Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Eskalasi AS–Israel dan Iran: Ujian Kesadaran Politik dan Persatuan Umat

Kamis, 05 Maret 2026 | 21:14 WIB Last Updated 2026-03-05T14:14:40Z

Tintasiyasi.id.com -- Amerika Serikat (AS) Bersama dengan sekutunya Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran penting atas Iran melalui udara dan laut, hal ini menurut laporan Reuters, Sabtu (28/2/2026). 

Serangan-serangan ini disebut sebagai bagian dari upaya membendung pengaruh Iran di kawasan, khususnya terkait program nuklir dan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok perlawanan di Timur Tengah.

Akibat dari serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Sementara itu, Bulan Sabit Merah Iran pada Senin (2/3/2026) menyatakan jumlah korban tewas akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel sejak Sabtu meningkat menjadi 555 orang. 

Dalam pernyataan yang dikutip Kantor Berita Fars, disebutkan serangan gabungan tersebut menargetkan 131 kawasan permukiman di berbagai wilayah Iran, Republika (2/3/2026).

Iran kemudian melancarkan serangan balasan yang diklaim menargetkan kepentingan militer Israel maupun fasilitas yang terkait dengan Amerika Serikat. Media seperti BBC News dan CNN memberitakan bahwa Iran menyebut serangan tersebut sebagai respons defensif atas agresi sebelumnya. 

Serangan balasan ini memperlihatkan bahwa Iran tidak tinggal diam dan memiliki kemampuan untuk menjangkau target strategis, termasuk di wilayah yang selama ini dianggap relatif aman.

Respon dunia Arab dan Islam beragam. Beberapa negara menyerukan de-eskalasi dan penyelesaian diplomatik melalui forum seperti Organisasi Kerja Sama Islam, Indonesia bahkan menawarkan untuk menjadi mediator perdamaian. 

Disisi lain, ada pula yang cenderung berhati-hati karena pertimbangan politik dan ekonomi dengan Amerika Serikat. Berbeda dengan sikap pemimpinnya, masyarakat sipil di berbagai negara mayoritas muslim menunjukkan solidaritas terhadap rakyat yang terdampak konflik, sekaligus menyuarakan penolakan terhadap perang yang berpotensi meluas.

Disisi lain, dari beberapa pernyataan yang disampaikan oleh presiden AS Donald Trump, tujuan strategis atas serangan terhadap Iran memiliki beberapa tujuan yaitu membatasi pengembangan program nuklir Iran dan melemahkan pengaruh geopolitik Iran di Suriah, Lebanon, dan kawasan Teluk. 

Selain itu, juga disinyalir untuk mengirim pesan deterrence (daya gentar) kepada aktor-aktor regional lainnya. Dalam kerangka lebih luas, langkah ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang selama beberapa dekade berupaya menjaga dominasi pengaruhnya di Timur Tengah.

Adapun, Serangan balasan Iran terhadap wilayah di Bahrain, UEA, atau Qatar tidak dapat serta-merta dipahami sebagai serangan terhadap sesama kaum Muslimin. Iran menyatakan bahwa targetnya adalah instalasi militer dan pangkalan yang digunakan oleh AS dalam operasi militer. 

Dengan demikian, dalam perspektif geopolitik, sasaran utamanya adalah infrastruktur militer AS—bukan masyarakat Muslim di negara-negara tersebut. Pangkalan militer AS di kawasan telah berdiri sejak awal 1990-an digunakan untuk melancarkan serangan kepada negara muslim disekitarnya seperti Irak, Afghanistan, dan terakhir Iran. 

Keberadaan pangkalan permanen tersebut berpotensi menjadikan kawasan Timur Tengah sebagai arena perpecahan dan konflik berkepanjangan.

Dilihat dari berbagai kondisi diatas, Nampak bahwa serangan terhadap Iran adalah strategi jangka Panjang AS untuk mempertahankan dan memperluas dominasinya di Timur Tengah. 

Keterlibatan negeri-negeri muslim dengan menyediakan pangkalan militernya justru menguatkan atas upaya tersebut dan menjadi potensi konflik internal kaum muslimin.

Dalam situasi seperti ini, umat Islam tidak boleh terjebak pada konflik sektarian atau polarisasi politik yang justru memperlemah posisi bersama. Narasi yang mempertentangkan sesama negara Muslim hanya akan memperdalam fragmentasi. 

Akar masalah yang lebih mendasar adalah dinamika perebutan pengaruh dan kepentingan geopolitik global, termasuk upaya dominasi dan penguasaan sumber daya strategis oleh kekuatan besar.

Persatuan umat menjadi kunci dalam menghadapi tekanan eksternal. Sikap yang perlu dikedepankan adalah:

1. Menolak framing sektarian yang memecah belah umat.

2. Mengedepankan persatuan umat Islam di atas perbedaan mazhab dan politik.

3. Mendorong penyelesaian konflik secara adil dan menghargai kedaulatan negara lain.

4. Menjaga literasi informasi, tidak mudah terprovokasi oleh propaganda dan perang psikologis.

Sadarlah wahai umat Islam, ekskalasi ini bukan hanya tentang satu negara atau satu madzhab, ini adalah cerminan kondisi ketidakmerdekaan dan bagaimana umat Islam saat ini hanya menjadi objek dalam geopolitik global.

Namun jika persatuan dan kesadaran politik dibangun di atas prinsip keadilan, kedaulatan, dan kemandirian, maka posisi umat dapat berubah. Dan dari sinilah pertanyaan itu mengemuka: sampai kapan umat membiarkan dirinya diposisikan sebagai arena, bukan aktor utama?[]

Oleh: Siti Komariah
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update