Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dari Dua Labu, Membawa pada Kisah Pilu

Jumat, 13 Maret 2026 | 17:20 WIB Last Updated 2026-03-13T10:20:14Z
TintaSiyasi.id -- Pilu, begitulah kata yang terlontar ketika mendengar kisah dari Cianjur. Tanah yang subur terhampar seluas mata memandang. Pertanian menjadi salah satu aktivitas warga di sana. 

Di sisi lain ada kisah yang membuat sedih sekaligus memilukan kita. Dikutip dari salah satu laman nasional mengabarkan bahwa ada seorang pria meninggal dunia berinisial M (56) di Cianjur, Jawa Barat. M diduga kuat menjadi korban penganiayaan atas tuduhan pencurian dua buah labu siam. Jajaran Satreskrim Polres Cianjur menetapkan penjaga kebun sebagai tersangkanya. Peristiwa bermula saat tersangka yang berinisial UA (penjaga sekaligus penggarap kebun) memergoki korban sedang mengambil dua buah labu siam dari ladang yang ia kelola. Tersangka merasa kesal karena ketika panen selalu ada yang hilang. Ia menduga korban adalah orang yang selalu mengambil di kebun yang dikelolanya. Padahal korban baru kali pertama dan rencananya labu siam yang diambil akan dimasak untuk berbuka puasa bersama ibunya yang sudah lanjut usia. (beritasatu.com, 05/03/2026) 

Innalillahi, hanya karena dia buah labu diam nyawa manusia melayang. Padahal saat ini bulan suci masih kita jalani bersama namun tetap saja ada kejadian di luar nalar manusia. Banyak hikmah dari kejadian di atas yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran berharga. Kemiskinan kembali menjadi penyebab atas perbuatan yang dilakukan manusia. Tak lagi mengukur dan menilai apakah aktivitas tersebut diperbolehkan atau tidak? Keterpaksaan menjadi kunci atas perbuatan yang dilakukan oleh korban. Mengingat susahnya mencari materi di zaman sekarang membuatnya nekat untuk mencuri demi keberlangsungan hidup. Akan tetapi kenyataan berkata lain, M harus meregang nyawa di tangan pelaku (penjaga kebun labu). 

Berbicara kemiskinan, maka kaitannya erat dengan bagaimana sistem yang diterapkan saat ini. Saat ini kapitalis sekuler telah tertanam kuat dan mengakar di negeri ini. Semua diukur dengan ada manfaat dan materi serta tidak menggunakan agama dalam aktivitas kehidupan di dunia. Berbagai kebijakan yang muncul tentunya akan mengacu pada asas manfaat tadi, jika menghasilkan sesuatu maka akan segera dilaksanakan. Dan sebaliknya, jika tidak ada manfaat yang didapat maka sudah dipastikan tak akan dilaksanakan. Sehingga wajar saja jika kebaikan yang ditetapkan akan terus menyengsarakan rakyat kecil dan memihak pada orang yang bermodal saja. Termasuk pula pada pengadaan lapangan kerja maka akan begitu sulit didapatkan karena dalam hal ini pemerintah belum serius untuk membuka lapangan pekerjaan yang banyak untuk rakyatnya. Tak lupa, kapitalis mempunyai konsep baku bahwa yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Inilah kemudian yang dikatakan sebagai kemiskinan dalam taraf sistemik, sehingga sulit sekali untuk mengurai persoalannya. 

Hal lain yang bisa kita ambil dari kasus di atas adalah matinya nurani manusia. Dengan adanya aktivitas penganiayaan tadi, maka dapat dipastikan bahwa nuraninya sudah mati rasa. Padahal saat ini bulan suci masih berlangsung, ada baiknya jika memang saling berbagi dan menolong menjadi keindahan tersendiri. Namun yang terjadi justru sebaliknya, nasi telah menjadi bubur. Penyesalan menjadi tidak berarti lagi, jika disadari sejak awal maka tentu tidak sampai separah ini persoalannya. Ini juga hasil yang diciptakan oleh sistem kapitalis sekuler, semua ingin mendapatkan sesuatu untuk diri sendiri. Sifat individualitas menjadi suatu yang akhirnya menghiasi dalam sikap individu musim saat ini. Rasa peduli dan saling membantu kian luntur bahkan bisa jadi mulai hilang dari diri kaum muslim. Walaupun ini tidak bisa digeneralisir, namun sebagain besar memunculkan sikap seperti yang digambarkan di atas. 

Hal lainnya yaitu terkait dengan sikap jujur dan keamanan yang mulai hilang. Andaikan saja korban berani untuk berkata kepada si penjaga bahwa ia memerlukan labu untuk dimasak maka bisa jadi akan diberikan secara cuma-cuma dan mungkin jumlahnya akan banyak. Namun kembali, nasi telah menjadi bubur. Tak mungkin waktu berputar kembali dan mengulang kejadian yang telah terjadi. Termasuk pula pada keamanan yang begitu amat sulit kita dapatkan pada sistem sekarang ini. Keamanan hanya dimiliki oleh orang-orang yang berkuasa dan pemilik modal saja. Adanya main hakim sendiri menjadi bukti bahwa setiap kejadian yang merugikan seseorang selalu berakhir dengan penganiayaan bahkan sampai merenggut nyawa. Inilah hasil didikan dari sistem yang diterapkan saat ini juga, manusia hanya berpikir sementara dan sempit untuk menyelesaikan persoalan yang ada di depan matanya. Padahal jika didiskusikan dengan baik, bisa jadi solusi akan dicapai dan tidak merugikan pada satu pihak.

Tentu berbeda dengan konsep Islam, segala sesuatu yang dilakukan harus bersandar pada hukum syarak. Termasuk pada persoalan kemiskinan dan kepemimpinan maka Islam mempunyai pola untuk mengaturnya. Kembali bahwa akidah sebagai sandaran utama untuk berbuat sesuatu termasuk untuk mengeluarkan berbagai kebijkan. Masalah kemiskinan harus diselesaikan dengan tuntas dan menjadi tanggung jawab pemimpin. Karena semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di yaumil akhir. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.
"Imam adalah ra'in atau pengurus rakyat. Ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Dari hadis tersebut menunjukkan bahwa seorang pemimpin bertanggung jawab atas seluruh persolan umat. Termasuk masalah kebutuhan pokok harus dicek secara benar apakah semua sudah mendapatkannya dengan baik atau belum. Sebagaimana Khalifah Umar yang mengecek sendiri umatnya apakah sudah makan atau belum. Setiap malam beliau melakukan patroli agar mengetahui hal tersebut. 

Perkara kemiskinan, maka pemerintah bertanggung jawab untuk menyediakan  secara luas lapangan pekerjaan untuk para pencari nafkah. Termasuk memberikan keahlian kepada mereka semua agar mampu berusaha untuk menafkahi keluarganya. Dengan konsep seperti itu maka insyaAllah masyarakat akan terpenuhi kebutuhannya dengan baik. 

Hal tersebut akan dapat dilakukan ketika institusi yang ada menerapkan Islam secara sempurna dan menyeluruh. Ialah Daulah Islam yang akan mampu menjalankannya dengan sempurna. Hal itu sebagai panggilan akidah sekaligus ingin mendapatkan keberkahan dari Allah. 

Islam juga akan menjaga nyawa seorang muslim dengan baik. Jika ada yang membunuh tanpa alasan syar'i maka akan diberikan hukuman setimpal yaitu dengan dibunuh balik. Jika dimaafkan oleh keluarga korban maka  membayar diyat sesuai yang ditetapkan syarak. Ini adalah bentuk penjagaan Islam terhadap nyawa manusia karena begitu berharganya. Ini semua bisa terwujud kala Islam menjadi pedoman hidup manusia di dunia. 
Wallahua'lam.

Oleh Mulyaningsih
(Pemerhati Masalah Anak & Keluarga)

Opini

×
Berita Terbaru Update