TintaSiyasi.id -- Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa Dr Ahmad Sastra, MM., mengatakan, akar masalah Gaza bukan konflik bilateral tetapi absennya kepemimpinan global.
"Akar persoalan Gaza tidak hanya terletak pada konflik bilateral, melainkan pada absennya kepemimpinan global yang berorientasi pada keadilan," ungkapnya dikutip TintaSiyasi.id, Sabtu (7/2/2026).
Saat ini, jelas dia, tatanan dunia kontemporer didominasi oleh kapitalisme global dan realisme politik, di mana kepentingan nasional dan korporasi sering kali mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan universal. Dalam dunia Islam, fragmentasi politik menjadi puluhan negara-bangsa telah melemahkan kapasitas kolektif umat dalam melindungi wilayah dan penduduknya.
Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang menyatakan bahwa imam adalah perisai (HR. Muslim). "Menegaskan pentingnya kepemimpinan politik sebagai instrumen perlindungan umat, bukan sekadar simbol administratif," ungkapnya.
"Ketika kekerasan masif terhadap warga sipil dibiarkan tanpa konsekuensi hukum yang tegas, maka terjadi normalisasi kezaliman. Istilah-istilah seperti collateral damage berfungsi mereduksi tragedi kemanusiaan menjadi terminologi teknis. Preseden ini berbahaya karena membuka ruang legitimasi bagi kekerasan serupa di wilayah lain," ungkapnya.
Dengan demikian, ia menambahkan, tragedi Gaza bukan hanya tragedi Palestina, melainkan krisis global yang mengancam fondasi etika internasional.
"Islam menawarkan paradigma alternatif dalam tata kelola global. Dalam Islam, penjajahan merupakan kezaliman yang diharamkan, dan perlindungan jiwa manusia merupakan prinsip fundamental (hifz al-nafs). Negara memiliki kewajiban syar’i untuk melindungi pihak tertindas, baik Muslim maupun non-Muslim," ujarnya.
Ia mengutip kitab Al-Ahkam al-Sulthaniyyah karya Al-Mawardi, menegaskan bahwa legitimasi kekuasaan bertumpu pada kemampuan negara menegakkan keadilan dan melindungi rakyat. Sejarah khilafah menunjukkan bahwa stabilitas Palestina tercapai ketika prinsip-prinsip tersebut diterapkan secara konsisten.
Ia mengutip hadis tentang kembalinya Khilafah di atas manhaj kenabian (HR. Ahmad). "Sering dipahami sebagai kritik normatif terhadap sistem kekuasaan yang menyimpang dari nilai keadilan. Dalam konteks kontemporer, hadis ini relevan sebagai wacana etik-politik tentang perlunya sistem kepemimpinan global yang berpihak pada kemanusiaan," sambungnya.
Sehingga, ia menjelaskan, Palestina tidak membutuhkan simpati simbolik, melainkan perubahan struktural dalam tata dunia global.
"Selama sistem internasional tetap tunduk pada kekuatan dan kepentingan, tragedi Gaza akan terus berulang. Dengan lebih dari 70 ribu korban jiwa, Gaza menjadi bukti nyata kebangkrutan moral dunia modern sekaligus panggilan mendesak untuk meninjau ulang fondasi kepemimpinan global," pungkasnya. [] Alfia