Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengisi Waktu Luang dengan Amal dan Karya: Agar Jiwa Tidak Tenggelam dalam Kekosongan

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:50 WIB Last Updated 2026-03-14T22:51:00Z
TintaSiyasi.id -- Dalam kehidupan ini, waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Namun ironisnya, banyak orang justru menyia-nyiakan nikmat tersebut. Mereka tenggelam dalam kemalasan, menghabiskan waktu tanpa arah, dan akhirnya terjerumus pada pembicaraan yang tidak bermanfaat, gosip atau bahkan fitnah.

Orang yang terlalu banyak menganggur sering kali menjadi penebar isu dan desas-desus. Akal pikiran mereka melayang tanpa tujuan. Dalam keadaan kosong itulah hati menjadi lemah, pikiran menjadi keruh, dan jiwa mudah digoda oleh bisikan-bisikan yang tidak baik.
Allah Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang.”
(QS. At-Taubah: 87).

Ayat ini menggambarkan sikap orang-orang yang enggan berjuang dan lebih memilih diam dalam kenyamanan. Padahal, kehidupan seorang mukmin seharusnya dipenuhi dengan perjuangan, kerja, dan amal saleh.

Bahaya Kekosongan Bagi Jiwa

Saat yang paling berbahaya bagi akal manusia adalah ketika ia tidak memiliki pekerjaan atau aktivitas yang bermanfaat. Pikiran yang kosong ibarat kendaraan yang melaju kencang tanpa sopir. Ia bisa oleng ke mana saja. Ke masa lalu yang penuh penyesalan, ke masa kini yang membuat gelisah atau ke masa depan yang belum tentu terjadi.

Dalam kondisi kosong seperti itu, manusia sering terjebak dalam:
• Mengingat luka masa lalu yang telah berlalu
• Menyesali nasib dan keadaan diri
• Mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi
• Membandingkan diri dengan orang lain
• Berprasangka buruk kepada takdir Allah
Akhirnya hati menjadi sempit, jiwa dipenuhi kecemasan, dan hidup terasa berat.

Prinsip Islam: Hidup Harus Produktif

Islam mengajarkan umatnya untuk hidup aktif dan produktif. Rasulullah Saw., bahkan mengingatkan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas waktunya.

Rasulullah Saw.,.bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara, salah satunya tentang umurnya untuk apa ia habiskan.” (HR. At-Tirmidzi). 

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw., juga bersabda:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari). 

Hadis ini menunjukkan bahwa waktu luang bukanlah kesempatan untuk bermalas-malasan, melainkan peluang emas untuk memperbanyak amal.

Mengisi Waktu dengan Amal Kebaikan

Solusi dari kegelisahan jiwa adalah mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Sebab, aktivitas yang baik akan menenangkan pikiran dan menghidupkan hati.

Di antara amalan yang bisa mengisi waktu dengan berkah adalah:

1. Memperbanyak dzikir kepada Allah
Dzikir menenangkan hati dan menjaga pikiran dari bisikan negatif.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

2. Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah cahaya bagi jiwa yang gelap dan obat bagi hati yang gelisah.

3. Menuntut ilmu
Ilmu menghidupkan akal dan mengangkat derajat manusia.

4. Bekerja dan berkarya
Islam memuliakan orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan memberikan manfaat kepada orang lain.

5. Berbuat baik kepada sesama
Membantu orang lain, bersedekah, dan menebar kebaikan adalah cara terbaik mengisi hidup.

Kekosongan Adalah Jalan Menuju Kehancuran
Membiarkan diri tenggelam dalam kekosongan sama saja dengan membuka pintu bagi kegelisahan, keburukan, bahkan dosa. Kekosongan jiwa bisa merusak manusia sebagaimana racun merusak tubuh.

Karena itu para ulama mengatakan:
“Jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan kebaikan, maka keburukanlah yang akan menyibukkanmu.”

Seorang mukmin sejati selalu menjaga waktunya. Ia sadar bahwa hidup ini singkat dan setiap detik adalah amanah dari Allah.

Penutup: Jadilah Manusia yang Bernilai

Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dalam kelalaian. Setiap waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali. Maka, jadikanlah setiap detik sebagai ladang amal menuju ridha Allah.

Isi hari-hari dengan dzikir, ilmu, kerja, dan kebaikan karena sesungguhnya orang yang paling bahagia bukanlah yang memiliki waktu luang paling banyak, melainkan yang mampu memanfaatkan waktunya untuk mendekat kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menjaga waktunya, mengisi hidupnya dengan amal saleh, dan menjauhkan kita dari kekosongan yang menyesatkan.
Amin.

Dr Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update