TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Ketika Ilmu Kehilangan Keberanian Moral
Salah satu krisis terbesar umat Islam hari ini bukanlah semata kemiskinan, kebodohan, atau keterbelakangan teknologi. Krisis paling berbahaya justru ketika ilmu kehilangan keberanian moral, dan ulama kehilangan posisi profetiknya.
Di saat kekuasaan melenceng dari keadilan, yang seharusnya berdiri paling depan sebagai pengingat dan pengoreksi adalah ulama. Namun, sejarah pahit menunjukkan, tidak sedikit ulama yang justru tergelincir menjadi stempel kekuasaan yang zalim, bukan lagi pembimbing moral umat.
Padahal dalam Islam, ulama bukan pelayan kekuasaan, melainkan penjaga nurani peradaban.
Ulama dan Amanah Kenabian
Rasulullah Saw., bersabda:
“Al-‘ulama waratsatul anbiya’”
“Ulama adalah pewaris para nabi.”
Pewarisan ini bukan pewarisan simbol, gelar, atau popularitas, tetapi pewarisan misi:
Menegakkan kebenaran
Meluruskan penyimpangan
Mengoreksi kezaliman
Membimbing umat menuju ridha Allah
Para nabi diutus bukan untuk menghibur penguasa, tetapi untuk mengganggu kenyamanan kebatilan.
Nabi Musa ‘alaihis salam diutus untuk menghadapi Fir’aun.
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdiri di hadapan Namrud.
Rasulullah Saw., berhadapan dengan tirani Quraisy.
Tidak satu pun nabi yang menjadikan kekuasaan zalim sebagai sekutu.
Makna Muhasabah lil Ḥukām dalam Islam
Muhasabah lil ḥukām yaitu melakukan koreksi dan nasihat terhadap penguasa, bukanlah tindakan subversif, apalagi makar. Ia adalah kewajiban syar’i dan amal jihad yang luhur.
Rasulullah Saw., menegaskan:
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
Muhasabah bukan hujatan, bukan provokasi, bukan adu domba. Ia adalah nasihat yang jujur, kritik yang beradab, dan peringatan yang lahir dari iman.
Ulama yang melakukan muhasabah lil ḥukām sedang menjalankan fungsi:
Penjaga keadilan
Penyeimbang kekuasaan
Penyelamat rakyat dari tirani
Bahaya Ulama Stempel Kekuasaan
Ketika ulama berubah menjadi alat legitimasi, maka kezaliman mendapatkan “baju agama”. Inilah bentuk kejahatan paling halus, tetapi paling merusak.
Imam Al-Ghazali Rahimahullah mengingatkan dengan keras:
“Ulama yang mendatangi penguasa adalah pencuri agama.”
Mengapa? karena agama yang seharusnya menjadi hakim atas kekuasaan, justru tunduk kepada kepentingan dunia.
Ayat dipilih sesuai selera, hadis ditafsirkan demi jabatan, fiqh dipelintir demi stabilitas semu.
Agama pun kehilangan daya membebaskannya.
Ketika itu terjadi:
Kezaliman tampak seolah sah
Penindasan terlihat seperti maslahat
Kebohongan dibungkus dengan dalil
Inilah fitnah terbesar bagi umat.
Sikap Ulama Sejati: Merdeka Secara Ruhani
Ulama sejati mungkin tidak viral, tidak populer, dan tidak dekat istana. Namun, ia dekat dengan Allah dan jujur pada nuraninya.
Ia sadar:
Diam kadang pilihan pahit
Bicara benar sering berisiko, tetapi membenarkan kezaliman adalah pengkhianatan iman.
Ulama sejati berdiri di tengah umat sebagai:
Penuntun akhlak
Penjernih akal
Peneguh iman
Ia tidak menjual ayat demi dunia, dan tidak menukar akhirat dengan fasilitas.
Dimensi Sufistik: Takut kepada Allah, Bukan kepada Kekuasaan
Dalam perspektif sufistik, keberanian moral lahir dari tauhid yang murni.
Orang yang benar-benar mengenal Allah (ma’rifatullah) tidak akan gentar kepada selain-Nya.
Ketakutan kepada penguasa sejatinya adalah tanda:
Lemahnya tawakal
Dangkalnya keyakinan
Terkikisnya rasa muraqabah
Sufi sejati—seperti Imam Al-Junaid, Abdul Qadir Al-Jailani, dan Al-Ghazali, beliau selalu menjaga jarak dari kekuasaan agar hati tetap merdeka dan lisan tetap jujur.
Penutup: Ulama Adalah Cahaya, Bukan Cap Kekuasaan
Ulama bukan stempel.
Ulama bukan ornamen kekuasaan.
Ulama bukan pemadam kritik.
Ulama adalah cahaya.
Dan cahaya tugasnya menerangi, bukan menyamarkan gelap.
Apabila ulama kehilangan keberanian moral, maka umat kehilangan arah.
Apabila ulama membenarkan kezaliman, maka peradaban berada di tepi kehancuran.
Semoga Allah menjaga para ulama yang:
Merdeka secara ruhani
Teguh secara ideologi
Lembut secara sufistik
Berani secara moral
Dan semoga kita semua dijauhkan dari ilmu yang tidak melahirkan keberanian,
dan dari agama yang hanya menjadi hiasan kekuasaan.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Dr. Nasrul, Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa