Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tanpa Iptek, HILMI: Suatu Bangsa Rentan Penjajahan

Senin, 09 Maret 2026 | 18:12 WIB Last Updated 2026-03-09T11:12:26Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan dalam Intellectual Opinion No. 044 bertajuk Al-Qur’an, Sains, dan Peradaban: Fondasi Epistemologi bagi Kebangkitan Manusia bahwa tanpa kekuatan ilmu dan teknologi, suatu bangsa akan mudah berada dalam posisi lemah dan rentan terhadap penjajahan.

 

“Tanpa kekuatan ilmu dan teknologi, suatu bangsa akan mudah berada dalam posisi lemah dan rentan terhadap penjajahan,” rilis HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Sabtu (07/03/2026).

 

Ia pun menyebut bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor strategis dalam menentukan posisi suatu bangsa dalam percaturan global.

 

Hubungan

 

Dalam dokumen tersebut, HILMI menyoroti pelajaran penting dari sejarah modern mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kekuasaan global.

 

“Revolusi ilmiah di Eropa pada abad ke-17 dan ke-18 melahirkan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Namun perkembangan tersebut juga menghasilkan kekuatan militer dan ekonomi yang kemudian digunakan untuk melakukan kolonialisme di berbagai wilayah dunia,” bebernya.

 

“Bangsa yang tidak menguasai sains dan teknologi akan mudah terjajah,” tegasnya.

 

HILMI menjelaskan bahwa ketergantungan teknologi sering kali berujung pada ketergantungan ekonomi dan politik.

 

“Tanpa kekuatan ilmu dan teknologi, suatu bangsa akan selalu berada dalam posisi lemah dalam percaturan global,” paparnya.

 

Namun HILMI juga mengingatkan bahwa penguasaan teknologi saja tidak cukup apabila tidak diiringi dengan nilai moral.

 

“Sains dan teknologi yang tidak diatur oleh ajaran Al-Qur’an akan cenderung menjadi alat penjajahan,” ingatnya.

 

Teknologi modern, lanjutnya, telah digunakan untuk berbagai bentuk dominasi, mulai dari kolonialisme, eksploitasi sumber daya alam, hingga penghancuran massal melalui senjata yang sangat destruktif.

 

“Karena itu persoalan utama bukan hanya siapa yang menguasai teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut digunakan,” lugasnya.

 

Dalam perspektif Qur’ani, HILMI mengatakan, Al-Qur’an tidak hanya mendorong manusia mencari ilmu, tetapi juga memberikan kerangka etika bagi penggunaan ilmu tersebut.

 

“Pengetahuan harus digunakan untuk kemaslahatan yang menaati Allah, bukan untuk penindasan,” jelasnya.

 

Al-Qur’an sendiri menyebut manusia sebagai khalifah di bumi, yang menururt HILMI sebagai pengelola yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan menegakkan keadilan.

 

Menurut HILMI, pesan tersebut semakin relevan di tengah berbagai krisis global modern seperti kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi global, dan konflik geopolitik.

 

“Teknologi tanpa etika dapat membawa kerusakan besar, sementara etika tanpa ilmu tidak cukup untuk menghadapi kompleksitas dunia modern,” terangnya.

 

Karena itu masa depan peradaban manusia memerlukan sintesis antara ilmu pengetahuan dan nilai moral.

 

“Sains memberi kemampuan memahami dan mengelola dunia, sedangkan wahyu memberi arah moral untuk menggunakan kemampuan tersebut secara bertanggung jawab,” jabarnya.

 

HILMI menilai kebangkitan ilmu dalam dunia Islam bukan sekadar proyek intelektual, tetapi juga proyek peradaban yang lebih luas.

 

“Hanya umat yang diarahkan oleh ajaran Al-Qur’an sekaligus menguasai sains dan teknologi yang dapat membebaskan dunia dari penjajahan,” lugasnya.

 

Ia menyatakan jika pembebasan tersebut tidak hanya bersifat politik, tetapi juga pembebasan dari ketidakadilan global, eksploitasi ekonomi, dan kerusakan lingkungan.

 

“Peradaban yang berilmu tetapi tanpa moral akan menindas, sementara peradaban yang bermoral tetapi tanpa ilmu akan tertindas,” tandasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update