Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Krisis Kesehatan Jiwa Anak: Bukan Sekadar Aspek Medis Melainkan Akibat Sistem Sekuler Kapitalistik

Rabu, 18 Maret 2026 | 12:05 WIB Last Updated 2026-03-18T05:05:52Z

TintaSiyasi.id -- Anak merupakan aset penting dalam regenerasi sebuah peradaban. Tentu saja semua berharap anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan kokoh baik fisiknya maupun jiwanya. Namun, peradaban hari ini, yakni sekuler kapitalistik telah mendorong anak-anak mengalami krisis kesehatan jiwa. Alhasil, anak-anak yang rapuh jiwanya cenderung lebih memilih jalan mengakhiri hidupnya yang terbilang ibarat masih seumur jagung. Ironis!

Menanggapi maraknya kasus anak yang mengakhiri hidup di Indonesia, dilansir dari Kompas (7-3-2026), pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak yang ditandatangani sembilan menteri.

Sembilan menteri yang meneken SKB ini adalah Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenteriPPPA) Arifah Fauzi, Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, serta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Adapun faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup, berdasarkan data healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), di antaranya:
Pertama, konflik keluarga sebanyak 24–46 persen.
Kedua, masalah psikologis 8–26 persen.
Ketiga, perundungan 14–18 persen.
Keempat, tekanan akademik 7–16 persen.

Sungguh, krisis kesehatan jiwa anak bukanlah sekadar berkaitan dengan aspek medis, tetapi ada persoalan serius yang berkaitan dengan cara pandang (way of life) dan sistem nilai yang membentuk masyarakat hari ini. Di dalam peradaban yang didominasi oleh paradigma sekuler kapitalistik, berbagai aspek kehidupan cenderung menjauh dari nilai-nilai akidah dan syariat Islam. Terlebih dalam sistem sekuler ini parameter keberhasilan hanya diukur berdasarkan pencapaian materi dan prestasi duniawi.

Berdasarkan kondisi di atas, memunculkan pertanyaan mendasar mengenai akar persoalan krisis kesehatan jiwa pada anak serta bagaimana solusi yang komprehensif yang mampu membangun jiwa anak yang sehat, kuat, dan kokoh. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji persoalan ini melalui beberapa rumusan masalah berikut:
Pertama. Bagaimana sistem sekuler kapitalistik menjadi penyebab meningkatnya krisis kesehatan jiwa pada anak?
Kedua. Bagaimana Islam memberikan solusi untuk membangun kesehatan jiwa anak?

Way of Life Sistem Sekuler Kapitalistik Menjauhkan Generasi dari Nilai Islam

Krisis kesehatan jiwa anak telah menjadi fenomena yang sangat mengkhawatirkan di tengah masyarakat. Penandatanganan SKB Kesehatan Jiwa Anak hanyalah upaya teknis yang hanya meredam dampak masalah, tanpa ada upaya mencabut permasalahan dari akarnya. Berbagai masalah yang muncul di tengah masyarakat tidak lepas dari way of life yang dianut masyarakat hari ini, yakni berangkat dari paradigma sekuler kapitalistik.

Syekh Taqiyuddin an Nabhani, seorang ulama mujadid di dalam Kitab Nidhamul Islam, Bab Kiyadah Fikriyah, menjelaskan bahwa masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang hidup bersama dan di antara mereka terjadi interaksi yang diatur oleh seperangkat pemikiran, perasaan, dan sistem aturan yang sama.

Berdasarkan pemahaman tersebut nampak jelas bahwa terjadinya krisis kesehatan jiwa anak sebenarnya merupakan cerminan pemikiran, perasaan, dan sistem yang ada di masyarakat hari ini. Hidup di bawah atap peradaban sekuler kapitalistik, anak-anak dididik dengan orientasi hidup yang diarahkan untuk sekadar mencapai kepuasan individu dan pencapaian duniawi semata. Selain itu, kehidupan masyarakat juga cenderung liberal tanpa aturan atau nilai-nilai agama yang mengikat. Kondisi lingkungan yang demikian jangankan mengokohkan keimanan pada anak, membangun pondasi keimanan yang tangguh pun tidak akan mampu.

Inilah poin kritisnya, keimanan adalah modal awal dan utama bagi anak-anak untuk dapat bertahan dalam menjalani berbagai macam permasalahan dalam kehidupan. Ketika pikiran dan perasaan tidak berdiri di atas pondasi keimanan yang kuat, maka akan mudah goyah dan hilang harapan. Pada akhirnya ketika tertimpa masalah hidup, manusia akan mudah merasa tertekan, depresi, putus asa, dan enggan hidup hingga bunuh diri.

Selain itu, standar kebahagiaan ala sekuler kapitalistik yang berorientasi materi telah menekan manusia agar memandang kesuksesan hanya menitikberatkan pada tingkat ekonomi dan status sosial. Di sini, anak juga ditekan demi nilai akademik, kompetisi, dan mengejar prestasi. Standar materi ini yang akhirnya memicu tekanan psikologis di tengah masyarakat, termasuk pada anak-anak.

