TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa riset yang berdampak luas dapat dianalogikan sebagai “Lailatulqadar” bagi seorang periset. “Riset yang berdampak luas dapat dianalogikan sebagai “Lailatulqadar” bagi seorang periset,” sebutnya.
“(Riset itu) sebuah momentum
ilmiah yang nilainya melampaui waktu, melahirkan manfaat besar bagi manusia,
sekaligus menjadi jalan menuju ketakwaan kepada Allah Swt.,” beber HILMI.
Penegasan tersebut disampaikan kepada
TintaSiyasi.ID dalam Intellectual Opinion No. 045 bertajuk Riset
yang Berdampak: Lailatulqadar bagi Seorang Periset yang dirilis pada Selasa
(17/03/2026).
Dalam dokumen tersebut dijelaskan
bahwa dalam tradisi Islam, Lailatulqadar merupakan malam yang memiliki nilai
spiritual sangat tinggi.
“Al-Qur’an menyebutnya sebagai
malam yang lebih baik daripada seribu bulan,” tuturnya seraya menukil Al-Qur’an
surah Al-Qadr ayat 3.
Menurut HILMI, konsep tersebut tidak
hanya relevan dalam konteks ibadah personal, tetapi juga memberikan inspirasi
bagi dunia ilmu pengetahuan.
Sebuah penelitian yang benar dan
bermakna, lanjutnya, dapat menghasilkan manfaat yang jauh melampaui usia hidup
penelitinya.
“Ia dapat mengubah kebijakan
publik, menyejahterakan manusia, bahkan membentuk arah peradaban,” paparnya.
HILMI menjabarkan bahwa riset
yang demikian tidak hanya memiliki dampak horizontal berupa manfaat sosial,
tetapi juga dampak vertikal berupa peningkatan ketakwaan kepada Allah Swt..
“Dalam perspektif Al-Qur’an, ilmu
tidak pernah bersifat netral secara spiritual. Ilmu merupakan jalan menuju
kesadaran akan kebesaran Allah,” jelasnya.
“Sesungguhnya yang takut
kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama,” kata HILMI
menyitat Al-Qur’an surah Fathir ayat 28.
Ayat tersebut, ungkap HILMI,
menunjukkan bahwa pengetahuan yang benar seharusnya melahirkan rasa tunduk dan
takut kepada Allah.
“Semakin seseorang memahami
kompleksitas alam, semakin ia menyadari keteraturan yang tidak mungkin terjadi
secara kebetulan,” terangnya.
HILMI mencontohkan bagaimana
ilmuwan Muslim klasik memahami riset sebagai bagian dari ibadah.
“Ibnu Al-Haytham memandang
penelitian sebagai jalan menemukan kebenaran yang mengantarkan pada pengakuan
terhadap kebijaksanaan Sang Pencipta,” ungkapnya.
Demikian pula Al-Biruni, yang disebut
HILMI telah mengembangkan penelitian empiris dalam geografi dan astronomi.
“Bagi mereka, riset adalah bentuk
kontemplasi intelektual terhadap ciptaan Allah,” imbuhnya.
Karena itu, HILMI menyatakan
bahwa dampak pertama dari ilmu adalah dampak vertikal—yakni mendekatkan manusia
kepada Tuhan.
“Ilmu menjadikan manusia sadar
akan keterbatasannya dan semakin dekat kepada Allah,” simpulnya.[] Rere