Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Navigasi Peta Umat: Hari Ini Bukan Berada di Zaman Fitnah tetapi Zaman di Dalamnya Ada Fitnah

Selasa, 17 Maret 2026 | 04:19 WIB Last Updated 2026-03-16T21:19:00Z

TintaSiyasi.id -- Dalam menanggapi hadis-hadis tentang akhir zaman, Mudir Ma’had Khadimussunnah Ustaz Yuana Ryan Tresna, M.Ag. mengutip syarah hadis yang menyebutkan bahwa saat ini adalah zaman fihi alfitan, bukan zamanul fitan.

 

“Syeikh Yasin bin Ali, beliau punya kitab berjudul Min Ahkamil Amri Bilmakruf wa Nahyil Munkar, seorang ulama hadis dari Universitas Zaitunniah di Tunisia mengatakan jika hari ini kita bukan berada di zaman fitnah tapi di zaman yang di dalamnya ada fitnah”, ujarnya di saluran YouTube Institut Muslimah Negarawan berjudul Perang Iran: Antara Geopolitik Negeri-Negeri Teluk dan Fitnah Akhir Zaman, Selasa (10/03/2026).

 

Ia mencontohkan, kutipan dari kitab hadis Jami’ At-Tirmidhi, yakni merujuk kepada hadis-hadis Nabi yang berbicara tentang fitnah-fitnah besar yang terjadi pada umat khususnya menjelang akhir zaman manusia.

 

“Manusia diuji dengan ujian yang sangat besar terhadap agama yang secara umumnya membahas kerusakan akhlak, perubahan sosial politik umat, konflik peperangan antara kaum Muslim. Munculnya tokoh-tokoh akhir zaman, ada Dajjal, Al-Mahdi, Nabi Isa, Yakjuj Makjuj gitu”, tuturnya.

 

Menurutnya, pemetaan yang benar dalam pembahasan hadis-hadis akhir zaman ini akan dapat menghindari hal-hal yang sangat abstrak dan wujudnya optimisme untuk melandasi aktiviti umat hingga umat berhasil meraih kepemipinan geopolitik hari ini.

 

“Hadis-hadis akhir zaman itu sesungguhnya mesti dipetakan sangat tepat agar menjadi navigasi umat tadi sebagai acuan dalam meraih kepimpinan geopolitik umat hari ini dan ke depan”, tuturnya.

 

Ia melanjutkan bahwa di dalam hadis sahih disebutkan bahwa pada zaman berlakunya fitnah (zamanul fitan). “Sikap menahan diri dan tidak terlibat dalam fitnah adalah lebih baik daripada terjun di dalamnya. Berbagai ujian, kekacauan, penyimpangan di masyakarat yaitu fitnah besar yang membingungkan akan terjadi. Kebenaran dan kebatilan bercampur dan terjadi pertumpahan darah sehingga sulit mengetahui mana pihak yang benar dan sebaliknya,” bebernya.

 

“Ketika terjadi zaman fitnah itu banyak disebutkan kita dituntut untuk menjaga iman, agama, menjauhi konfilik, kemudian memperbanyak ibadah, berdiamnya di rumah. Itu zaman fitnah seperti Nabi mengatakan duduk itu lebih baik dari berdiri, berdiri itu lebih baik dari berjalan,” ungkapnya.

 

“Jadi statis gitu. Enggak boleh ke mana-mana. Itu di situasi yang kekacauannya sangat luar biasa, Jadi enggak usah ikut campur. Itu hadis sahih riwayat Bukhari Muslim,” jelasnya.

 

Namun, ia mengatakan hal itu berbeda dengan kondisi yang dihadapi hari ini, yaitu zaman di dalamnya ada fitnah (fihi alfitan).

 

Menurutnya, sikap yang benar dalam kondisi ini bukanlah menjauhi tetapi melakukan upaya seperti yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul saw..

 

“Ketika zaman fihi alfitan, umat masih bisa membedakan mana benar dan mana yang salah. Maka, sikap yang benar adalah bukan menjauhi, tapi melenyapkan kebatilan dan menegakkan kebenaran,” lanjutnya.

 

Bukan diam, Ustaz Yuana menyatakan untuk menegakkan kebenaran, melenyapkan kebatilan, amar makruf nahi mungkar, menyebarkan ilmu meluruskan pemikiran yang salah, muhasabatul hukkam, sabar dalam dakwah

 

“Kalau kita lihat peta navigasi umat itu hari ini, kita ada di zaman yang di dalamnya banyak fitnah, belum masuk ke zamanul fitan, zaman fitnah belum”, tuturnya.

 

“Harus kita cermat di mana zamanul fitan, mana yang zaman fihi alfitan. Itu dua hal yang berbeda karena perintah Nabi pada dua hal ini juga berbeda,” pungkasnya.[] Rahmah

Opini

×
Berita Terbaru Update