Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

CELIOS: Perjanjian ART Rugikan Posisi Indonesia

Senin, 02 Maret 2026 | 17:47 WIB Last Updated 2026-03-02T10:47:05Z

TintaSiyasi.id -- Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menjelaskan bahwa perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) merugikan posisi Indonesia. 

"Ini jelas kebijakan yang menggadaikan kepentingan dan kedaulatan ekonomi nasional. Karena kalau dilihat dari poin-poinnya hampir sebagian besar, saya bisa bilang ya, 99 persen dari dokumen perjanjian ART ini merugikan posisi indonesia," paparnya dalam Bhima Yudhistira: Presiden Prabowo Ditakut-takuti Tim Ekonomi Segera Tanda Tangan di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin (23/02/2026).

Saat ini, lanjutnya, negara dibanjiri impor pangan. "Peternak akan kesulitan bersaing dengan komoditas susu, keju, kemudian produk-produk yang diimpor dari Amerika seperti daging dan buah buahan. Ini akan menekan peternak lokal," bebernya. 

"Kita harus beli 200 triliun lebih minyak dan gas dari Amerika, pertahun sekitar 15 miliar dolar. Ini artinya apa? Artinya kita akan terus bergantung pada importasi minyak dan gas. Jadi apa yang diucapkan presiden soal kedaulatan ekonomi, kemandirian, swasembada, itu dalam ART ini jadi enggak berlaku lagi," jelasnya. 

"Ada tiga hal. Pertama, dipaksa untuk membeli padi, gandum, susu, dan keju. Kedua, sertifikasi untuk pangan juga dipermudah, 280 juta orang dianggap sebagai pasar, tetapi soal keamanan pangan itu tergantung AS," sebutnya. 

"Ketiga, ini bahaya sertifikasi halal akan diotak-atik. Kalau AS sudah punya sertifkat halal maka tidak boleh double sertifikasi, enggak fair ini. UMKM kita aja harus pakai sertifikasi halal dan BPOM untuk makanan minuman. Jadi kita mengalami kemunduran swasembada pangan," terangnya. 

Mas Bhima, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa itu bentuk penjajahan atau kolonialisme Amerika Serikat terhadap Indonesia. 

"Karena dalam perjanjian ini tidak boleh menjalin kerjasama dengan negara lain tanpa izin Amerika Serikat. Jika pun akan bekerja sama dan bertentangan dengan kepentingan AS maka perjanjian tadi harus di terminasi. Jadi ini mengunci Indonesia menjadi hubungan eksklusif hanya dengan AS," ungkapnya.

"Ada 217 lebih kata dalam perjajian ART, sementara hanya ada enam kata Amerika. Sehingga kewajiban Indonesia jauh lebih besar dari yang Amerika lakukan," pungkasnya.[] Sin

Opini

×
Berita Terbaru Update