Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI: Al-Qur’an Fondasi Epistemologi Tradisi Sains dan Peradaban

Senin, 09 Maret 2026 | 19:07 WIB Last Updated 2026-03-09T12:07:13Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan fondasi epistemologi yang melahirkan tradisi sains sekaligus membangun peradaban manusia yang maju dan bermartabat.

 

“Al-Qur’an merupakan fondasi epistemologi yang melahirkan tradisi sains sekaligus membangun peradaban manusia yang maju dan bermartabat,” rilis HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

Kitab suci umat Islam itu bukan sekadar pedoman spiritual, HILMI menyatakan juga sebagai sumber inspirasi intelektual yang mendorong manusia membaca, meneliti, dan memahami alam semesta sebagai bagian dari proses mengenal Sang Pencipta.

 

Penegasan tersebut disampaikan HILMI dalam Intellectual Opinion No. 044 bertajuk Al-Qur’an, Sains, dan Peradaban: Fondasi Epistemologi bagi Kebangkitan Manusia yang dirilis pada Sabtu (07/03)2026).

 

Dalam dokumen itu dijelaskan bahwa hubungan antara agama dan sains kerap dipersepsikan penuh ketegangan, terutama dalam narasi sejarah Barat modern yang dipengaruhi konflik antara gereja dan ilmuwan.

 

“Namun pengalaman sejarah dunia Islam justru memperlihatkan gambaran yang berbeda. Dalam tradisi Islam klasik, agama justru menjadi inspirasi bagi lahirnya tradisi ilmiah yang kuat dan dinamis,” ujarnya.

 

Menurut HILMI, Al-Qur’an tidak hanya memberikan panduan teologis, tetapi juga membangun kerangka epistemologi yang memadukan wahyu, akal, dan observasi alam.

 

“Melalui perspektif Qur’ani, ilmu pengetahuan tidak dipandang bertentangan dengan iman, melainkan bagian dari proses mengenal Tuhan melalui ciptaan-Nya,” tuturnya.

 

HILMI menjelaskan bahwa revolusi epistemologis dalam Islam dimulai sejak turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw., yakni perintah membaca.

 

Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq, yang artinya, ‘Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.’,” kutip HILMI dari QS Al-‘Alaq ayat 1.

 

Ayat tersebut sering dipahami sebagai simbol dimulainya peradaban Islam yang berbasis ilmu pengetahuan. “Namun makna “membaca” dalam perspektif Qur’ani tidak terbatas pada membaca teks semata,” bebernya.

 

“Ia mencakup membaca alam, membaca sejarah, membaca masyarakat, bahkan membaca diri manusia sendiri,” jelasnya.

 

HILMI menyatakan, Al-Qur’an juga berulang kali mengajak manusia memperhatikan fenomena alam seperti pergerakan bintang, pergantian siang dan malam, siklus air, serta proses penciptaan manusia.

 

Ajakan tersebut dinilai bukan sekadar retorika spiritual, melainkan dorongan untuk melakukan refleksi rasional dan penelitian empiris. “Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” nukilnya QS Az-Zumar ayat 9.

 

Ayat tersebut, menurut HILMI, menegaskan bahwa pengetahuan memiliki nilai moral dan spiritual yang tinggi dalam Islam.

 

“Jika alam adalah ayat Tuhan, maka mempelajari alam berarti membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan,” paparnya.

 

Imbuhnya lagi, inspirasi Qur’ani tersebut kemudian melahirkan tradisi ilmiah yang sangat kuat dalam sejarah peradaban Islam, terutama antara abad ke-8 hingga abad ke-14 ketika dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan global.

 

“Di Baghdad berdiri Bayt al-Hikmah yang menjadi pusat penerjemahan dan penelitian ilmiah. Berbagai karya dari Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab lalu dikembangkan lebih lanjut oleh para ilmuwan Muslim,” tutur HILMI.

 

Dalam matematika, HILMI mengatakan, Al-Khwarizmi mengembangkan konsep aljabar dan algoritma yang menjadi dasar matematika modern. “Dalam bidang kedokteran, Ibnu Sina menulis Canon of Medicine yang selama berabad-abad menjadi rujukan utama di universitas Eropa,” tambahnya lagi.

 

Sementara itu, Ibn al-Haytsam ditulis HILMI telah mengembangkan metode eksperimen dalam studi optika, sedangkan Al-Biruni memberikan kontribusi besar dalam astronomi, geodesi, dan geografi.

 

“Kemajuan ilmiah itu lahir dari budaya yang menghargai ilmu pengetahuan. Budaya tersebut ditopang oleh perpustakaan besar, madrasah, patronase ilmuwan oleh penguasa, serta tradisi diskusi intelektual yang terbuka,” terangnya.

 

“Kota-kota seperti Baghdad, Cordoba, dan Cairo berkembang sebagai pusat perdagangan, budaya, dan pendidikan yang melahirkan peradaban berbasis ilmu,” lanjutnya.

 

Karena itu, pengalaman sejarah tersebut dinyatakan HILMI menunjukkan bahwa sinergi antara wahyu, akal, dan ilmu pengetahuan mampu melahirkan peradaban yang maju sekaligus bermartabat.

 

“Peradaban manusia yang adil hanya dapat dibangun melalui sinergi antara wahyu, akal, dan ilmu pengetahuan,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update