Padahal Allah Ta'ala, telah menegaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13 bahwa standar kesuksesan dan kemuliaan manusia hanya dinilai dari ketakwaan. Rasulullah Saw sendiri pun bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan tidak pula kepada harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim).

Jadi standar kemuliaan yang shahih tidak diukur dari banyak atau sedikitnya materi melainkan ketakwaan. Standar inilah yang membuat manusia tidak mudah stress karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih ketakwaan. Namun, standar ini dihilangkan oleh sekuler kapitalistik dari pemikiran, perasaan, dan sistem kehidupan masyarakat. Sekuler kapitalisme menggantinya dengan materi, akibatnya pendidikan di keluarga, di sekolah, dan di lingkungan masyarakat tidak berpijak pada akidah dan syariat Islam, namun justru paham materialistik.

Ditambah lagi, hegemoni media dan budaya global yang digerakkan oleh kepentingan kapitalisme turut memperkuat pengaruh nilai-nilai sekuler liberal dalam kehidupan anak. Berbagai konten media, gaya hidup, serta standar kesuksesan yang ditampilkan sering kali menekankan pencapaian materi, popularitas, dan kesenangan instan. Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan bagi anak untuk memenuhi standar tersebut, sehingga memicu rasa cemas, rendah diri, hingga stres ketika mereka tidak mampu mencapainya.

Diperparah, sistem pendidikan yang tidak berlandaskan pada akidah dan syariat Islam juga berkontribusi terhadap rapuhnya kesehatan jiwa anak. Pendidikan cenderung lebih menitikberatkan pada aspek kognitif dan pencapaian akademik, sementara pembinaan kepribadian, keimanan, dan akhlak sering kali tidak menjadi prioritas utama. Hal ini membuat anak kurang memiliki pegangan nilai yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dengan demikian, krisis kesehatan jiwa pada anak bukan hanya persoalan individu atau medis semata, tetapi juga berkaitan erat dengan sistem nilai dan paradigma kehidupan yang berkembang di masyarakat. Ketika sistem yang mendominasi tidak memberikan landasan spiritual yang kuat, anak-anak menjadi lebih rentan menghadapi tekanan psikologis dan kehilangan arah dalam menjalani kehidupannya, hingga berujung mengakhiri hidupnya.

Strategi Islam Mencetak Generasi yang Tangguh dan Kokoh

Krisis kesehatan jiwa anak tidak dapat dielak merupakan akibat penerapan sistem batil sekuler kapitalistik. Maka solusi komprehensif agar tuntas permasalahan anak bukan sekadar dengan SKB Sembilan Menteri, tetapi mencabut akar masalah tersebut, yakni sistem sekuler kapitalistik.

Masyarakat sudah selayaknya memandang sistem sekuler kapitalistik sebagai ancaman terbesar bagi tumbuh kembang anak. Untuk itu, penyelesaiannya tidak bisa dilakukan dengan solusi pragmatis teknis ataupun memperbaiki perilaku individu.

Allah Ta'ala berfirman:
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..." (TQS. Ali 'Imran: 110)

Ayat di atas mewajibkan kaum Muslim untuk melakukan amar makruf nahi mungkar ketika terjadi kezaliman dan kemaksiatan. Ini berarti harus ada dakwah diarahkan untuk mengganti sistem sekuler kapitalisme dengan sistem Islam yang menjadikan syariat Islam sebagai dasar pengaturan seluruh aspek kehidupan.

Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab besar sebagai raain (pengurus) sekaligus junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Peran ini menuntut negara untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan tata kelola kehidupan masyarakat berjalan sesuai dengan syariat Islam.

Dalam konteks perlindungan anak dan keluarga, negara wajib menutup berbagai pintu kerusakan yang lahir dari nilai-nilai sekuler kapitalistik baik yang masuk melalui sistem pendidikan, media, maupun budaya yang merusak tatanan moral generasi muda.

Oleh karena itu, paradigma politik pengelolaan berbagai sektor strategis harus terkait dengan syariat Islam. Sistem pendidikan harus dibangun di atas akidah Islam dengan tujuan membentuk kepribadian Islam dan melahirkan generasi yang berilmu sekaligus bertakwa. Sistem kesehatan harus diberikan sebagai jaminan sosial alias gratis kepada setiap warga negara sebagai bentuk amanah menjaga jiwa manusia. Demikian pula sistem ekonomi harus diatur berdasarkan hukum syariat yang menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu secara adil dan menutup celah eksploitasi kapitalistik.

Dengan penerapan Islam secara kaffah di seluruh lini kehidupan akan melahirkan tatanan kehidupan yang sehat secara fisik, kuat secara mental, serta kokoh akidahnya. Semua ini Tidka dapat diberikan oleh sistem sekuler kapitalistik hari ini, dibutuhkan sebuah institusi yang mampu menerapkannya, yakni Daulah Khilafah.[]

#LamRad
#LiveOppressedOrRiseUpAgainst


Dewi Srimurtiningsih
Dosol Uniol 4.0 Diponorogo

Opini

×
Berita Terbaru Update