TintaSiyasi.id -- Tafsir Reflektif QS. al-Ahzab Ayat 41–42 dan Kritik atas Spiritualitas Ritualistik
Pendahuluan: Krisis Ibadah di Zaman yang Ramai Tapi Sepi
Di zaman modern, ibadah sering direduksi menjadi gerakan fisik tanpa kesadaran, bacaan tanpa penghayatan, dan ritual tanpa transformasi akhlak. Banyak yang rajin beribadah, tetapi hatinya tetap gelisah. Lisannya berdzikir, tetapi perilakunya kasar Matanya terbuka, tetapi jiwanya buta.
Di sinilah QS. al-Ahzab ayat 41–42 hadir sebagai koreksi ilahiah. Ayat ini tidak sekadar memerintahkan dzikir, tetapi menawarkan paradigma ibadah total yang melibatkan seluruh potensi insani: mata, hati, dan lisan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya," (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41).
وَّ سَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا
"dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 42).
Ayat ini adalah manifesto spiritual orang beriman, bukan untuk mereka yang sekadar “beragama”, tetapi untuk mereka yang ingin hidup bersama Allah.
Ibadah sebagai Kesatuan Tiga Rukun
1. Mata (al-‘Ain): Ibadah dengan Ibrah
Islam tidak mengajarkan pelarian dari dunia, tetapi pembacaan dunia. Mata bukan sekadar alat melihat, melainkan pintu pertama kesadaran tauhid.
Allah berulang kali mengecam orang yang:
“Mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat.” (QS. al-A‘raf: 179).
Mata yang beribadah adalah mata yang:
Melihat nikmat lalu bersyukur
Melihat musibah lalu bertobat
Melihat kekuasaan lalu tunduk.
Ibrah lahir ketika mata:
Tidak berhenti pada fenomena, tetapi menembus makna di balik peristiwa.
Tanpa ibrah, manusia:
Melihat kematian, tetapi tak takut
Melihat ketidakadilan, tetapi tak gelisah
Melihat kehancuran, tetapi tetap sombong.
Inilah sebabnya dzikir harus katsîrâ karena setiap yang terlihat adalah bahan dzikir, jika mata masih jujur kepada kebenaran.
2. Hati (al-Qalb): Ibadah dengan Fikrah
Jika mata mengumpulkan tanda, maka hati mengolahnya menjadi kesadaran.
Fikrah adalah kerja batin:
Mengaitkan realitas dengan kehendak Allah
Membaca takdir sebagai tarbiyah
Menyadari kefanaan diri.
Imam al-Hasan al-Bashri berkata: “Bukanlah dzikir itu dengan lisan semata, tetapi dengan hati yang sadar dan takut kepada Allah.”
Hati yang hidup akan:
Cepat tersentuh oleh ayat
Mudah menangis dalam munajat
Berat melakukan maksiat.
Sebaliknya, ibadah tanpa fikrah melahirkan:
Kesalehan simbolik
Kekerasan hati
Agama yang kehilangan kasih sayang.
Karena itu, dzikir dalam QS. al-Ahzab bukan sekadar perintah mengulang lafaz, tetapi menghidupkan kesadaran Ilahi dalam relung batin.
3. Lisan (al-Lisân): Ibadah dengan Kejujuran dan Tasbih
Lisan adalah cermin hati. Apa yang sering keluar dari lisan menyingkap apa yang bersemayam di dalam jiwa.
Tasbih berarti:
Menyucikan Allah dari ketidakadilan
Membersihkan diri dari prasangka buruk kepada takdir
Menundukkan ego yang gemar memprotes.
Dzikir pagi dan petang bukan tanpa makna:
Pagi: menyambut hidup dengan tauhid
Petang: menyerahkan hasil dengan tawakal.
Lisan yang beribadah akan:
Jujur meski pahit
Diam saat marah
Berdzikir saat gelisah
Namun, ketika lisan rajin berdzikir, tetapi masih gemar:
Menghina
Memfitnah
Merendahkan, maka itu pertanda dzikir belum turun ke hati.
Kritik Spiritualitas Modern
Peradaban modern melahirkan manusia yang:
Matanya tajam membaca peluang dunia, tetapi buta terhadap akhirat
Otaknya sibuk berpikir, tetapi hatinya jarang merenung
Lisannya fasih berbicara agama, tetapi miskin tasbih.
QS. al-Ahzab 41–42 mengingatkan:
iman tidak cukup diyakini, ia harus dihidupi.
Ibadah bukan sekadar:
Gerakan fisik
Identitas sosial
Rutinitas budaya
melainkan proses penyucian total manusia.
Penutup: Jalan Pulang Menuju Allah
Mata yang beribrah menuntun pada kesadaran.
Hati yang berfikrah melahirkan ketundukan.
Lisan yang berdzikir menjaga istiqamah.
Di sanalah ibadah tidak lagi terasa berat
karena ia berubah menjadi jalan pulang.
QS. al-Ahzab 41–42 mengajarkan kita satu hal penting:
Allah tidak hanya ingin disebut, tetapi dihadirkan dalam hidup.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo