“Syeikh Yasin bin Ali, beliau
punya kitab berjudul Min Ahkamil Amri Bilmakruf wa Nahyil Munkar,
seorang ulama hadis dari Universitas Zaitunniah di Tunisia mengatakan jika hari
ini kita bukan berada di zaman fitnah tapi di zaman yang di dalamnya ada
fitnah”, ujarnya di saluran YouTube Institut Muslimah Negarawan berjudul
Perang Iran: Antara Geopolitik Negeri-Negeri Teluk dan Fitnah Akhir Zaman,
Selasa (10/03/2026).
Ia mencontohkan, kutipan dari kitab
hadis Jami’ At-Tirmidhi, yakni merujuk kepada hadis-hadis Nabi yang
berbicara tentang fitnah-fitnah besar yang terjadi pada umat khususnya
menjelang akhir zaman manusia.
“Manusia diuji dengan ujian yang
sangat besar terhadap agama yang secara umumnya membahas kerusakan akhlak,
perubahan sosial politik umat, konflik peperangan antara kaum Muslim. Munculnya
tokoh-tokoh akhir zaman, ada Dajjal, Al-Mahdi, Nabi Isa, Yakjuj Makjuj gitu”,
tuturnya.
Menurutnya, pemetaan yang benar
dalam pembahasan hadis-hadis akhir zaman ini akan dapat menghindari hal-hal
yang sangat abstrak dan wujudnya optimisme untuk melandasi aktiviti umat hingga
umat berhasil meraih kepemipinan geopolitik hari ini.
“Hadis-hadis akhir zaman itu
sesungguhnya mesti dipetakan sangat tepat agar menjadi navigasi umat tadi
sebagai acuan dalam meraih kepimpinan geopolitik umat hari ini dan ke depan”,
tuturnya.
Ia melanjutkan bahwa di dalam
hadis sahih disebutkan bahwa pada zaman berlakunya fitnah (zamanul fitan).
“Sikap menahan diri dan tidak terlibat dalam fitnah adalah lebih baik daripada
terjun di dalamnya. Berbagai ujian, kekacauan, penyimpangan di masyakarat yaitu
fitnah besar yang membingungkan akan terjadi. Kebenaran dan kebatilan bercampur
dan terjadi pertumpahan darah sehingga sulit mengetahui mana pihak yang benar
dan sebaliknya,” bebernya.
“Ketika terjadi zaman fitnah itu
banyak disebutkan kita dituntut untuk menjaga iman, agama, menjauhi konfilik,
kemudian memperbanyak ibadah, berdiamnya di rumah. Itu zaman fitnah seperti
Nabi mengatakan duduk itu lebih baik dari berdiri, berdiri itu lebih baik dari
berjalan,” ungkapnya.
“Jadi statis gitu. Enggak boleh
ke mana-mana. Itu di situasi yang kekacauannya sangat luar biasa, Jadi enggak
usah ikut campur. Itu hadis sahih riwayat Bukhari Muslim,” jelasnya.
Namun, ia mengatakan hal itu
berbeda dengan kondisi yang dihadapi hari ini, yaitu zaman di dalamnya ada
fitnah (fihi alfitan).
Menurutnya, sikap yang benar
dalam kondisi ini bukanlah menjauhi tetapi melakukan upaya seperti yang
diperintahkan oleh Allah dan Rasul saw..
“Ketika zaman fihi alfitan,
umat masih bisa membedakan mana benar dan mana yang salah. Maka, sikap yang
benar adalah bukan menjauhi, tapi melenyapkan kebatilan dan menegakkan
kebenaran,” lanjutnya.
Bukan diam, Ustaz Yuana
menyatakan untuk menegakkan kebenaran, melenyapkan kebatilan, amar makruf nahi
mungkar, menyebarkan ilmu meluruskan pemikiran yang salah, muhasabatul
hukkam, sabar dalam dakwah
“Kalau kita lihat peta navigasi
umat itu hari ini, kita ada di zaman yang di dalamnya banyak fitnah, belum
masuk ke zamanul fitan, zaman fitnah belum”, tuturnya.
“Harus kita cermat di mana zamanul
fitan, mana yang zaman fihi alfitan. Itu dua hal yang berbeda karena
perintah Nabi pada dua hal ini juga berbeda,” pungkasnya.[] Rahmah