TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan fondasi epistemologi yang melahirkan tradisi sains sekaligus membangun peradaban manusia yang maju dan bermartabat.
“Al-Qur’an merupakan fondasi
epistemologi yang melahirkan tradisi sains sekaligus membangun peradaban
manusia yang maju dan bermartabat,” rilis HILMI kepada TintaSiyasi.ID.
Kitab suci umat Islam itu bukan
sekadar pedoman spiritual, HILMI menyatakan juga sebagai sumber inspirasi
intelektual yang mendorong manusia membaca, meneliti, dan memahami alam semesta
sebagai bagian dari proses mengenal Sang Pencipta.
Penegasan tersebut disampaikan
HILMI dalam Intellectual Opinion No. 044 bertajuk Al-Qur’an, Sains,
dan Peradaban: Fondasi Epistemologi bagi Kebangkitan Manusia yang dirilis
pada Sabtu (07/03)2026).
Dalam dokumen itu dijelaskan
bahwa hubungan antara agama dan sains kerap dipersepsikan penuh ketegangan,
terutama dalam narasi sejarah Barat modern yang dipengaruhi konflik antara
gereja dan ilmuwan.
“Namun pengalaman sejarah dunia
Islam justru memperlihatkan gambaran yang berbeda. Dalam tradisi Islam klasik,
agama justru menjadi inspirasi bagi lahirnya tradisi ilmiah yang kuat dan
dinamis,” ujarnya.
Menurut HILMI, Al-Qur’an tidak
hanya memberikan panduan teologis, tetapi juga membangun kerangka epistemologi
yang memadukan wahyu, akal, dan observasi alam.
“Melalui perspektif Qur’ani, ilmu
pengetahuan tidak dipandang bertentangan dengan iman, melainkan bagian dari
proses mengenal Tuhan melalui ciptaan-Nya,” tuturnya.
HILMI menjelaskan bahwa revolusi
epistemologis dalam Islam dimulai sejak turunnya wahyu pertama kepada Nabi
Muhammad saw., yakni perintah membaca.
“Iqra’ bismi rabbika alladzi
khalaq, yang artinya, ‘Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.’,”
kutip HILMI dari QS Al-‘Alaq ayat 1.
Ayat tersebut sering dipahami
sebagai simbol dimulainya peradaban Islam yang berbasis ilmu pengetahuan. “Namun
makna “membaca” dalam perspektif Qur’ani tidak terbatas pada membaca teks
semata,” bebernya.
“Ia mencakup membaca alam,
membaca sejarah, membaca masyarakat, bahkan membaca diri manusia sendiri,” jelasnya.
HILMI menyatakan, Al-Qur’an juga
berulang kali mengajak manusia memperhatikan fenomena alam seperti pergerakan
bintang, pergantian siang dan malam, siklus air, serta proses penciptaan
manusia.
Ajakan tersebut dinilai bukan
sekadar retorika spiritual, melainkan dorongan untuk melakukan refleksi
rasional dan penelitian empiris. “Katakanlah: apakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” nukilnya QS Az-Zumar
ayat 9.
Ayat tersebut, menurut HILMI,
menegaskan bahwa pengetahuan memiliki nilai moral dan spiritual yang tinggi
dalam Islam.
“Jika alam adalah ayat Tuhan,
maka mempelajari alam berarti membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan,” paparnya.
Imbuhnya lagi, inspirasi Qur’ani
tersebut kemudian melahirkan tradisi ilmiah yang sangat kuat dalam sejarah
peradaban Islam, terutama antara abad ke-8 hingga abad ke-14 ketika dunia Islam
menjadi pusat ilmu pengetahuan global.
“Di Baghdad berdiri Bayt
al-Hikmah yang menjadi pusat penerjemahan dan penelitian ilmiah. Berbagai karya
dari Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab lalu
dikembangkan lebih lanjut oleh para ilmuwan Muslim,” tutur HILMI.
Dalam matematika, HILMI
mengatakan, Al-Khwarizmi mengembangkan konsep aljabar dan algoritma yang
menjadi dasar matematika modern. “Dalam bidang kedokteran, Ibnu Sina menulis Canon
of Medicine yang selama berabad-abad menjadi rujukan utama di universitas
Eropa,” tambahnya lagi.
Sementara itu, Ibn al-Haytsam
ditulis HILMI telah mengembangkan metode eksperimen dalam studi optika,
sedangkan Al-Biruni memberikan kontribusi besar dalam astronomi, geodesi, dan
geografi.
“Kemajuan ilmiah itu lahir dari
budaya yang menghargai ilmu pengetahuan. Budaya tersebut ditopang oleh
perpustakaan besar, madrasah, patronase ilmuwan oleh penguasa, serta tradisi
diskusi intelektual yang terbuka,” terangnya.
“Kota-kota seperti Baghdad,
Cordoba, dan Cairo berkembang sebagai pusat perdagangan, budaya, dan pendidikan
yang melahirkan peradaban berbasis ilmu,” lanjutnya.
Karena itu, pengalaman sejarah
tersebut dinyatakan HILMI menunjukkan bahwa sinergi antara wahyu, akal, dan
ilmu pengetahuan mampu melahirkan peradaban yang maju sekaligus bermartabat.
“Peradaban manusia yang adil
hanya dapat dibangun melalui sinergi antara wahyu, akal, dan ilmu pengetahuan,”
pungkasnya.[] Rere