Renungan Sufistik dari Nasihat Ali bin Abi Thalib dalam Kitab Nashā’ih al-‘Ibād
TintaSiyasi.id -- Dalam perjalanan hidup manusia, tujuan tertinggi seorang mukmin bukan sekadar meraih keberhasilan dunia, tetapi mencapai keshalihan sejati—yakni keadaan ketika hati, pikiran, dan amalnya selaras dengan kehendak Allah. Keshalihan adalah cahaya yang menerangi jiwa, menuntun langkah, dan menenangkan batin di tengah hiruk pikuk kehidupan.
Namun, jalan menuju keshalihan bukanlah jalan yang mudah. Ia adalah perjalanan spiritual yang penuh ujian, karena dalam diri manusia terdapat berbagai dorongan yang dapat menghalangi seseorang dari jalan kebaikan.
Para ulama besar Islam telah memberikan nasihat yang sangat mendalam mengenai hal ini. Salah satu nasihat yang terkenal datang dari sahabat agung Nabi Muhammad ﷺ, Ali bin Abi Thalib, yang kemudian diriwayatkan dalam kitab hikmah dan nasihat karya ulama Nusantara yang agung, Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Nashā’ih al-‘Ibād.
Dalam nasihat tersebut dijelaskan bahwa terdapat beberapa perkara yang dapat menghalangi seseorang mencapai keshalihan. Jika penghalang-penghalang ini tidak disadari dan tidak diatasi, maka seseorang akan terus merasa jauh dari ketenangan iman, meskipun ia hidup dalam berbagai kenikmatan dunia.
Tulisan ini mencoba menguraikan hikmah tersebut dalam perspektif dakwah ideologis dan sufistik, agar kita mampu melihat lebih dalam perjalanan jiwa menuju Allah.
Keshalihan: Cahaya yang Menghidupkan Hati
Keshalihan bukan sekadar banyaknya ibadah formal. Banyak orang yang tampak rajin beribadah, tetapi hatinya tetap gelisah, mudah marah, atau dipenuhi kecemasan dunia.
Dalam perspektif tasawuf, keshalihan adalah keadaan ketika:
• hati bersih dari penyakit spiritual,
• niat ikhlas karena Allah,
• amal bermanfaat bagi sesama manusia,
• dan hidup selalu terhubung dengan Allah.
Keshalihan adalah harmoni antara lahir dan batin.
Karena itu, seseorang tidak akan mencapai keshalihan sejati selama hatinya masih terbelenggu oleh berbagai penyakit batin.
Penghalang-Penghalang Keshalihan
1. Cinta Dunia yang Berlebihan (Hubbud Dunya)
Penghalang pertama yang sangat besar adalah cinta dunia yang berlebihan.
Dunia pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang tercela. Islam tidak melarang manusia mencari harta, kedudukan, atau keberhasilan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika dunia menguasai hati manusia.
Ketika dunia menjadi tujuan utama hidup, maka:
• ibadah hanya menjadi rutinitas tanpa ruh
• kebaikan dilakukan demi pujian manusia
• harta menjadi ukuran kebahagiaan
Padahal dunia hanyalah tempat singgah sementara dalam perjalanan menuju akhirat.
Para ulama tasawuf sering mengingatkan:
Dunia itu seperti air laut.
Semakin banyak diminum, semakin bertambah haus.
Orang yang terlalu mencintai dunia akan terus merasa kurang, meskipun ia memiliki segalanya.
Sebaliknya, orang yang hatinya dekat dengan Allah akan merasakan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan harta apa pun.
2. Panjang Angan-Angan (Thulul Amal)
Salah satu penyakit hati yang sangat halus adalah panjang angan-angan.
Manusia sering merasa bahwa hidupnya masih panjang. Karena itu ia menunda berbagai kebaikan.
Ia berkata dalam hatinya:
• “Nanti saja saya akan berubah.”
• “Masih muda, nanti kalau tua baru rajin ibadah.”
• “Sekarang fokus mencari uang dulu.”
Tanpa disadari, waktu terus berjalan. Hari demi hari berlalu, dan usia semakin berkurang.
Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang.
Para ulama salaf mengatakan:
“Barang siapa yang selalu mengingat kematian, maka ia akan mempercepat taubatnya.”
Sebaliknya, orang yang panjang angan-angan akan terus menunda perubahan sampai akhirnya hatinya menjadi keras.
3. Mengikuti Hawa Nafsu
Musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan hawa nafsu yang ada dalam dirinya sendiri.
Hawa nafsu dapat menjerumuskan manusia ke dalam berbagai bentuk kesalahan:
• kesombongan
• iri hati
• kemarahan
• syahwat yang tidak terkendali
• keinginan dipuji manusia
Ketika hawa nafsu menjadi pemimpin, maka iman akan menjadi lemah.
