Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketika Rafah Memanggil sang Khalifah

Kamis, 05 Maret 2026 | 13:21 WIB Last Updated 2026-03-05T06:21:56Z
Tintasiyasi.id.com -- Saat ini adakah sebuah negara yang benar-benar menjamin kesejahteraan rakyatnya? Adakah negara yang mau peduli dan membantu saudara-saudara seakidah yang dizalimi di negara lain?
Jawabnya tentu saja saat ini belum ada negara seperti itu.

Seperti yang terjadi di Palestina. Di mana telah terjadi genosida yang sangat mengerikan. Zionis dengan membabi buta menyerang rakyat Palestina tanpa pandang bulu, laki-laki, perempuan, anak-anak, dan lansia tidak luput dari penyerangan tersebut. Tujuannya jelas, ingin menguasai tanah Palestina secara mutlak.

Walaupun bantuan mengalir deras untuk rakyat Palestina, namun hal itu tidak lantas menjadikan Palestina sebagai negara merdeka. Bantuan makanan dan obat-obatan kebanyakan masih tertahan di Mesir dan Yordania.

Sementara di Rafah, pembukaan daerah tersebut masih sangat dibatasi. Hal itu disebabkan karena Zionis, sejak Maret 2025 telah memblokir akses masuk ke wilayah itu.

Penyeberangan Rafah yang terletak di perbatasan selatan Gaza, yang sebelumnya dibuka pada Februari 2026 akhirnya ditutup kembali bertepatan dengan dilakukannya serangan besar-besaran militer gabungan antara Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. 

Coordinator of Goverment Activities in the Territories (Cogat), Badan Militer Israel yang bertanggung jawab untuk mengawasi urusan sipil di wilayah Palestina yang diduduki dalam pernyataannya nengatakan bahwa penutupan Rafah sebagai bentuk penyesuaian keamanan seiring eskalasi konflik di Timur Tengah (Beritasatu.com 2-3-2026).

Board of Peace yang dibentuk Amerika yang digadang-gadang untuk menghasilkan perdamaian tidak berpengaruh apa pun terhadap rakyat Palestina. Hingga hari ini pembersihan etnis (ethnic cleansing) masih berlangsung, mengikuti pola lama yang terus berulang sejak tahun 1948. 

Sepertinya harus ada sebuah institusi negara yang bisa mengimbangi dan melawan semua kekuatan yang ada agar Rafah khususnya dan Palestina umumnya dapat terbebas dari segala macam bentuk intimidasi.

Jika syariah Islam diterapkan dalam semua aspek kehidupan, maka tidak akan ada penjajahan atas tanah kaum muslimin, karena negara bertindak sebagai junnah (pelindung) yang menjaga jiwa, harta, dan wilayah. 

Sang Khalifah sebagai pemimpin negara Islam akan dengan sangat sigap memberikan bantuan terhadap rakyatnya yang dizalimi. Hal itu pernah dilakukan oleh rasul Muhammad saw. Dengan pasukannya berhasil mengepung Yahudi Bani Qainuqa di Madinah selama 15 hari yang membuat Yahudi akhirnya menyerah, hanya karena membela seorang muslimah yang dilecehkan.

Kemudian Khalifah Mu'tashim Billah yang berkuasa sejak tahun 833 hingga 842 Masehi pun pernah melakukan hal yang sama seperti rasul Muhammad saw. Ketika ada seorang muslimah yang dilecehkan dan memanggil Pemimpin Abbasiyah itu untuk meminta pertolongan, maka tanpa ragu beliau mengerahkan ribuan pasukan untuk menolong dan membebaskan muslimah tersebut di Ammuriyah.

Itulah yang akan terjadi ketika ada warganegara Islam merasa dizalimi, maka yang pertama kali dipanggil adalah sang khalifah sebagai pelindung. Karena itu menjadi simbol dedikasi pemimpin tertinggi dalam melindungi setiap warganegaranya. 

Sudah menjadi kepastian, ketika ada sebuah institusi negara Islam, yang pertama dipanggil adalah sang Khalifah untuk dimintai pertolongan. Termasuk Rafah yang memang sangat membutuhkan pertolongan dari sang Khalifah. Ketika masa itu tiba maka tidak ada lagi yang berani untuk semena-mena terhadap kaum Muslimin. Wallahu'alam bishshowwab.[]

Oleh: Yuli Juharini
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update