TintaSiyasi.id -- Di antara kalimat emas para arif billah yang menenangkan jiwa adalah pesan agung dari Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari dalam kitab monumentalnya, Al-Hikam:
“Istirahatkan dirimu dari mengurus sesuatu yang telah diurus oleh Tuhanmu.”
Kalimat ini bukan ajakan untuk bermalas-malasan. Bukan pula seruan untuk meninggalkan usaha. Ia adalah panggilan langit agar manusia berhenti menjadi “tuhan kecil” yang merasa harus mengatur segalanya.
1. Ketika Manusia Ingin Mengurus Takdir
Ada manusia yang siang malam memikirkan rezeki dengan gelisah.
Ia takut kekurangan.
Ia takut gagal.
Ia takut tidak kebagian.
Seakan-akan rezeki itu hasil kecerdasannya semata. Seolah-olah ia yang menentukan kapan datang dan kapan berhenti.
Padahal Allah telah menetapkan seluruh kadar kehidupan di Lauh Mahfuzh, jauh sebelum bumi dan langit diciptakan. Rezeki, jodoh, umur, bahkan detak jantung terakhir—semuanya dalam ilmu-Nya.
Jika rezeki telah ditentukan kadarnya, dan seorang hamba tidak akan wafat sebelum sempurna jatahnya, maka ketakutan berlebihan adalah bukti lemahnya keyakinan.
Kita bekerja karena diperintah.
Tetapi hasil bukan wilayah kita.
2. Rezeki Tidak Pernah Tertukar
Seekor burung yang keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, kembali sore hari dalam keadaan kenyang. Ia tidak memiliki rekening. Tidak memiliki strategi bisnis. Tidak memiliki kalkulasi pasar.
Namun ia memiliki tawakal.
Manusia justru sering kehilangan ketenangan karena merasa semua bergantung pada dirinya. Di situlah letak kelelahan spiritual: terlalu sibuk mengurus apa yang bukan wilayah kehambaan.
Rezeki tidak pernah tertukar.
Tidak pernah salah alamat.
Tidak pernah datang kepada orang yang bukan pemiliknya.
Yang sering tertukar hanyalah persepsi kita.
Kita mengira yang banyak itu berkah.
Padahal belum tentu.
Kita mengira yang sedikit itu musibah.
Padahal bisa jadi itu rahmat yang tersembunyi.
3. Ibadah Tidak Mengurangi Rezeki
Sebagian orang khawatir:
“Jika saya memperbanyak ibadah, nanti rezeki saya berkurang.”
Ini logika yang terbalik.
Bukankah Allah pemilik rezeki?
Bagaimana mungkin Dia mengurangi jatah hamba-Nya hanya karena hamba itu taat?
Justru ibadah adalah sebab turunnya keberkahan. Usaha dan ibadah bukan dua kutub yang bertentangan. Dalam Islam, keduanya berjalan seiring.
Bekerjalah dengan profesional.
Berusahalah dengan maksimal.
Namun jangan serahkan hatimu kepada usaha itu.
Sebab ketika hati bergantung pada sebab, ia akan lelah.
Tetapi ketika hati bergantung kepada Musabbibul Asbab (Pengatur segala sebab), ia akan tenang.
4. Antara Ikhtiar dan Tawakal
Ikhtiar adalah gerak jasad.
Tawakal adalah ketenangan ruh.
Ikhtiar tanpa tawakal melahirkan stres.
Tawakal tanpa ikhtiar melahirkan kemalasan.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Seorang hamba yang matang imannya akan bekerja keras, namun hatinya ringan. Ia merencanakan masa depan, namun tidak tercekik oleh kecemasan.
Karena ia tahu:
Yang diwajibkan kepadaku adalah usaha.
Yang ditentukan oleh Allah adalah hasil.
Inilah rahasia ketenangan para wali dan orang-orang saleh. Mereka hidup di dunia, tetapi hati mereka tidak ditawan dunia.
5. Kelelahan yang Tidak Diperintahkan
Banyak manusia kelelahan bukan karena bekerja, tetapi karena cemas.
Bukan fisiknya yang hancur, melainkan pikirannya.
Bukan tubuhnya yang lelah, tetapi jiwanya.
Ia ingin memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah dipastikan Allah. Ia ingin mengontrol sesuatu yang bukan wilayahnya.
Padahal tugas kita sederhana:
• Shalat dengan khusyuk.
• Bekerja dengan amanah.
• Bersyukur atas yang ada.
• Bersabar atas yang tertunda.
Selain itu adalah urusan Allah.
Dan Allah tidak pernah keliru mengurus hamba-Nya.
6. Rezeki yang Sebenarnya
Rezeki bukan hanya uang.
Rezeki adalah:
• Hati yang tenang.
• Ilmu yang bermanfaat.
• Keluarga yang sakinah.
• Waktu untuk sujud.
• Kematian dalam keadaan husnul khatimah.
Apa artinya harta melimpah jika hati gelisah?
Apa artinya jabatan tinggi jika jauh dari Allah?
Boleh jadi Allah menahan sebagian dunia darimu agar engkau tidak jauh dari-Nya. Dan boleh jadi Dia memberi dunia kepadamu sebagai ujian, bukan kemuliaan.
Maka ukuran keberhasilan bukanlah banyaknya harta, tetapi dekatnya hati kepada Rabb-nya.
7. Istirahatkan Hatimu
Wahai jiwa yang letih oleh ambisi,
Wahai hati yang lelah oleh ketakutan,
Istirahatkan dirimu.
Bukan dari bekerja.
Tetapi dari mengurus takdir.
Serahkan rezekimu kepada Yang Maha Menjamin.
Serahkan jodohmu kepada Yang Maha Menentukan.
Serahkan ajalmu kepada Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan.
Tugasmu hanya satu: menjadi hamba.
Dan seorang hamba yang sejati tidak pernah gelisah terhadap apa yang telah dijamin oleh Tuhannya.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)