“Tanpa kekuatan ilmu dan
teknologi, suatu bangsa akan mudah berada dalam posisi lemah dan rentan
terhadap penjajahan,” rilis HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Sabtu (07/03/2026).
Ia pun menyebut bahwa penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor strategis dalam menentukan
posisi suatu bangsa dalam percaturan global.
Hubungan
Dalam dokumen tersebut, HILMI
menyoroti pelajaran penting dari sejarah modern mengenai hubungan antara ilmu
pengetahuan, teknologi, dan kekuasaan global.
“Revolusi ilmiah di Eropa pada
abad ke-17 dan ke-18 melahirkan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Namun
perkembangan tersebut juga menghasilkan kekuatan militer dan ekonomi yang
kemudian digunakan untuk melakukan kolonialisme di berbagai wilayah dunia,”
bebernya.
“Bangsa yang tidak menguasai
sains dan teknologi akan mudah terjajah,” tegasnya.
HILMI menjelaskan bahwa
ketergantungan teknologi sering kali berujung pada ketergantungan ekonomi dan
politik.
“Tanpa kekuatan ilmu dan
teknologi, suatu bangsa akan selalu berada dalam posisi lemah dalam percaturan
global,” paparnya.
Namun HILMI juga mengingatkan
bahwa penguasaan teknologi saja tidak cukup apabila tidak diiringi dengan nilai
moral.
“Sains dan teknologi yang tidak
diatur oleh ajaran Al-Qur’an akan cenderung menjadi alat penjajahan,” ingatnya.
Teknologi modern, lanjutnya,
telah digunakan untuk berbagai bentuk dominasi, mulai dari kolonialisme,
eksploitasi sumber daya alam, hingga penghancuran massal melalui senjata yang
sangat destruktif.
“Karena itu persoalan utama bukan
hanya siapa yang menguasai teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut
digunakan,” lugasnya.
Dalam perspektif Qur’ani, HILMI
mengatakan, Al-Qur’an tidak hanya mendorong manusia mencari ilmu, tetapi juga
memberikan kerangka etika bagi penggunaan ilmu tersebut.
“Pengetahuan harus digunakan
untuk kemaslahatan yang menaati Allah, bukan untuk penindasan,” jelasnya.
Al-Qur’an sendiri menyebut
manusia sebagai khalifah di bumi, yang menururt HILMI sebagai pengelola yang
bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan menegakkan keadilan.
Menurut HILMI, pesan tersebut
semakin relevan di tengah berbagai krisis global modern seperti kerusakan
lingkungan, ketimpangan ekonomi global, dan konflik geopolitik.
“Teknologi tanpa etika dapat
membawa kerusakan besar, sementara etika tanpa ilmu tidak cukup untuk
menghadapi kompleksitas dunia modern,” terangnya.
Karena itu masa depan peradaban
manusia memerlukan sintesis antara ilmu pengetahuan dan nilai moral.
“Sains memberi kemampuan memahami
dan mengelola dunia, sedangkan wahyu memberi arah moral untuk menggunakan
kemampuan tersebut secara bertanggung jawab,” jabarnya.
HILMI menilai kebangkitan ilmu
dalam dunia Islam bukan sekadar proyek intelektual, tetapi juga proyek
peradaban yang lebih luas.
“Hanya umat yang diarahkan oleh
ajaran Al-Qur’an sekaligus menguasai sains dan teknologi yang dapat membebaskan
dunia dari penjajahan,” lugasnya.
Ia menyatakan jika pembebasan
tersebut tidak hanya bersifat politik, tetapi juga pembebasan dari
ketidakadilan global, eksploitasi ekonomi, dan kerusakan lingkungan.