Dalam perjalanan spiritual, perjuangan melawan hawa nafsu disebut sebagai jihad terbesar.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa hati manusia selalu berada dalam pertarungan antara dua kekuatan:
• cahaya iman,
• dan tarikan hawa nafsu.
Jika seseorang membiarkan hawa nafsu menguasai dirinya, maka jalan menuju keshalihan akan tertutup.
4. Lingkungan yang Buruk
Manusia adalah makhluk sosial. Ia sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.
Seseorang yang sering berkumpul dengan orang yang lalai dari agama akan mudah terpengaruh.
Lingkungan yang buruk dapat membuat seseorang terbiasa dengan:
• ghibah
• fitnah
• kemaksiatan
• meremehkan nilai-nilai agama
Sebaliknya, berkumpul dengan orang-orang saleh akan menumbuhkan semangat untuk menjadi lebih baik.
Para ulama memberikan perumpamaan yang sangat indah:
Berteman dengan orang saleh seperti berada di toko minyak wangi.
Meskipun tidak membeli, kita tetap akan mendapatkan harum aromanya.
Lingkungan yang baik adalah ladang tumbuhnya keshalihan.
5. Lalai Mengingat Allah (Ghaflah)
Kelalaian dari mengingat Allah adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya.
Ketika hati jarang berdzikir, maka:
• jiwa mudah gelisah
• hati mudah dipenuhi kecemasan
• pikiran mudah terseret oleh godaan dunia
Padahal Allah telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa ketenangan sejati hanya datang dari mengingat-Nya.
Dzikir bukan sekadar ucapan lisan, tetapi kesadaran hati bahwa Allah selalu hadir dalam setiap langkah hidup kita.
Orang yang hatinya hidup dengan dzikir akan merasakan ketenangan yang mendalam, bahkan ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.
6. Tidak Mau Muhasabah
Keshalihan tidak mungkin lahir tanpa muhasabah, yaitu kemampuan untuk mengevaluasi diri sendiri.
Banyak orang sibuk menilai kesalahan orang lain, tetapi lupa melihat kekurangan dirinya sendiri.
Padahal para ulama salaf selalu melakukan muhasabah setiap hari:
• apakah amal hari ini lebih baik dari kemarin
• apakah hati masih bersih dari riya dan kesombongan
• apakah niat masih ikhlas karena Allah
Muhasabah adalah cermin yang memperlihatkan keadaan hati kita yang sebenarnya.
Tanpa muhasabah, seseorang bisa merasa dirinya sudah baik, padahal sebenarnya ia masih jauh dari keshalihan.
Jalan Menuju Keshalihan
Jika kita memahami berbagai penghalang tersebut, maka kita juga harus memahami jalan untuk mengatasinya.
Keshalihan dapat tumbuh jika seseorang:
• memurnikan niat dalam setiap amal
• memperbanyak dzikir kepada Allah
• menjaga hati dari penyakit spiritual
• memilih lingkungan yang baik
• mempercepat taubat ketika melakukan kesalahan
Keshalihan bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari perjuangan spiritual yang terus menerus.
Setiap hari kita harus berusaha membersihkan hati dari berbagai kotoran dunia.
Renungan Sufistik
Para ulama tasawuf mengatakan:
“Dunia bukanlah sesuatu yang berbahaya jika berada di tanganmu.
Tetapi dunia akan menjadi racun jika masuk ke dalam hatimu.”
Hati manusia ibarat cermin. Jika ia dipenuhi oleh debu dunia, maka ia tidak mampu memantulkan cahaya Ilahi.
Namun jika hati dibersihkan dengan taubat, dzikir, dan keikhlasan, maka ia akan menjadi cermin yang memantulkan cahaya Allah.
Keshalihan sejati adalah ketika seseorang hidup di dunia tetapi hatinya selalu bersama Allah.
Ia bekerja, berusaha, dan berinteraksi dengan manusia, tetapi hatinya tetap terhubung dengan Sang Pencipta.
Penutup: Keshalihan adalah Perjalanan Jiwa
Nasihat Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan dalam kitab Nashā’ih al-‘Ibād adalah pengingat bahwa perjalanan menuju keshalihan bukan sekadar memperbanyak amal lahiriah, tetapi juga membersihkan hati dari berbagai penghalang spiritual.
Setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Namun yang membedakan orang saleh dengan yang lain adalah kesungguhannya untuk terus memperbaiki diri.
Keshalihan bukanlah kesempurnaan tanpa dosa, tetapi ketulusan untuk selalu kembali kepada Allah.
Dan pada akhirnya, orang yang benar-benar saleh adalah mereka yang ketika hidupnya berakhir, ia meninggalkan dunia dengan hati yang tenang dan jiwa yang ridha kepada Allah.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)