TintaSiyasi.id -- Pengantar: Ketika Dunia Mengaburkan Pandangan Hati
Di zaman percepatan ini, manusia dipacu untuk produktif, kompetitif, dan ambisius. Ukuran keberhasilan direduksi menjadi angka: gaji, jabatan, pengikut, dan pengaruh. Namun di tengah gemuruh itu, suara hati sering kali terabaikan. Kita sibuk membangun dunia, tetapi lupa membangun hubungan dengan Pemilik dunia.
Ibnu Athaillah memperingatkan: ketika seorang hamba lalai dari ibadah dan larut dalam urusan dunia tanpa orientasi ilahiah, ia telah terperosok ke jurang kehinaan. Bukan karena dunianya, tetapi karena hatinya kehilangan arah.
I. Hakikat Kelalaian: Penyakit Halus yang Menggerogoti Jiwa
Kelalaian (ghaflah) bukan sekadar tidak berzikir atau meninggalkan shalat. Kelalaian adalah:
• Hati yang tidak lagi merasakan kehadiran Allah.
• Amal yang kehilangan niat lillah.
• Aktivitas yang terlepas dari visi akhirat.
Seseorang bisa tetap rajin ibadah, tetapi hatinya lalai. Ia shalat, tetapi pikirannya di pasar. Ia berdakwah, tetapi tujuannya popularitas. Ia bekerja, tetapi hanya demi gengsi dan pengakuan.
Inilah kehinaan yang paling halus: ketika manusia merasa mulia di hadapan manusia, tetapi terasing di hadapan Tuhannya.
II. Semangat Sejati Seorang Muslim: Selaras dengan Kehendak Allah
Ibnu Athaillah mengajarkan konsep himmah — semangat tinggi yang terarah. Orang yang memiliki himmah ‘aliyah tidak hidup mengikuti selera pribadinya, tetapi mengikuti kehendak Rabb-nya.
Jika Allah menginginkannya beribadah, ia beribadah dengan totalitas.
Jika Allah menginginkannya bekerja, ia bekerja dengan amanah dan profesional.
Jika Allah menginginkannya sabar, ia bersabar.
Jika Allah menginginkannya berjuang, ia berjuang.
Semangatnya bukan ambisi dunia, melainkan ridha Allah.
Inilah ideologi tauhid yang sejati:
hidup bukan untuk memenuhi keinginan diri,
tetapi untuk memenuhi harapan Ilahi.
III. Dunia Bukan Musuh, Tetapi Ujian Orientasi
Tasawuf bukan ajaran anti-dunia. Dunia bukan musuh. Yang menjadi musuh adalah ketika dunia mengambil alih posisi Tuhan di dalam hati.
Seorang pedagang bisa lebih mulia dari ahli ibadah, jika dagangnya penuh kejujuran dan niat karena Allah. Seorang guru bisa lebih tinggi derajatnya daripada zahid yang menyendiri, jika ia mendidik generasi demi mencari ridha-Nya.
Masalahnya bukan pada kerja, bisnis, politik, pendidikan, atau dakwah.
Masalahnya adalah: untuk siapa semua itu dilakukan?
Jika untuk Allah, semuanya ibadah.
Jika untuk ego, semuanya sia-sia.
IV. Tanda-Tanda Kehinaan Ruhani
Agar kita tidak tertipu oleh kesibukan, mari bercermin:
1. Berat menuju sajadah, ringan menuju rapat.
2. Gelisah jika kehilangan uang, tetapi biasa saja ketika kehilangan khusyuk.
3. Takut kehilangan jabatan, tetapi tidak takut kehilangan kedekatan dengan Allah.
4. Bangga dengan pencapaian dunia, tetapi jarang menangis karena dosa.
Jika tanda-tanda ini ada, maka kita perlu kembali.
Kehinaan bukan miskin harta, tetapi miskin himmah menuju Allah.
V. Membangun Ideologi Kehidupan Berbasis Ridha Allah
Umat ini tidak lemah karena kurang pintar. Tidak pula karena kurang sumber daya. Umat ini lemah ketika orientasi hidupnya bergeser dari ridha Allah menuju ridha manusia.
Maka perlu dibangun kembali ideologi tauhid dalam kehidupan:
1. Tauhid dalam niat – Semua aktivitas diniatkan karena Allah.
2. Tauhid dalam tujuan – Sukses bukan sekadar dunia, tetapi keselamatan akhirat.
3. Tauhid dalam orientasi – Keputusan hidup diukur dengan keridhaan Allah, bukan opini publik.
Inilah kebangkitan sejati. Kebangkitan ruhani sebelum kebangkitan peradaban.
VI. Jalan Kembali: Dari Lalai Menuju Kesadaran
Bagaimana agar tidak terperosok ke jurang kehinaan?
1. Perbanyak muhasabah.
Setiap malam bertanya: hari ini lebih dekat atau lebih jauh dari Allah?
2. Jaga dzikir.
Dzikir bukan sekadar lisan, tetapi kesadaran hati bahwa Allah mengawasi.
3. Luruskan niat sebelum memulai aktivitas.
Jadikan pekerjaan sebagai ibadah, bukan sekadar kewajiban.
4. Seimbangkan dunia dan akhirat.
Jangan tinggalkan kerja, tetapi jangan tinggalkan sajadah.
5. Bergaul dengan orang-orang saleh.
Lingkungan menentukan arah hati.
VII. Himmah ‘Aliyah: Energi Peradaban Umat
Jika setiap muslim memiliki semangat untuk menginginkan apa yang Allah inginkan, maka:
• Pengusaha akan jujur.
• Guru akan mendidik dengan ikhlas.
• Pemimpin akan adil.
• Dai akan berdakwah tanpa pamrih.
• Keluarga akan dibangun atas dasar takwa.
Inilah energi peradaban. Peradaban tidak dibangun oleh kecerdasan semata, tetapi oleh hati yang hidup.
Penutup: Seruan Kebangkitan
Wahai jiwa yang lelah oleh dunia,
ketahuilah bahwa kemuliaan tidak terletak pada banyaknya harta,
tetapi pada dekatnya hati dengan Allah.
Jangan biarkan dunia menguras ruhmu.
Jangan biarkan ambisi menenggelamkan cintamu kepada-Nya.
Bangkitlah dengan semangat yang tinggi —
semangat untuk menjadi hamba sejati.
Beribadahlah ketika Allah memanggilmu sujud.
Bekerjalah ketika Allah memintamu berjuang.
Dan dalam setiap detik kehidupan, pastikan satu hal:
Bahwa yang engkau cari bukan dunia,
melainkan ridha-Nya.
Semoga kita termasuk hamba yang memiliki himmah ‘aliyah,
yang hidupnya selaras dengan kehendak Rabb-nya,
dan wafat dalam keadaan hati yang mulia.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)