lalu mereka berisi luka, mereka menyerahkannya kepada Allah.
Hati mereka selalu hidup dalam tiga kesadaran:
• bersyukur atas nikmat hari ini
• bertaubat atas kesalahan kemarin
• berharap rahmat Allah untuk masa depan
Dengan cara inilah hati menjadi ringan dan jiwa menjadi damai.

Masa Lalu Adalah Guru, Bukan Penjara
Masa lalu seharusnya menjadi guru kehidupan, bukan penjara jiwa.
Ia mengajarkan kebijaksanaan, kedewasaan, dan kerendahan hati. Banyak manusia menjadi lebih dekat kepada Allah justru setelah mengalami kegagalan dan penderitaan. Kadang Allah membiarkan manusia jatuh agar ia menyadari kelemahannya, lalu kembali bersandar kepada-Nya.
Dalam pandangan para sufi, luka kehidupan sering kali adalah jalan menuju kedewasaan spiritual.

Bangkitlah dengan Harapan

Jangan biarkan masa lalu memadamkan cahaya harapan di dalam hati.
Selama manusia masih hidup, pintu rahmat Allah tidak pernah tertutup.

Kesalahan masa lalu dapat dihapus oleh taubat. Kegagalan masa lalu dapat diperbaiki oleh usaha. Luka masa lalu dapat disembuhkan oleh waktu dan kesabaran.

Oleh karena itu, bangkitlah dengan hati yang baru. Biarkan masa lalu menjadi pelajaran yang mendewasakan. Biarkan masa kini menjadi ladang amal, dan biarkan masa depan menjadi tempat harapan kepada Allah.

Penutup: Hiduplah Bersama Allah

Orang yang hidup bersama Allah tidak pernah benar-benar tenggelam dalam masa lalu.
Ia memahami bahwa kehidupan adalah perjalanan menuju-Nya.

Maka, setiap hari baginya adalah kesempatan baru untuk mendekat kepada Sang Pencipta.
Ia tidak sibuk meratapi apa yang telah hilang, tetapi sibuk memanfaatkan apa yang masih Allah berikan.

Dan ketika hati telah belajar berdamai dengan masa lalu, jiwa akan menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu ketenangan yang lahir dari kepercayaan penuh kepada Allah.

Dr Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update