TintaSiyasi.id -- (Refleksi Dakwah Ideologis–Sufistik)
Di antara penyakit ruhani yang paling halus namun paling berbahaya dalam kehidupan manusia adalah lalai dari mengingat Allah. Kelalaian ini tidak selalu tampak dalam bentuk kemaksiatan yang terang-terangan. Terkadang ia justru bersembunyi di balik kesibukan yang terlihat mulia: bekerja keras, mencari nafkah, membangun keluarga, dan mengurus masa depan anak-anak.
Semua itu tampak baik, bahkan dianjurkan dalam agama. Namun ketika semua kesibukan itu menggeser posisi Allah dari pusat kehidupan, maka pada saat itulah hati mulai kehilangan cahaya.
Al-Qur’an memperingatkan dengan sangat tegas:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.”
Firman Allah ini tercantum dalam Al-Qur'an pada Surah Al-Munafiqun ayat 9.
Ayat ini bukan sekadar peringatan moral. Ia adalah peringatan eksistensial bagi manusia yang hidup di tengah dunia yang penuh dengan kesibukan dan godaan.
Dunia yang Mengalihkan Hati
Harta dan anak adalah dua nikmat terbesar dalam kehidupan manusia. Karena itu pula, keduanya menjadi ujian terbesar bagi keimanan.
Harta mampu membuat manusia sibuk tanpa henti.
Anak-anak mampu membuat hati manusia terikat begitu dalam.
Seorang ayah bekerja dari pagi hingga malam demi keluarganya. Seorang ibu menghabiskan waktunya demi masa depan anak-anaknya. Semua itu adalah amal yang mulia.
Namun persoalannya bukan pada aktivitasnya, melainkan pada posisi hati.
Ketika hati lebih sibuk memikirkan dunia daripada mengingat Allah, maka perlahan-lahan dzikir memudar dari jiwa.
Shalat mulai terasa berat.
Tilawah Al-Qur’an mulai jarang dilakukan.
Majelis ilmu mulai ditinggalkan.
Hati yang dahulu lembut mulai mengeras tanpa disadari.
Awal dari Penguasaan Setan
Para ulama menjelaskan bahwa kelalaian dari dzikir adalah pintu masuk bagi setan.
Ketika seorang hamba berhenti mengingat Allah, maka ruang hatinya menjadi kosong. Dan ruang kosong itu tidak pernah dibiarkan kosong oleh setan.
Ia akan mengisinya dengan berbagai bisikan:
• kekhawatiran yang berlebihan terhadap dunia
• ambisi yang tidak pernah selesai
• kecintaan yang melampaui batas terhadap materi
Akhirnya manusia mulai hidup dalam ilusi bahwa dunia adalah segalanya.
Padahal dunia hanyalah persinggahan sementara dalam perjalanan menuju kehidupan yang kekal.
Kerugian yang Tidak Disadari
Allah menutup ayat tersebut dengan peringatan yang sangat keras:
“Barang siapa melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
Kerugian ini bukan kerugian yang tampak di mata manusia.
Seseorang mungkin memiliki rumah besar.
Ia mungkin memiliki kendaraan mewah.
Ia mungkin memiliki keluarga yang sempurna.
Namun jika hatinya jauh dari Allah, maka sesungguhnya ia sedang mengalami kerugian yang paling besar.
Kerugian itu adalah kehilangan makna hidup.
Hidup terasa penuh tekanan.
Hati terasa gelisah tanpa sebab.
Kebahagiaan terasa semakin jauh meskipun harta semakin banyak.
Inilah yang oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai kehidupan yang sempit.
Mengapa Dzikir Memberi Ketenangan?
Dzikir bukan sekadar aktivitas lisan. Dzikir adalah keterhubungan ruhani antara hamba dan Tuhannya.
Ketika seorang hamba mengingat Allah, ia menyadari bahwa:
• rezekinya dijamin oleh Allah
• hidupnya diatur oleh Allah
• masa depannya berada dalam kekuasaan Allah
Kesadaran ini melahirkan ketenangan batin yang mendalam.
Karena itu Allah berfirman dalam Al-Qur'an pada Surah Ar-Ra'd ayat 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ketenangan ini tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa diperoleh dengan jabatan, dan tidak bisa diraih dengan kekuasaan.
Ia hanya lahir dari kedekatan kepada Allah.
Jalan Sufistik: Menghidupkan Allah di Tengah Dunia
Jalan para arifin bukanlah meninggalkan dunia sepenuhnya. Mereka tetap bekerja, berkeluarga, dan berusaha.
Namun mereka memiliki satu prinsip besar:
Dunia berada di tangan mereka, tetapi tidak pernah masuk ke dalam hati mereka.
Inilah rahasia kehidupan para wali dan orang-orang saleh.
Mereka berdagang, tetapi hati mereka bersama Allah.
Mereka memimpin masyarakat, tetapi jiwa mereka selalu berdzikir.
Karena itu mereka tidak pernah diperbudak oleh dunia.
Sebaliknya, dunia justru menjadi alat untuk mendekat kepada Allah.
Menjadikan Harta dan Anak sebagai Jalan Menuju Surga
Islam tidak memerintahkan kita meninggalkan dunia, tetapi menata niat terhadap dunia.
Harta tidak harus menjadi penghalang menuju Allah.
Ia bisa menjadi jalan menuju surga apabila digunakan untuk:
• sedekah
• membantu orang miskin
• membangun pendidikan
• memakmurkan masjid
Demikian pula anak-anak.
Mereka tidak hanya menjadi sumber kebahagiaan dunia, tetapi juga bisa menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus.
Ketika anak-anak dididik dengan iman, mereka akan menjadi generasi yang selalu mendoakan orang tuanya.
Refleksi Akhir: Mengembalikan Allah ke Pusat Kehidupan
Hakikat kehidupan seorang mukmin adalah menjadikan Allah sebagai pusat dari seluruh aktivitas hidupnya.
Ia bekerja karena Allah.
Ia mendidik anak karena Allah.
Ia mencari rezeki karena Allah.
Dengan demikian, seluruh aktivitas dunia berubah menjadi ibadah yang bernilai akhirat.
Inilah kehidupan yang penuh keberkahan.
Bukan kehidupan yang dipenuhi oleh kegelisahan dunia, tetapi kehidupan yang dipenuhi oleh cahaya dzikir dan ketenangan iman.
Karena pada akhirnya, keberuntungan sejati bukanlah banyaknya harta, bukan pula banyaknya anak.
Keberuntungan sejati adalah hati yang selalu hidup bersama Allah.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)