TintaSiyasi.id -- Ketika konflik bersenjata memanas di Timur Tengah, dampaknya ternyata tidak berhenti di medan perang. Ketegangan politik dan dentuman rudal yang terjadi ribuan kilometer jauhnya perlahan merambat hingga ke kehidupan masyarakat biasa. Di banyak tempat, kegelisahan mulai terasa. Bukan sekadar tentang siapa yang menang atau kalah dalam konflik tersebut, tetapi tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu apakah stok Bahan Bakar Minyak (BBM) akan tetap tersedia atau justru menjadi langka?
Bagi sebagian orang, harga BBM mungkin hanya sekadar angka di papan harga. Namun, bagi banyak keluarga, ia adalah penentu apakah mereka bisa berangkat bekerja, mengantar anak ke sekolah atau membeli kebutuhan dapur dengan harga yang masih terjangkau. Oleh karena itu, setiap kabar tentang potensi krisis energi selalu membawa kecemasan tersendiri bagi masyarakat.
Pengalaman berbagai krisis energi di masa lalu menunjukkan bahwa ketika pasokan BBM terganggu, dampaknya dapat terasa hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Antrean panjang di SPBU hanyalah salah satu gejalanya. Di balik itu, ada efek berantai yang jauh lebih luas, seperti biaya transportasi meningkat, distribusi barang menjadi lebih mahal, dan harga berbagai kebutuhan pokok perlahan ikut melonjak. Pada akhirnya, masyarakatlah yang harus menanggung beban paling berat dari gejolak tersebut.
Potensi gangguan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia, khususnya di kawasan Teluk Persia. Salah satu titik paling strategis adalah Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas dan menjadi urat nadi perdagangan energi global. Sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur ini setiap harinya. Jika konflik semakin memanas dan jalur ini terganggu, pasokan minyak global dapat tersendat dan harga energi dunia pun berpotensi melonjak tajam. (U.S. Energy Information Administration, World Oil Transit Chokepoints, 4 September 2023).
Bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi mapan, kenaikan harga mungkin hanya berarti pengeluaran yang sedikit lebih besar. Namun, bagi rakyat kecil, persoalan BBM dapat menjadi pukulan yang sangat terasa. Ketika harga bahan bakar naik, biaya transportasi meningkat, harga bahan pangan ikut terdorong naik, dan biaya hidup semakin sulit dijangkau. Pendapatan yang terbatas harus dipaksa bertahan menghadapi kebutuhan yang terus meningkat. Dalam kondisi seperti ini, banyak keluarga harus mulai menghitung ulang pengeluaran harian mereka. Ada yang terpaksa mengurangi kebutuhan dapur, ada yang menunda perjalanan, bahkan ada pula yang harus bekerja lebih keras hanya untuk menjaga agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Kegelisahan pun tidak lagi menjadi sekadar berita di layar televisi, melainkan kenyataan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, persoalan energi tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai komoditas ekonomi biasa. Energi merupakan kebutuhan vital yang menggerakkan hampir seluruh aktivitas kehidupan modern, mulai dari transportasi, industri, hingga distribusi pangan. Ketika pasokan energi terganggu, dampaknya dapat memicu inflasi, menekan daya beli masyarakat, bahkan memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara. (International Energy Agency, World Energy Outlook, 24 Oktober 2023).
Sayangnya, dalam sistem ekonomi kapitalisme global saat ini, pengelolaan sumber daya energi sering kali tidak sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat. Kekayaan alam yang seharusnya menjadi penopang kehidupan bersama, justru lebih sering dipandang sebagai komoditas ekonomi yang dapat diprivatisasi dan diperdagangkan demi keuntungan sebesar-besarnya. Tidak jarang pengelolaan energi diserahkan kepada korporasi besar atau perusahaan multinasional. Akibatnya, kekayaan alam yang seharusnya menjadi milik bersama justru lebih banyak dinikmati oleh segelintir pihak, sementara masyarakat luas harus menanggung mahalnya harga energi.
Berbeda dengan itu, Islam memiliki pandangan yang tegas mengenai pengelolaan sumber daya alam. Energi seperti minyak, gas, dan tambang dalam jumlah besar termasuk dalam kepemilikan umum yang harus dikelola oleh negara untuk kepentingan seluruh rakyat.
Prinsip ini sejalan dengan firman Allah Swt., dalam QS Al-Baqarah ayat 29:
“Dialah yang menciptakan untuk kalian segala apa yang ada di bumi.”
Ayat ini mengingatkan bahwa kekayaan bumi merupakan karunia Allah yang semestinya dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia secara luas, bukan untuk kepentingan segelintir pihak. Dalam sistem pemerintahan Islam yang dicontohkan Rasulullah Saw., negara berperan sebagai pengurus dan pelindung rakyat. Sumber daya alam dikelola sebagai amanah untuk memastikan kesejahteraan umat serta menyediakan kebutuhan energi yang terjangkau bagi masyarakat.
Pada akhirnya, kegelisahan masyarakat terhadap kemungkinan kelangkaan BBM akibat konflik global seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan energi bukan sekadar urusan pasar. Ia juga menyangkut kedaulatan dalam mengelola kekayaan alam. Oleh karena itu, di tengah gejolak konflik dunia, harapan rakyat sesungguhnya sederhana, yakni agar kekayaan alam yang Allah titipkan di bumi ini benar-benar dikelola untuk melindungi kehidupan mereka. Ketika pengelolaannya berpihak kepada rakyat, setiap gejolak dunia tidak lagi menimbulkan kegelisahan, tetapi justru menegaskan pentingnya keadilan dalam menjaga amanah bumi.
Ida Rosida
Aktivis Muslimah