TintaSiyasi.id -- Peristiwa tragis kembali terjadi di Ponorogo, Jawa Timur. Seorang pelajar SMP dilaporkan tewas setelah petasan yang sedang dirakit untuk balon udara meledak hebat. Dua remaja lainnya mengalami luka bakar serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Ledakan tersebut terjadi ketika sejumlah remaja berkumpul untuk merakit bahan petasan yang rencananya akan dipasang pada balon udara. (suarajatim.id, 2-3-2026)
Berdasarkan informasi awal, ledakan kuat tersebut diduga dipicu oleh percikan api dari rokok yang mengenai bahan peledak rakitan. Campuran bahan petasan yang sensitif membuat percikan kecil saja dapat memicu ledakan besar dalam waktu singkat. Akibatnya, satu pelajar meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka parah, sementara dua korban lainnya mengalami luka bakar cukup luas di beberapa bagian tubuh dan harus mendapatkan penanganan intensif dari tim medis. (suarajatim.id, 2-3-2026)
Warga setempat menyebut bahwa lokasi tersebut memang kerap dijadikan tempat berkumpul anak-anak muda untuk merakit petasan yang akan diterbangkan bersama balon udara, terutama menjelang momen tertentu. Meski aktivitas tersebut sudah sering diperingatkan karena sangat berbahaya, praktik ini tetap saja terjadi dari waktu ke waktu. Aparat kepolisian pun melakukan penyelidikan di lokasi kejadian serta mengimbau masyarakat agar tidak merakit petasan sendiri karena risikonya sangat tinggi dan dapat membahayakan nyawa. (suarajatim.id, 2-3-2026)
Fenomena balon udara berpetasan memang bukan hal baru di sejumlah daerah di Jawa Timur. Tradisi ini kerap muncul dan bahkan dianggap sebagai hiburan oleh sebagian kalangan. Padahal selain membahayakan pembuatnya, balon udara yang dilengkapi petasan juga berpotensi menyebabkan kebakaran serta mengancam keselamatan penerbangan. Fakta bahwa aktivitas berbahaya ini masih terus terjadi menunjukkan bahwa persoalan yang ada tidak sekadar pada tindakan individu semata, tetapi juga berkaitan dengan lemahnya pengawasan dan pembinaan terhadap generasi muda.
Tragedi ini menjadi cermin bahwa pembinaan generasi dalam sistem kehidupan hari ini masih memiliki banyak celah. Remaja yang seharusnya berada dalam proses pembentukan kepribadian justru sering kali tumbuh tanpa arah aktivitas yang jelas. Minimnya pengawasan, lemahnya pembinaan nilai tanggung jawab, serta lingkungan sosial yang tidak kondusif membuat sebagian remaja mudah terjerumus pada aktivitas berisiko yang dapat membahayakan diri mereka sendiri maupun orang lain.
Dalam sistem kehidupan sekuler saat ini, pendidikan sering kali hanya difokuskan pada aspek akademik semata. Sementara itu, pembentukan kepribadian, penguatan nilai moral, serta kesadaran akan tanggung jawab terhadap keselamatan diri dan masyarakat tidak selalu menjadi prioritas utama. Akibatnya, banyak generasi muda yang tumbuh tanpa pemahaman yang kuat tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
Islam memandang bahwa pembinaan generasi merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan negara. Orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik serta menjaga anak-anaknya dari berbagai perilaku yang dapat membahayakan diri mereka. Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (TQS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga dan membina generasi bukan sekadar urusan pribadi, tetapi merupakan kewajiban yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Orang tua tidak hanya berkewajiban memberikan nafkah, tetapi juga memastikan anak-anak mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman serta memiliki pemahaman yang benar tentang nilai kehidupan.
Di sisi lain, negara juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan masyarakat serta membina generasi agar tumbuh dengan kepribadian yang kuat. Dalam Islam, negara tidak sekadar berfungsi sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pengurus rakyat yang memastikan terbentuknya lingkungan sosial yang kondusif bagi lahirnya generasi yang bertakwa, bertanggung jawab, dan jauh dari aktivitas yang membahayakan.
Karena itu, tragedi di Ponorogo seharusnya tidak sekadar dipandang sebagai kecelakaan semata. Peristiwa ini merupakan peringatan keras bahwa pembinaan generasi tidak boleh diabaikan. Tanpa sistem pendidikan dan pengawasan yang kuat, berbagai tragedi serupa sangat mungkin terus terulang.
Sudah saatnya masyarakat menyadari bahwa keselamatan generasi tidak cukup hanya dengan imbauan sesaat. Dibutuhkan pembinaan yang menyeluruh yang menanamkan nilai tanggung jawab, kesadaran akan keselamatan, serta pemahaman tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan benar. Dengan pembinaan generasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat serta mampu menjaga diri dari aktivitas yang membahayakan dan merugikan masyarakat.[]
Sera Alfi Hayunda
(Aktivis Muslimah)