“Kesadaran politik yang benar di kalangan umat
Islam itu sangat-sangat diperlukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa umat Islam
tidak boleh hanya melihat apa yang terjadi di Gaza dari sudut bantuan
kemanusiaan semata-mata, tetapi perlu memahami realitas percaturan politik
global di baliknya.
“Apa yang terjadi di Gaza
seharusnya ada panggilan dari umat Islam dari sudut kemiliteran, bukan sekadar
bantuan kemanusiaan,” katanya.
Menurutnya lagi, serangan yang
terjadi di Iran baru-baru ini memperlihatkan kesinambungan kezaliman yang
dilakukan oleh pihak yang sama.
“Kita sendiri sebagai umat Islam
harus melihat isu sekarang ini yang terjadi di Gaza dan Iran ada kesinambungan,
tidak boleh dilihat dari aspek yang berbeda karena pelaku yang terlibat adalah
sama juga. AS dan Israel adalah sekutu,” terangnya.
Ia turut mengungkapkan bahwa
tindakan AS tidak lain adalah untuk mengekalkan kedudukannya sebagai super power
dunia, sekalipun dikecam.
Dr Aslam turut menyentuh tentang
perbedaan visi antara kuasa besar dan dunia Islam hari ini, sekaligus
menonjolkan lagi kelemahan kepemimpinan umat Islam pada hari ini.
Negara-negara besar, menurutnya,
bergerak dengan strategi dan ideologi yang jelas untuk mengekalkan pengaruh
mereka di peringkat global.
“Kita boleh bedakan negara Islam
dan negara kafir sekarang ini, mereka mempunyai visi, itu perkara yang kita lack
of sebagai umat Islam,” kesalnya.
Keadaan ini, menurutnya,
menyebabkan umat Islam mudah terperangkap dalam percaturan kekuasaan besar
dunia.
Ia menggambarkan situasi umat
Islam dalam percaturan kuasa dunia dengan analogi permainan catur. “Sekarang
mereka namakan Board of Peace. Kita (umat Islam) seolah berada di chess
board; selagi kita berada di bawah mereka, memang check-mate,”
ungkapnya.
Karena itulah, ia menyeru agar
umat Islam membina kesadaran politik berdasarkan pemikiran Islam yang benar,
dan bukan sekadar mengikut arus atau fokus hanya kepada ibadah ritual.
“Sebagai individu, kita harus ada
kesadaran yang benar dan perlu ada perbincangan seperti ini,” katanya.
Malah menurutnya, menjadi
tanggung jawab bersama umat Islam dalam menyampaikan naratif yang benar kepada
generasi akan datang.
“Sebagai Muslim yang mengimani
Allah dan Rasul, kita mesti mempunyai dinamika kesadaran tentang politik kuasa
global,” jelasnya.
“Individu Muslim mesti menjadi amplifier
yang menyampaikan pandangan-pandangan ini kepada umat, menjelaskan
naratif-naratif yang menyimpang dari landasan yang benar perlu diusahakan,”
tambahnya.
Ia berpandangan, pentingnya umat
memahami solusi yang benar yang datangnya dari Islam itu sendiri yaitu sistem
khilafah.
“Sebenarnya sistem yang tepat
untuk mengatasi permasalahan umat Islam adalah dari sistem Islam itu sendiri,
yaitu di bawah sistem kekhilafahan, bukan sistem kapitalis, sistem Trump atau
sistem Israel,” tegasnya.
Dengan penegasan itu, Dr. Aslam
menyeru umat Islam terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan agar tidak
hanya fokus kepada ibadah ritual semata, tetapi juga membina kesadaran politik,
pemahaman strategis, dan rasa tanggung jawab terhadap umat Islam di seluruh
dunia.
“Inilah momen Ramadan di sepuluh malam terakhir yang penuh berkah, untuk lebih dekat kepada Allah sambil mengambil tahu politik umat Islam yang ada di luar sana dan berusaha untuk mengubahnya," tuturnya.
"Sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-Ra’du, 'Sesungguhnya Allah
tidak akan mengubah keadaan pada suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang
berusaha untuk mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.',”
pungkasnya.[] Rahmah