Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kekerasan Remaja Marak, Buah Sistem Rusak

Rabu, 18 Maret 2026 | 14:28 WIB Last Updated 2026-03-18T07:28:28Z

Tintasiyasi.id.com -- Ramadhan tinggal beberapa hari. Selayaknya umat Islam berfokus pada ibadah, tapi tidak dengan para remaja di Kudus pada Senin dini hari (9/3/2026). Sebanyak 27 remaja diamankan setelah diduga berencana melakukan tawuran di depan Mie Gacoan, Kelurahan Purwosari, Kudus. 

Aksi tersebut bermula dari saling ejek atau bullying di sekolah yang kemudian berlanjut menjadi tantangan tawuran melalui pesan langsung (Direct Message) di Instagram. Remaja yang masih berusia sekolah ini akhirnya diberikan pembinaan oleh Polsek Kudus Kota (betanews.id, 12-03-2026).

Aksi tawuran antarkelompok yang menewaskan korban RAG juga terjadi di Kecamatan II, pada Sabtu (7/3/2026) sekitar pukul 02.30 WIB. Polisi berhasil menangkap MM (19) remaja yang menusuk pemuda berinisial RAG (20) hingga tewas saat tawuran di Palembang, Sumatera Selatan. 

Pelaku ditangkap di daerah Cilegon, Banten.Jedi mengatakan dalam penangkapan pelaku, penyidik mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain satu buah senjata tajam jenis tombak bermata tiga bergagang bambu, satu kaos berwarna hitam dan satu jaket berwarna hijau milik pelaku (Detik.com 11-03-2026).

Dunia pendidikan kita kembali berduka. Seorang mahasiswi menjadi korban pembacokan di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau Kamis pagi, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB. 

Pelaku RM melakukan aksi brutal ini saat korban F akan mengikuti seminar proposal. Motif diduga terkait persoalan pribadi setelah penolakan cinta saat keduanya mengikuti KKN, yang berujung pada aksi penyerangan (Metrotvnews.com, 26-02-2026).

Kekerasan Remaja dampak Normalisasi Gaul Bebas

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah kita terutama polisi dalam melakukan aksi pencegahan. Polisi melakukan tindakan preventif berupa patroli dan pembinaan baik di lingkungan masyarakat, sekolah, atau kampus. 

Tentunya, ini patut diapresiasi. Namun kita juga perlu menelisik, ada baiknya kegiatan ini tidak hanya dilakukan di momen tertentu atau setelah ada kejadian dan korban jiwa. 

Kekerasan remaja bukanlah kali pertama, tapi selalu berulang dan terjadi hal yang sama tiap tahunnya. Berarti ada masalah yang lebih besar yang membuat solusi preventif itu tidak efektif. 

Adalah sekuler kapitalisme biang keladi dari masalah kekerasan remaja hari ini. Sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan merusak tatanan hidup masyarakat terutama remaja. 

Kebahagiaan ala sekularisme membentuk standar kebebasan dan bertindak semaunya dalam diri remaja tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Ditambah masyarakat yang individual mulai mengikis kepedulian lingkungan. 

Akhirnya remaja yang dekat dengan aktivitas kekerasan, pergaulan bebas, bullying, dibiarkan. Ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekuler membentuk generasi berkepribadian mulia.

Normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya pergaulan bebas (pacaran, perzinaan) di tengah keluarga dan masyarakat berdampak besar dalam mengubah prilaku yang bertentangan dengan norma agama bahkan berujung pada penganiayaan dan pembunuhan. 

Ini sangat wajar terjadi di negara dengan sistem kapitalis yang tidak memprioritaskan pembinaan generasi. Sehingga generasi sering dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi.

Islam Solusi Hakiki

Islam punya metode yang khas dalam menyelamatkan generasi. Generasi unggul hanya bisa terwujud tatkala sistem pendidikannya bertujuan membentuk manusia-manusia yang cerdas secara ilmu pengetahuan namun juga kaya akan keimanan dan ketakwaan. 

Sistem pendidikan IsIam dibangun di atas dasar akidah, dengan tujuan membentuk kepribadian Islam, yaitu pola pikir dan pola sikap sesuai nilai-nilai IsIam. Aturan ini meneguhkan tiap individu masyarakat untuk dekat dengan aturan agama. 

Generasi dididik untuk memiliki kesadaran untuk taat pada syariat, halal-haram, tanggung jawab, dan ketakwaan, bukan hanya fokus pada capaian akademik atau keterampilan.

Negara memberikan akses pendidikan untuk seluruh rakyat secara gratis. Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah kebutuhan primer. Negara wajib memfasilitasinya tanpa memungut biaya dari rakyat. 

Dengan begitu, para peserta didik bisa lebih tenang menempuh pendidikan sesuai yang diminatinya. Orang tua juga bisa lebih fokus dalam mendidik anak-anak mereka tanpa merasa risau dengan biaya pendidikan. 

Negara tidak menoleransi segala bentuk pemikiran dan pemahaman asing yang merusak. Suasana yang dibangun adalah masyarakat yang terbiasa berdakwah. Merekalah kontrol sosial sesungguhnya di tengah masyarakat. Negara menegakkan sanksi tegas bagi pelaku kejahatan. 

Sistem sanksi akan berlaku sebagai upaya kuratif ketika berbagai upaya preventif masih dilanggar. Efek nyata penerapan sistem sanksi dalam Islam ialah membuat pelaku jera sehingga ia tidak akan pernah berpikir untuk mengulangi kejahatannya. Setiap pelaku kejahatan yang sudah terkategori akil balig dan mukalaf bisa diterapkan sanksi Islam atasnya, termasuk jika pelakunya adalah remaja.

Sudah saatnya mencampakkan sistem yang rusak ini dengan sistem IsIam yang sesuai dengan fitrah manusia. Kembali pada aturan Allah sang pencipta dan pengatur alam semesta dan seisinya. Karena dengan kembali pada aturan Allah saja kehidupan yang menyejahterakan dan membahagiakan akan terwujud, dan hidup berlimpah pahala. Wallahu a'lam bishshawwab.[]

Oleh: Humaida Aulia, S. Pd. I
(Pendidik generasi) 

Opini

×
Berita Terbaru Update