TintaSiyasi.id -- Langkah besar baru saja diambil oleh sembilan petinggi negeri. Fenomena kesehatan jiwa anak yang kian mengkhawatirkan memicu lahirnya Surat Keputusan Bersama (SKB) yang diteken oleh lintas kementerian dan lembaga mulai dari Menkes, Mendikdasmen, hingga Kapolri. Kehadiran sembilan menteri dalam satu meja menunjukkan bahwa kondisi psikis anak-anak kita sedang tidak baik-baik saja. Seperti apakah kondisi psikis anak-anak negeri ini? Temuan dari program pemeriksaan kesehatan gratis menunjukkan kondisi psikis anak yang menghawatirkan. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, memaparkan bahwa ratusan ribu anak Indonesia kini tengah berjuang melawan gangguan kecemasan dan depresi. Secara statistik, sekitar 4,8% anak menunjukkan tanda-tanda depresi, sementara 4,4% lainnya mengalami gejala kecemasan (health.detik.com, 2026).
Lebih jauh, data dari healing119.id dan KPAI, kita akan menemukan potret yang lebih kelam ditemukan pada remaja berusia 11 hingga 17 tahun. Kondisi mereka tidak hanya sebatas menunjukkan kecemasan dan depresi biasa tetapi sampai pada taraf menyakiti diri dan keinginan mengakhiri hidup (kemenpppa.go.id, 2026). Keinginan anak untuk mengakhiri hidup dipicu oleh empat faktor utama yaitu 24–46% karena konflik keluarga, 8–26% karena masalah psikologis, 14–18% karena perundungan, hingga 7–16% karena tekanan akademik.
Mengapa rumah tak lagi menjadi surga, sekolah tak lagi menjadi taman, dan jiwa anak-anak kita begitu rapuh menghadapi kenyataan? Jika kita jujur membedah akarnya, krisis kesehatan jiwa ini adalah buah pahit dari sistem kehidupan sekuler-liberal. Saat ini, paradigma dan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat kian tergerus oleh hegemoni media kapitalisme global. Anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, di mana kebahagiaan dan kesuksesan hanya diukur dari pencapaian materi, popularitas di media sosial, dan angka-angka akademik yang kaku.
Pendidikan di keluarga, sekolah, hingga masyarakat tidak lagi berpijak pada akidah dan syariat Islam. Akibatnya, ketika seorang anak gagal meraih standar materi tersebut, mereka kehilangan pegangan hidup dan merasa tidak berharga. Inilah dampak nyata dari sistem yang mengagungkan materi namun mematikan spiritualitas. Oleh karena itu, kebijakan administratif seperti SKB sembilan lembaga saja belum cukup selama akar masalahnya yaitu sistem sekuler-liberal kapitalistik masih dibiarkan mencengkeram. Sistem ini merusak tatanan keluarga dan mentalitas anak. Umat harus menyadari bahwa menyelesaikan masalah hidup saat ini termasuk kesehatan jiwa generasi tiada lain hanya dengan cara mengganti sistem yang rusak ini menjadi sistem Islam.
Dalam sistem Islam, negara harus hadir sebagai ra'in (pengurus) dan junnah (pelindung). Sebagai Ra'in, negara bertindak layaknya penggembala yang memastikan setiap urusan rakyatnya terurus dengan tuntas. Dalam konteks kesehatan jiwa, negara wajib menjamin sistem pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang manusiawi, bukan yang memicu depresi demi angka-angka materi. Dengan hal itu, setiap anak mendapatkan hak hidup dan tumbuh kembang yang layak tanpa tekanan mental yang menghimpit.
Sementara sebagai Junnah, negara berfungsi sebagai perisai kokoh yang berdiri di baris terdepan. Negara wajib membentengi anak-anak dari gempuran nilai-nilai liberal, perundungan, serta pengaruh media yang merusak akidah dan mentalitas mereka. Dengan peran ini, negara tidak hanya mengobati jiwa yang terluka, tetapi mencegah luka itu muncul dengan cara memproteksi lingkungan sosial dari racun sekularisme yang merusak fitrah manusia.
Dalam menjalankan fungsinya, negara mengintegrasikan seluruh instrumen sistemnya untuk menuntaskan akar masalah kesehatan jiwa anak. Pendidikan berbasis akidah mentransformasi standar sukses materi menjadi ridha Allah, sehingga anak memiliki kepribadian tangguh (Syakhshiyah Islamiyah) yang tidak mudah rapuh oleh kegagalan duniawi, didukung suasana ukhuwah untuk menghapus perundungan. Negara menyediakan layanan kesehatan jiwa holistik secara gratis, memadukan pendekatan klinis dan penguatan spiritual melalui deteksi dini yang sistematis.
Selain itu, sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan melalui distribusi yang adil. Dengan jaminan kebutuhan publik di tangan negara, beban finansial keluarga sirna, menciptakan lingkungan rumah yang stabil dan harmonis bagi tumbuh kembang mental anak.
Singkatnya, sistem Islam mengintegrasikan pendidikan yang menguatkan kuat, kesehatan jiwa-raga, dan ekonomi yang stabil di bawah naungan syariat. Kembalinya syariat ke ruang publik adalah kunci untuk menjaga fitrah anak dan menciptakan harmoni sosial. Inilah solusi fundamental untuk memutus rantai depresi generasi demi membangun jiwa yang kokoh dalam ridha Sang Pencipta.