TintaSiyasi.id -- Sering kali manusia hidup di tengah lautan nikmat, namun hatinya tetap merasa kekurangan. Ia melihat apa yang belum dimiliki, tetapi lupa pada apa yang telah Allah karuniakan. Padahal setiap detik kehidupan kita sebenarnya dipenuhi oleh karunia yang tidak terhitung jumlahnya.
Allah mengingatkan manusia dalam firman-Nya:
وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٞ كَفَّارٞ
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).". (QS. Ibrahim: 34).
Ayat ini bukan sekadar ungkapan puitis, tetapi sebuah realitas kehidupan. Nikmat Allah begitu banyak sehingga manusia tidak mungkin mampu menghitungnya satu per satu.
Manusia Hidup di Tengah Lautan Nikmat
Cobalah berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Pejamkan mata dan renungkan kehidupan yang kita jalani.
Kita memiliki:
• tubuh yang sehat
• udara yang kita hirup setiap detik
• air yang kita minum
• makanan yang menguatkan tubuh
• tempat tinggal yang melindungi dari panas dan hujan
• keluarga yang menemani kehidupan
Namun, sering kali semua itu terasa biasa saja karena kita telah terbiasa dengannya.
Padahal Allah telah menegaskan:
أَلَمۡ تَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ وَلَا هُدٗى وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ
"Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (QS. Luqman: 20).
Nikmat lahir berupa kesehatan, rezeki, dan keamanan. Nikmat batin berupa iman, ketenangan hati, dan harapan hidup.
Semua itu diberikan tanpa kita memintanya terlebih dahulu.
Nikmat yang Terlupakan
Manusia sering baru menyadari nikmat ketika nikmat itu hilang. Seseorang baru merasakan betapa berharganya kesehatan ketika ia jatuh sakit.
Seseorang baru menyadari nikmat penglihatan ketika matanya mulai kabur.
Seseorang baru mengerti nikmat kebebasan berjalan ketika kakinya tidak lagi mampu melangkah.
Padahal, setiap hari kita menggunakan dua mata untuk melihat dunia, dua telinga untuk mendengar, dua kaki untuk berjalan, dan dua tangan untuk bekerja.
Allah mengingatkan manusia dengan pertanyaan yang sangat menggugah:
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
(QS. Ar-Rahman: 13).
Pertanyaan ini diulang berkali-kali dalam Surah Ar-Rahman, seakan Allah ingin mengguncang hati manusia agar bangun dari kelalaian.
Ketika Nikmat Terlihat dari Penderitaan Orang Lain
Kadang-kadang Allah memperlihatkan penderitaan orang lain agar kita menyadari betapa besar nikmat yang kita miliki.
Ketika kita tidur nyenyak di malam hari, ada orang yang tidak bisa tidur karena sakit yang menyiksa tubuhnya.
Ketika kita menikmati makanan yang lezat, ada orang yang bahkan tidak mampu menelan makanan karena penyakit yang dideritanya. Ketika kita berjalan dengan ringan, ada orang yang hanya bisa berbaring di tempat tidur rumah sakit.
Saat itu sebenarnya Allah sedang mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran besar: nikmat yang kita miliki bukanlah sesuatu yang sepele. Ia adalah karunia yang sangat berharga.
Syukur: Kunci Kebahagiaan
Dalam pandangan Islam, syukur bukan sekadar ucapan, tetapi sebuah sikap hidup.
Syukur berarti:
• menyadari nikmat Allah
• mengakui bahwa nikmat itu berasal dari-Nya
• menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan
Orang yang bersyukur akan melihat kehidupan dengan cara yang berbeda.
Ia tidak mudah mengeluh karena ia selalu melihat sisi terang kehidupan.
Ia tidak mudah iri kepada orang lain karena ia menyadari bahwa dirinya telah diberi banyak karunia.
Dan yang paling penting, Allah telah menjanjikan sesuatu yang luar biasa bagi orang yang bersyukur:
"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu."
(QS. Ibrahim: 7).
Syukur bukan hanya mendatangkan ketenangan hati, tetapi juga menarik datangnya nikmat baru dari Allah.
Belajar Melihat Nikmat dalam Hal-Hal Sederhana
Kebahagiaan sejati sering tersembunyi dalam hal-hal yang sederhana.
• napas yang kita hirup
• senyuman orang yang kita cintai
• cahaya matahari di pagi hari
• suara adzan yang memanggil kita kepada Allah
Semua itu adalah tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Orang yang hatinya hidup akan melihat setiap detik kehidupan sebagai anugerah yang luar biasa.
Penutup: Bangunlah Kesadaran Syukur
Mari sejenak kita merenung.
Berapa banyak nikmat Allah yang telah kita gunakan hari ini?
Berapa banyak nikmat yang kita syukuri?
Dan berapa banyak nikmat yang kita abaikan seolah-olah ia bukan karunia dari Tuhan?
Sesungguhnya manusia tidak pernah benar-benar miskin selama ia masih memiliki:
• iman di dalam hati
• kesehatan dalam tubuh
• dan kesempatan untuk beribadah kepada Allah.
Oleh karena itu, sebelum tidur malam ini, cobalah berhenti sejenak dan katakan dalam hati:
"Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas nikmat yang tak terhitung yang Engkau berikan kepadaku."
Ketika hati dipenuhi syukur, hidup tidak lagi terasa sempit. Dunia menjadi lebih terang, dan jiwa menjadi lebih damai.
Sebab orang yang bersyukur sebenarnya sedang belajar melihat keindahan kasih sayang Allah dalam setiap detik kehidupannya.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo