Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Riset yang Berdampak Berperan Strategis Membentuk Kebijakan Publik yang Adil dan Menyejahterakan

Rabu, 18 Maret 2026 | 06:49 WIB Last Updated 2026-03-17T23:49:07Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa riset yang berdampak tidak hanya menjadi amal jariah yang pahalanya terus mengalir, tetapi juga berperan strategis dalam membentuk kebijakan publik yang adil dan menyejahterakan masyarakat.

 

“Riset yang berdampak tidak hanya menjadi amal jariah yang pahalanya terus mengalir, tetapi juga berperan strategis dalam membentuk kebijakan publik yang adil dan menyejahterakan masyarakat,” sebutnya kepada TintaSiyasi.ID.

 

Penegasan tersebut disampaikan dalam Intellectual Opinion No. 045 bertajuk Riset yang Berdampak: Lailatulqadar bagi Seorang Periset yang dirilis pada Selasa (17/03/2026).

 

Dalam dokumen itu dijelaskan bahwa di dalam Islam, nilai suatu amal tidak hanya diukur dari kesalehan personal, tetapi juga dari manfaat sosial yang dihasilkan.

 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia,” nukilnya dari hadis Nabi Muhammad saw. (HR Ahmad dan Thabrani).

 

Menurut HILMI, riset memiliki potensi manfaat yang sangat luas bagi kehidupan manusia. “Satu penelitian dapat menyelamatkan manusia dari penyakit, meningkatkan produktivitas, hingga menjadi dasar kebijakan publik,” paparnya.

 

Bahkan, lanjutnya, dampak suatu penelitian dapat berlangsung jauh melampaui usia hidup penelitinya. “Dampaknya bisa bertahan puluhan bahkan ratusan tahun,” terangnya.

 

Ilmu dan Kekuasaan

 

Agar suatu penelitian berlangsung melampaui usia penelitinya, puluhan bahkan ratusan tahun,  HILMI menekankan pentingnya hubungan antara ilmu dan kekuasaan.

 

“Ilmu pengetahuan menjadi sangat strategis ketika ia menjadi dasar kebijakan publik,” jelasnya.

 

Dalam sejarah Islam, para ulama dan ilmuwan sering menjadi penasihat penguasa untuk memastikan keadilan dalam pemerintahan.

 

“Keadilan seorang penguasa memiliki dampak sosial yang jauh lebih luas dibandingkan ibadah individual,” tuturnya.

 

Karena itu, HILMI mengingatkan agar keputusan-keputusan strategis negara harus berbasis ilmu pengetahuan.

 

“Kebijakan tentang ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan pendidikan membutuhkan dasar ilmiah yang kuat,” tegasnya.

 

HILMI juga menyoroti konsep amal jariah dalam Islam, di mana ilmu menempati posisi yang sangat tinggi.

 

Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya,” HILMI menukil hadis riwayat Muslim.

 

Hadis tersebut menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya meskipun penemunya telah wafat.

 

“Ilmu dapat melampaui batas waktu, bahkan lintas generasi dan peradaban,” ungkapnya.

 

HILMI mencontohkan kontribusi ilmuwan Muslim seperti Al-Khwarizmi dan Ibn Sina yang masih dirasakan hingga hari ini.

 

“Kontribusi ilmiah dapat menjadi ibadah yang melampaui batas geografis, budaya, bahkan agama,” lanjutnya.

 

Karena itu, riset tidak boleh berhenti pada publikasi akademik semata. “Ilmu harus memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat,” lugasnya.

 

HILMI menegaskan bahwa riset yang berdampak memiliki dua dimensi sekaligus, vertikal dan horizontal.

 

“Ia meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan sekaligus menghadirkan manfaat luas bagi manusia,” paparnya.

 

Pada akhirnya, konsep Lailatulqadar memberikan pelajaran bahwa nilai suatu amal ditentukan oleh dampaknya.

 

“Riset yang benar-benar bermakna adalah yang mampu menghadirkan keberkahan dan keadilan bagi umat manusia,” tandasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update