Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI: Riset Berdampak Adalah “Lailatulqadar” bagi Peradaban Ilmu

Rabu, 18 Maret 2026 | 06:48 WIB Last Updated 2026-03-17T23:48:02Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa riset yang berdampak luas dapat dianalogikan sebagai “Lailatulqadar” bagi seorang periset. “Riset yang berdampak luas dapat dianalogikan sebagai “Lailatulqadar” bagi seorang periset,” sebutnya.

 

“(Riset itu) sebuah momentum ilmiah yang nilainya melampaui waktu, melahirkan manfaat besar bagi manusia, sekaligus menjadi jalan menuju ketakwaan kepada Allah Swt.,” beber HILMI.

 

Penegasan tersebut disampaikan kepada TintaSiyasi.ID dalam Intellectual Opinion No. 045 bertajuk Riset yang Berdampak: Lailatulqadar bagi Seorang Periset yang dirilis pada Selasa (17/03/2026).

 

Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa dalam tradisi Islam, Lailatulqadar merupakan malam yang memiliki nilai spiritual sangat tinggi.

 

“Al-Qur’an menyebutnya sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan,” tuturnya seraya menukil Al-Qur’an surah Al-Qadr ayat 3.

 

Menurut HILMI, konsep tersebut tidak hanya relevan dalam konteks ibadah personal, tetapi juga memberikan inspirasi bagi dunia ilmu pengetahuan.

 

Sebuah penelitian yang benar dan bermakna, lanjutnya, dapat menghasilkan manfaat yang jauh melampaui usia hidup penelitinya.

 

“Ia dapat mengubah kebijakan publik, menyejahterakan manusia, bahkan membentuk arah peradaban,” paparnya.

 

HILMI menjabarkan bahwa riset yang demikian tidak hanya memiliki dampak horizontal berupa manfaat sosial, tetapi juga dampak vertikal berupa peningkatan ketakwaan kepada Allah Swt..

 

“Dalam perspektif Al-Qur’an, ilmu tidak pernah bersifat netral secara spiritual. Ilmu merupakan jalan menuju kesadaran akan kebesaran Allah,” jelasnya.

 

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama,” kata HILMI menyitat Al-Qur’an surah Fathir ayat 28.

 

Ayat tersebut, ungkap HILMI, menunjukkan bahwa pengetahuan yang benar seharusnya melahirkan rasa tunduk dan takut kepada Allah.

 

“Semakin seseorang memahami kompleksitas alam, semakin ia menyadari keteraturan yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan,” terangnya.

 

HILMI mencontohkan bagaimana ilmuwan Muslim klasik memahami riset sebagai bagian dari ibadah.

 

“Ibnu Al-Haytham memandang penelitian sebagai jalan menemukan kebenaran yang mengantarkan pada pengakuan terhadap kebijaksanaan Sang Pencipta,” ungkapnya.

 

Demikian pula Al-Biruni, yang disebut HILMI telah mengembangkan penelitian empiris dalam geografi dan astronomi.

 

“Bagi mereka, riset adalah bentuk kontemplasi intelektual terhadap ciptaan Allah,” imbuhnya.

 

Karena itu, HILMI menyatakan bahwa dampak pertama dari ilmu adalah dampak vertikal—yakni mendekatkan manusia kepada Tuhan.

 

“Ilmu menjadikan manusia sadar akan keterbatasannya dan semakin dekat kepada Allah,” simpulnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update