Tintasiyasi.id.com -- Board of peace (BoP) diklaim sebagai jawaban bagi kebuntuan diplomasi global, dari Gaza hingga konflik dunia lainnya. Dikatakan bahwa BoP dimandatkan oleh PBB untuk mengelola Gaza pasca genosida.
Namun pada faktanya wujud piagam BoP yang telah ditandatangani di Davos berbeda dengan mandat PBB untuk menyelesaikan konflik di Palestina, yakni meluas untuk mengatasi setiap konflik di dunia yang sedang dan akan terjadi. Dalam hal ini tidak sedikit yang memprediksi bahwa BoP akan menyaingi status PBB sebagai lembaga perdamaian dunia.
Dewan perdamaian ini digagas oleh Amerika di bawah komando penuh Donald Trump yang menjabat sebagai chairman. Jabatan Trump tidak terbatas (seumur hidup). Trump menunjuk dirinya sebagai satu-satunya pihak yang memiliki hak veto di BoP.
Keputusan dan agenda di BoP harus dengan persetujuan chairman Donald Trump. Chairman hanya bisa diganti orang yang ditunjuk langsung oleh Trump.
Media global melaporkan BoP sebagai ambisi AS dalam menancapkan pengaruh dengan cara tak biasa. Ini juga membuktikan bahwa Amerika sebagai "pemilik" dunia yang mampu menentukan nasib suatu negara.
Bisa dikatakan BoP adalah lembaga yang tiba-tiba lahir dengan kewenangan penuh untuk mengatur seluruh dunia.
Board of Peace lahir dari kebuntuan Amerika, Israel dan sekutunya dalam menaklukkan Gaza.
Israel memandang BoP sebagai media memadamkan aspirasi rakyat Palestina, meminggirkan mereka dari tanahnya serta memperkuat kontrol atas Palestina dengan dalih Perdamaian. Bahkan tidak ada jaminan bahwa ide yang digagas adalah benar untuk Palestina karena yang nampak hanya solusi bisnis yang berbalut perbaikan untuk perdamaian.
Jadi bagaimana mungkin penjajah yang jelas-jelas melakukan genosida, kini justru tampil sebagai pihak yang menjamin perdamaian? Ini adalah logika yang cacat dan menyesatkan. Perdamaian tidak mungkin lahir dari tangan yang masih memegang senjata.
Perdamaian sejati hanya tegak diatas aturan yang adil dan tetap dari sang pencipta.
Penjajahan dimanapun termasuk Palestina sesungguhnya tidak akan pernah berakhir dimeja perundingan yang timpang.
Palestina tidak akan dibebaskan oleh dewan-dewan internasional buatan amerika dan antek-anteknya.
BOP adalah bentuk penjajahan gaya baru dengan bentuk hegemoni rekontrusi gaza menjadi new gaza. Keterlibatan penguasa negeri-negeri muslim dalam BoP merupakan penghianatan atas palestina terlebih kaum Muslimin. Allah swt berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu). (Qs. Al-maidah:51).
Perjuangan rakyat Palestina adalah perjuangan mempertahankan hak, tanah dan martabat yang telah berlangsung puluhan tahun. Sangat disayangkan jika harus dibayar dengan iming-iming kemewahan yang ditawarkan oleh kafir penjajah.
Rakyat Palestina harus tetap berpegang teguh pada perjuangan hakiki yakni perjuangan untuk mengembalikan bumi syam ke pangkuan Islam. Satu-satunya solusi bagi Palestina adalah dengan mengusir zionis dari tanah Palestina melalui jihad dibawah komando Khilafah.
Allah swt telah memperingatkan kita,
وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ
"Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu (Qs. Baqarah:191).
Sayangnya saat ini umat muslim tidak berada dalam satu komando khilafah. Kaum muslim tercerai-berai dan dengan mudah mengambil solusi yang ditawarkan kafir penjajah.
Oleh karenanya kaum muslimin butuh khilafah.
Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bersabda:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ [رواه البخاري ومسلم]
“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebagai pengingat kepada seluruh pemimpin negeri-negeri muslim bagaimana kisah Kisah keteguhan sultan abdul hamid II mempertahankan bumi Palestina dari bujuk rayu tokoh zionis Theodor Herzl.
Saat itu sultan abdul hamid II pernah diberikan tawaran harta dalam jumlah yang sangat besar agar yahudi diberi hak atas tanah palestina. Jawaban khalifah sangat tegas. "Aku tidak akan menyerahkan walau sejengkal tanah itu! Ia bukan milikku. Ia milik umat Islam!
Sultan abdul hamid pernah berkata, "sesungguhnya negerinyang diperjuangkan dibawah kitalan pedang, tak layak dijual hanya dengan kepingan emas."
Ini menegaskan bahwa tanah, martabat dan kedaulatan tidak boleh ditukar dengan keuntungan materi, apalagi dibungkus dengan narasi perdamaian.[]
Oleh: Yosie purwanti, S.E.
(Aktivis Muslimah)