Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Syakhsiyah Islamiah: Pilar Agung Pengemban Dakwah dan Rahasia Kebangkitan Umat

Jumat, 20 Februari 2026 | 05:23 WIB Last Updated 2026-02-19T22:23:42Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Krisis Dakwah adalah Krisis Kepribadian

Umat Islam hari ini tidak kekurangan masjid, tidak kekurangan mimbar, tidak kekurangan penceramah, dan tidak kekurangan kata-kata. Namun umat ini masih kekurangan satu hal yang paling mendasar: syakhsiyah Islamiyyah yang agung dalam diri para pengemban dakwah.

Krisis umat bukan krisis jumlah, tetapi krisis kualitas. Bukan krisis suara, tetapi krisis ruh. Bukan krisis gerakan, tetapi krisis kepribadian.

Dakwah tanpa syakhsiyah Islamiyyah ibarat jasad tanpa ruh. Ia bergerak, tetapi tidak hidup. Ia bersuara, tetapi tidak menggugah. Ia hadir, tetapi tidak mengubah.

Allah Swt., berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka."(QS. Ar-Ra'd: 11).

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan peradaban dimulai dari perubahan kepribadian.

Hakikat Syakhsiyah Islamiyyah: Integrasi Akidah, Akal, dan Jiwa

Syakhsiyah Islamiyyah bukan sekadar identitas formal sebagai Muslim, tetapi struktur kepribadian yang dibangun di atas aqidah Islam, yang mempengaruhi cara berpikir, cara merasakan, dan cara bertindak.

Syakhsiyah Islamiyyah terdiri dari dua pilar utama:

1. Aqliyah Islamiyyah: Akal yang Tunduk kepada Wahyu

Aqliyah Islamiyyah adalah pola pikir yang dibangun di atas aqidah Islam. Ia menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai standar kebenaran.

Allah berfirman:
"Tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada pilihan lain bagi mereka." (QS. Al-Ahzab: 36).

Aqliyah Islamiyyah membebaskan manusia dari penjajahan pemikiran jahiliyah modern—materialisme, sekularisme, dan hedonisme.

Pengemban dakwah yang memiliki aqliyah Islamiyyah tidak akan menilai sesuatu berdasarkan:

Keuntungan materi

Tekanan sosial

Kepentingan dunia

Tetapi berdasarkan halal dan haram.

Inilah kemerdekaan sejati akal manusia.

2. Nafsiyah Islamiyyah: Jiwa yang Terikat kepada Allah

Nafsiyah Islamiyyah adalah pola jiwa yang menjadikan aqidah sebagai sumber dorongan amal.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah."
(QS. Al-An'am: 162).

Nafsiyah Islamiyyah melahirkan jiwa yang:

Ikhlas

Sabar

Berani

Zuhud terhadap dunia

Rindu kepada Allah

Inilah jiwa para nabi, para sahabat, dan para wali.

Pengemban Dakwah adalah Pewaris Para Nabi

Dakwah bukan profesi. Dakwah adalah warisan kenabian.

Rasulullah Saw., bersabda:
"Para ulama adalah pewaris para nabi."

Warisan ini bukan harta, tetapi amanah untuk membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Allah berfirman:
"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan atas seluruh agama."
(QS. At-Taubah: 33).

Pengemban dakwah adalah pelanjut misi agung ini.

Maka, ia tidak boleh memiliki kepribadian yang lemah.

Mengapa Syakhsiyah Islamiyyah adalah Kekuatan Utama Dakwah?

1. Karena Manusia Lebih Dipengaruhi oleh Kepribadian daripada Kata-kata

Kata-kata hanya didengar oleh telinga, tetapi kepribadian dirasakan oleh hati.

Rasulullah Saw., berhasil mengubah dunia bukan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan kekuatan kepribadian.

Para sahabat melihat kejujuran beliau, keberanian beliau, dan keikhlasan beliau.

Inilah yang membuat mereka rela mengorbankan segalanya.

2. Karena Dakwah adalah Jalan Ujian, bukan Jalan Kenyamanan

Allah berfirman:
"Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata 'kami beriman' sedangkan mereka belum diuji?".(QS. Al-Ankabut: 2).

