Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kekerasan Makin Makar, Dampak Liberalisasi Pergaulan

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:59 WIB Last Updated 2026-03-11T09:00:21Z
Tintasiyasi.id.com -- "Cinta ditolak kapak bertindak" kalimat yang cocok untuk mengambarkan kasus yang hangat diperbincangkan dan viral akhir-akhir ini.

Seorang mahasiswi menjadi korban pembacokan di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Kamis pagi, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB. Korban dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka berat di bagian kepala. 

Peristiwa penganiayaan terjadi di Lantai 2 Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Jalan Soebrantas, Kota Pekan baru. Seorang mahasiswi Faradilla Ayu dibacok mahasiswa berinisial RM. Aksi brutal ini berlangsung saat korban akan mengikuti seminar proposal (MetroTV, 26/02/2026).

Motif diduga terkait persoalan pribadi setelah penolakan cinta saat keduanya mengikuti KKN, yang berujung pada aksi penyerangan di kampus. 

Pelaku, Reyhan Mufazar (22), diketahui menyimpan perasaan terhadap korban sejak keduanya mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam satu kelompok yang sama.

Pergaulan Ala liberalisasi Merusak Generasi

Ada apa dibalik kasus pembacokan ini? apa yg melatarbelakangi sehinga pelaku begitu berani melakukan tindakan kekerasan kepada korban? Mari kita bongkar dengan setajam silet.

Pertama: Pendidikan Sekuler melahirkan perilaku pemuda yang dekat dengan aktivitas kekerasan, pembunuhan dan pergaulan bebas menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekuler membentuk generasi berkepribadian mulia. 

Karena pendidikan ini didasari pemisahan agama dari pendidikan sehingga generasi tidak tertanam rasa takut kepada Allah Swt. Walhasil generasi secara bebas melakukan kemaksiatan sekalipun pada tindakan kekerasan.

Sehingga tindakan kebebasan, kriminal hingga tindakan kekerasan menjadi prilaku yang wajar. Pusiknas Polri mencatat sekitar 14.000 anak muda (di bawah 20 tahun) menjadi terlapor atau terduga pelaku kejahatan sepanjang semester I 2025 (Databoks, 02/09/2025).

Kedua: Sekularisme membentuk standar kebebasan dan bertindak semaunya dalam diri remaja tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.

Sistem ini tegak di atas kebebasan sebagai simbolis sekularisme. Kebebasan berprilaku atau freedom of behavior yang notabane diemban oleh generasi hari ini. Gaya hidup bebas yang difasilitasi oleh negeri hari ini menjadi cerminan begitu rapuhnya generasi hari ini dibawah sekularisme.

Ketiga: Normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya pergaulan bebas (pacaran, perselingkuhan, dan lain-lain) di tengah keluarga dan masyarakat berdampak besar dalam mengubah prilaku yang bertentangan dengan norma agama bahkan berujung pada pembunuhan.

Keempat: Negara dengan sistem kapitalis dinilai kurang memprioritaskan pembinaan generasi, sehingga generasi sering dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi. 

Islam Membentuk Generasi Bertaqwa

Pandangan hidup sekularisme terbukti berbahaya karena menjadikan manusia berbuat mengikuti hawa nafsunya. Hanya sistem yang lahir dari wahyu Allah, yaitu Islam sebagai satu-satunya penyelamat generasi. Tentunya ketika sistem ini diterapkan secara menyeluruh dalam negara.

Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan oleh negeri islam agar membentuk generasi yang bertaqwa diantaranya yaitu:

Pertama: Sistem pendidikan Islam dibangun di atas dasar akidah, dengan tujuan membentuk kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap sesuai nilai syariat). 

Kurikulum pendidikan Islam berdasarkan akidah Islam. Karena itu, seluruh bahan pelajar dan metode pengajaran ditetapkan berdasarkan asas tersebut. Tidak dibolehkan adanya penyimpangan, walaupun sedikit dari ketentuan tersebut.

Strategi pendidikan islam adalah untuk membentuk 'aqliyyah dan nafsiyyah islam. Maka, semua bahan pelajaran yang hendak diajarkan disusun berdasarkan strategi tersebut. Karena tujuan pendidikan adalah untuk membentuk kepribadian islam.

Kedua: generasi dididik untuk memiliki kesadaran untuk taat pada syariat halal-haram, tanggung jawab, dan ketakwaan. Bukan hanya fokus pada capaian akademik atau keterampilan.

Dilingkungan keluarga generasi dididik oleh orang tua, ibu sebagai ummu warro batul ba'it akan mendidik anaknya di dorong dengan ketaqwaan kepada Allah swt.

Ketiga: Masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan dan menentang kemaksiatan sehingga tercipta suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang. Tidak hanya sistem pendidikan yang dibangun atas ketakwaan tetapi masyarakat memiliki perang penting. 

Dilingkungan masyarakat, berfungsi sebagai Support system yang bergerak di tengah-tengah masyarakat untuk menjalankan amar ma'ruf nahi mungkar.

Keempat: Negara Khilafah menerapkan aturan dan sanksi sesuai hukum Islam untuk memberi efek jera dan menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat. Poin ke empat adalah poin yg sangat penting.

Bentuk sanksi dalam islam bisa diklasifikasikan menjadi empat macam yaitu: hudud, jinayah, ta'zir dan mukhalafat. Adapun kasus kekerasan masuk ke dalam bentuk sanksi jinayah. 

Menurut bahasa, jinayah adalah kejahatan sedangkan menurut istilah syara', jinayah adalah tindakanan melanggar anggota tubuh yang menjadi bagian organ yang wajib diqishas dalam bentuk hukuman badan atau harta kekayaan. 

Kejahatan yang masuk dalam wilayah jinayah ini adalah pembunuhan dan tindakan melukai atau mencederai anggota tubuh. Tindakan melukai atau mencederai anggota tubuh, harus diteliti: Jika seseorang menghilangkan organ tubuh tunggal seperti lidah, orang tersebut harus dikenakan diyat 100% seperti pembunuhan. 

Jika menghilangkan organ tubuh gandabseperti tangan atau telinga, maka jika yang dihilangkan adalah salah satu organ saja, dia harus dikenakan diyat 50% dan jika kedua-duanya sekaligus, dia harus dikenakan diyat 100%. 

Sedangkan jika organ tubuh yang dihilangkan berupa pelupuk mata, maka dia harus dikenakan diyat 25% atau jika jari-jari tangan yang dihilangkan maka tiap satu jari dikenakan diyat 10%. Sementara untuk gigi, diyatnya berbeda; jika menghilangkan satu gigi, akan dikenakan 5 ekor unta (Diskursus Islam Politik dan Spiritual, KH. Hafidz Abdurrahman, MA., hlm. 267).

Sistem Islam adalah satu-satunya yang mampu membentuk generasi yang bertaqwa. Generasi yang sholeh dan sholehah, pejuang islam dan menjadi penerus estafet kepemimpinan Islam. 

Oleh karenanya, mari kita sama-sama berjuang untuk mengembalikan kehidupan islam di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Wallahu a'lam bishshowab.[]

Oleh: Arbiah, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update