Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Penjajahan Gaza, Dr. Aslam: Perlu Kesadaran Politik Islam yang Benar

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:09 WIB Last Updated 2026-03-10T09:09:04Z

TintaSiyasi.id -- Dalam slot Muslimah Tea Break bertajuk Mengembalikan Kedamaian Gaza, Ahad (08/03/2026), Aktivis Muslimah Makaysia Dr. Aslam menegaskan perlunya kesadaran politik Islam yang benar dalam menanggapi keadaan yang terjadi di Gaza.

 

“Kesadaran politik yang benar di kalangan umat Islam itu sangat-sangat diperlukan,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan bahwa umat Islam tidak boleh hanya melihat apa yang terjadi di Gaza dari sudut bantuan kemanusiaan semata-mata, tetapi perlu memahami realitas percaturan politik global di baliknya.

 

“Apa yang terjadi di Gaza seharusnya ada panggilan dari umat Islam dari sudut kemiliteran, bukan sekadar bantuan kemanusiaan,” katanya.

 

Menurutnya lagi, serangan yang terjadi di Iran baru-baru ini memperlihatkan kesinambungan kezaliman yang dilakukan oleh pihak yang sama.

 

“Kita sendiri sebagai umat Islam harus melihat isu sekarang ini yang terjadi di Gaza dan Iran ada kesinambungan, tidak boleh dilihat dari aspek yang berbeda karena pelaku yang terlibat adalah sama juga. AS dan Israel adalah sekutu,” terangnya.

 

Ia turut mengungkapkan bahwa tindakan AS tidak lain adalah untuk mengekalkan kedudukannya sebagai super power dunia, sekalipun dikecam.

 

Dr Aslam turut menyentuh tentang perbedaan visi antara kuasa besar dan dunia Islam hari ini, sekaligus menonjolkan lagi kelemahan kepemimpinan umat Islam pada hari ini.

 

Negara-negara besar, menurutnya, bergerak dengan strategi dan ideologi yang jelas untuk mengekalkan pengaruh mereka di peringkat global.

 

“Kita boleh bedakan negara Islam dan negara kafir sekarang ini, mereka mempunyai visi, itu perkara yang kita lack of sebagai umat Islam,” kesalnya.

 

Keadaan ini, menurutnya, menyebabkan umat Islam mudah terperangkap dalam percaturan kekuasaan besar dunia.

 

Ia menggambarkan situasi umat Islam dalam percaturan kuasa dunia dengan analogi permainan catur. “Sekarang mereka namakan Board of Peace. Kita (umat Islam) seolah berada di chess board; selagi kita berada di bawah mereka, memang check-mate,” ungkapnya.

 

Karena itulah, ia menyeru agar umat Islam membina kesadaran politik berdasarkan pemikiran Islam yang benar, dan bukan sekadar mengikut arus atau fokus hanya kepada ibadah ritual.

 

“Sebagai individu, kita harus ada kesadaran yang benar dan perlu ada perbincangan seperti ini,” katanya.

 

Malah menurutnya, menjadi tanggung jawab bersama umat Islam dalam menyampaikan naratif yang benar kepada generasi akan datang.

 

“Sebagai Muslim yang mengimani Allah dan Rasul, kita mesti mempunyai dinamika kesadaran tentang politik kuasa global,” jelasnya.

 

“Individu Muslim mesti menjadi amplifier yang menyampaikan pandangan-pandangan ini kepada umat, menjelaskan naratif-naratif yang menyimpang dari landasan yang benar perlu diusahakan,” tambahnya.

 

Ia berpandangan, pentingnya umat memahami solusi yang benar yang datangnya dari Islam itu sendiri yaitu sistem khilafah.

 

“Sebenarnya sistem yang tepat untuk mengatasi permasalahan umat Islam adalah dari sistem Islam itu sendiri, yaitu di bawah sistem kekhilafahan, bukan sistem kapitalis, sistem Trump atau sistem Israel,” tegasnya.

 

Dengan penegasan itu, Dr. Aslam menyeru umat Islam terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan agar tidak hanya fokus kepada ibadah ritual semata, tetapi juga membina kesadaran politik, pemahaman strategis, dan rasa tanggung jawab terhadap umat Islam di seluruh dunia.

 

“Inilah momen Ramadan di sepuluh malam terakhir yang penuh berkah, untuk lebih dekat kepada Allah sambil mengambil tahu politik umat Islam yang ada di luar sana dan berusaha untuk mengubahnya," tuturnya.


"Sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-Ra’du, 'Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan pada suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang berusaha untuk mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.',” pungkasnya.[] Rahmah

Opini

×
Berita Terbaru Update