Pengemban dakwah akan menghadapi:

Penolakan

Penghinaan

Fitnah

Kesendirian

Tanpa syakhsiyah Islamiyyah, ia akan mundur.

Tetapi dengan syakhsiyah Islamiyyah, ia akan tetap berdiri.

3. Karena Syakhsiyah Islamiyyah adalah Sumber Kewibawaan Spiritual

Kewibawaan sejati bukan berasal dari jabatan, tetapi dari kedekatan kepada Allah.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah akan menanamkan dalam hati manusia kecintaan kepada mereka." (QS. Maryam: 96).

Inilah rahasia pengaruh para ulama dan wali.

Mereka dicintai bukan karena kekayaan, tetapi karena syakhsiyah mereka.

Rasulullah Saw., Model Tertinggi Syakhsiyah Islamiyyah

Allah berfirman:
"Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung." (QS. Al-Qalam: 4).

Rasulullah Saw., adalah Al-Qur'an yang hidup.

Beliau tetap jujur ketika dibenci.
Beliau tetap sabar ketika disakiti.
Beliau tetap teguh ketika ditolak.

Inilah syakhsiyah Islamiyyah.

Dan inilah rahasia kemenangan beliau.

Para Sahabat: Generasi dengan Syakhsiyah Islamiyyah Agung

Para sahabat bukan manusia super. Mereka adalah manusia biasa yang dibentuk oleh Islam.

Namun, akidah telah mengubah mereka menjadi raksasa peradaban.

Bilal bin Rabah tetap berkata "Ahad, Ahad" meskipun disiksa.

Umar bin Khattab menjadi simbol keadilan dunia.

Mereka mengalahkan imperium besar bukan karena jumlah, tetapi karena syakhsiyah.

Bahaya Besar: Dakwah Tanpa Syakhsiyah

Inilah penyakit dakwah modern:

Banyak bicara, sedikit amal

Banyak tampil, sedikit ikhlas

Banyak gerakan, sedikit kedalaman ruhiyah

Allah memperingatkan:
"Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 3).

Dakwah tanpa syakhsiyah melahirkan krisis kepercayaan.

Dan ketika kepercayaan hilang, dakwah kehilangan kekuatannya.

Jalan Membangun Syakhsiyah Islamiyyah

1. Menguatkan Hubungan dengan Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah pembentuk kepribadian.

Ia membersihkan akal, hati, dan jiwa.

2. Memperdalam Ilmu Islam

Ilmu adalah cahaya.

Tanpa ilmu, dakwah akan tersesat.

3. Membersihkan Jiwa dengan Ibadah

Shalat malam, dzikir, dan doa membangun kekuatan ruhiyah.

Inilah rahasia kekuatan para ulama.

4. Istiqamah dalam Dakwah

Syakhsiyah tidak dibangun dalam kenyamanan, tetapi dalam perjuangan.

Syakhsiyah Islamiyyah adalah Rahasia Kebangkitan Umat

Umat ini tidak akan bangkit dengan teknologi saja.

Tidak dengan ekonomi saja.

Tidak dengan politik saja.

Namun dengan manusia yang memiliki syakhsiyah Islamiyyah.

Karena peradaban dibangun oleh manusia.

Dan manusia dibangun oleh akidah.

Penutup: Jadilah Dakwah yang Hidup, bukan Sekadar Berbicara tentang Dakwah

Wahai pengemban dakwah,

Jangan hanya menjadi penyampai Islam. Jadilah perwujudan Islam.

Jangan hanya berbicara tentang Al-Qur'an. Jadilah manusia Al-Qur'an.

Jangan hanya menyeru manusia kepada Allah. Jadilah manusia yang hidup bersama Allah.

Karena ketika syakhsiyah Islamiyyah hidup dalam dirimu, dakwahmu akan hidup.

Dan ketika dakwah hidup, umat akan bangkit.

Dan ketika umat bangkit, peradaban Islam akan kembali menerangi dunia.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si
Penulis Buku dan Akademisi
Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo 

Opini

×
Berita Terbaru Update