Ustazah Iffah menjelaskan, qiyadah
mubdiah adalah kepemimpinan berdasarkan Al-Qur’an dan as-sunah untuk menata
kehidupan.
“Sebuah kepemimpinan dalam
istilah yang kita kenal dari para ulama adalah sebuah qiyadah mubdiah, taitu
sebuah kepemimpinan yang pada konteks abad ke-21 ini, kepemimpinan berdasarkan Al-Qur’an
maupun as-sunah yang difahami atau digali darinya pemahaman-pemahaman untuk
melahirkan prinsip-prinsip tata kelola kehidupan yang didasarkan kepada syariat,”
ujarnya.
Pernyataannya di YouTube @MutiaraIslamKafah berjudul Sosok Pemimpin yang Dirindukan Umat menegaskan hanya seorang Muslim sajalah yang mampu dan mau mengambil kepemimpinan yang berdasarkan syariat secara utuh dan sadar betul kepemimpinannya harus diwujudkan di dalam tatanan sistem Islam kaffah.
Dalam konteks situasi global, lanjutnya,
dunia sedang menuju kepada tata global yang merusak dan menghancurkan
sendi-sendi kehidupan. “Hal ini perlu disadari oleh umat Islam,” lugasnya.
“Kita juga perlu menyadari bahwa
umat hari ini berhadapan dengan situasi global, di mana dunia sudah tidak lagi
kita katakan tidak baik-baik saja dan sedang menuju kepada tata global yang
menghancurkan,” keluhnya.
Ia mengungkapkan, tata global
yang rusak ini tidak mungkin bisa diatasi dengan perbaikan-perbaikan pada
beberapa regulasi, namun yang diperlukan adalah sebuah kepemimpinan yang
inovatif yang belum ada sebelumnya pada tatanan dunia yang sekuler.
Tambahnya, kepemimpinan mubdiah
itulah yang bisa menata berbagai aspek kehidupan dengan solusi syar’i
melalui ijtihad para ulama dan mujtahid.
“Ijtihad yang syar’i yang
dilahirkan oleh para ulama, para mujtahid mutlak pada hari inilah yang
dibutuhkan untuk menata kehidupan ekonomi, kehidupan politik, kehidupan
pergaulan, sosial dan seterusnya”, ujarnya.
Lanjutnya lagi, Rasul saw.
menerapkan kepemimpinan mubdiah ketika berhadapan dengan kondisi
masyarakat yang rusak dengan penerapan sistem kufur seperti yang terjadi pada
hari ini.
“Qiyadah mubdiah inilah
yang dulu dicontohkan oleh Rasul saw. di saat semua mata dunia sedang menyorot
kepemimpinan Persia, Romawi, dan orang-orang Arab Quraisy yang musyrik",
katanya.
"Waktu itu pemuka Bani Amir
bin Sha’shaah mengatakan kepemimpinan Muhammad itulah yang nanti akan menaklukkan
Romawi maupun Persia,” bebernya.
Dengan nada optimis, ia
menyatakan kemenangan akan diberikan Allah Ta’ala kepada kaum Muslim. “Kepemimpinan
kapitalisme global akan digantikan dengan kepemimpinan Islam, dan bulan Ramadan
adalah momentum terbaik untuk bersama-sama merealisasikannya,” serunya.
“Bulan Ramadan ini adalah
momentum bagi kita untuk men-tasdiq atau meyakinkan diri kita bahwa
konsepsi Islam tentang kepemimpinan tadi benar-benar bisa terwujud dan
terwujudnya juga dengan menggunakan ikhtiar sebagai dicontohnya oleh Rasul saw.,"
tambahnya.
"Mari meneladan Rasul menuju
kepemimpinan mubdiah sebagaimana yang dulu beliau wujudkan dengan
tegaknya Daulah Islam di Madinah,” pungkasnya.[] Rahmah