Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Akal sebagai Cahaya Ilahi: Dari Al-Idrak Menuju Al-Fikr dan Al-‘Aql dalam Perjalanan Menuju Makrifatullah

Jumat, 20 Februari 2026 | 05:42 WIB Last Updated 2026-02-19T22:42:48Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Krisis Akal dalam Peradaban Modern
Salah satu tragedi terbesar manusia modern bukanlah kemiskinan materi, melainkan kemiskinan makna. Manusia mampu melihat, tetapi tidak memahami. Mereka mampu berpikir, tetapi tidak menemukan kebenaran. Mereka memiliki otak, tetapi kehilangan akal dalam makna yang sejati.

Peradaban materialistik telah mereduksi akal menjadi sekadar alat produksi, alat teknologi, dan alat pemuas nafsu dunia. Padahal dalam Islam, akal adalah cahaya Ilahi, sarana untuk mengenal Allah, memahami wahyu, dan menempuh jalan menuju keselamatan abadi.

Di sinilah pentingnya memahami tiga konsep fundamental dalam epistemologi Islam: al-idrāk, al-fikr, dan al-‘aql. Ketiganya bukan sekadar istilah psikologis, tetapi merupakan tahapan ruhani dan intelektual manusia dalam perjalanan menuju ma’rifatullah.

Al-Idrāk: Gerbang Awal Kesadaran Manusia

Al-idrāk adalah proses sampainya realitas kepada otak melalui alat indera, lalu dipahami maknanya. Ia adalah gerbang pertama kesadaran manusia.

Allah Swt., berfirman:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78).

Ayat ini menegaskan bahwa manusia lahir tanpa pengetahuan, lalu Allah membekalinya dengan alat-alat idrāk: pendengaran, penglihatan, dan hati.

Namun, idrāk bukan sekadar melihat dengan mata. Banyak manusia melihat langit, tetapi tidak melihat tanda kekuasaan Allah di dalamnya. Banyak manusia melihat kematian, tetapi tidak memahami hakikat kefanaan dirinya.

Allah mengkritik manusia yang kehilangan fungsi idrāk yang benar:

“Mereka memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami, mereka memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat, dan mereka memiliki telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar.” (QS. Al-A’raf: 179).

Ini menunjukkan bahwa idrāk sejati bukan sekadar proses biologis, tetapi kesadaran eksistensial.

Idrāk adalah gerbang, tetapi bukan tujuan akhir.

Al-Fikr: Aktivitas Ruhani dalam Mencari Kebenaran

Jika al-idrāk adalah gerbang, maka al-fikr adalah perjalanan.

Al-fikr adalah proses menghubungkan realitas yang diindera dengan informasi sebelumnya sehingga menghasilkan pemahaman. Ia adalah aktivitas berpikir yang melahirkan kesadaran.

Allah Swt., berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ali Imran: 190).

Berpikir dalam Islam bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi ibadah ruhani.

Ketika seorang mukmin melihat langit, lalu berpikir tentang keteraturannya, ia tidak berhenti pada kesimpulan ilmiah, tetapi naik kepada kesimpulan tauhid: bahwa ada Dzat Yang Maha Mengatur.

Berpikir yang benar melahirkan iman.

Sebaliknya, berhentinya proses berpikir melahirkan kesesatan.

Peradaban sekuler membatasi fikr hanya pada dimensi materi. Mereka berpikir tentang bagaimana dunia bekerja, tetapi tidak berpikir mengapa dunia ini ada.

Padahal berpikir yang sejati adalah berpikir yang mengantarkan manusia kepada Allah.

Al-‘Aql: Cahaya Ilahi dalam Diri Manusia

Al-‘aql adalah kemampuan yang dengannya manusia dapat berpikir dan memahami kebenaran. Ia adalah anugerah terbesar Allah kepada manusia setelah iman.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akal adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati manusia, yang dengannya manusia dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Akal bukan sekadar organ biologis. Ia adalah cahaya ruhani.

Allah Swt., berfirman:
“Apakah mereka tidak menggunakan akal mereka?” (QS. Yasin: 68).

Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan intelektual, tetapi pertanyaan eksistensial.

Menggunakan akal berarti memahami tujuan hidup. Menggunakan akal berarti mengenal Allah. Menggunakan akal berarti menundukkan diri kepada kebenaran.

Orang yang tidak menggunakan akalnya, meskipun memiliki otak yang cerdas, dalam pandangan Al-Qur’an adalah seperti hewan:
“Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.” (QS. Al-A’raf: 179).

Karena hewan tidak memiliki akal, tetapi manusia yang tidak menggunakan akalnya telah merendahkan dirinya sendiri.

Dari Idrāk Menuju Fikr, dari Fikr Menuju ‘Aql, dari ‘Aql Menuju Ma’rifatullah

Perjalanan spiritual manusia dimulai dari idrāk, lalu naik kepada fikr, lalu mencapai kesempurnaan melalui ‘aql.

Urutannya adalah:

Al-Idrāk → Al-Fikr → Al-‘Aql → Al-Iman → Al-Ma’rifah

Manusia melihat alam (idrāk).
Lalu ia berpikir tentangnya (fikr).
Lalu akalnya memahami kebenaran (aql).
Lalu hatinya beriman (iman).
Lalu ruhnya mengenal Allah (ma’rifah).

Inilah jalan para nabi, para sahabat, dan para wali Allah.

Ibnu Sina menjelaskan bahwa akal manusia memiliki potensi untuk naik dari akal potensial menjadi akal aktual, hingga mencapai kesempurnaan intelektual.

Namun dalam Islam, kesempurnaan akal bukan sekadar pengetahuan, tetapi pengenalan kepada Allah.

Karena tujuan akal bukan dunia, tetapi akhirat.

Akal dan Wahyu: Harmoni yang Menyelamatkan Manusia

Akal tidak dapat berjalan sendiri tanpa wahyu. Akal membutuhkan wahyu sebagai cahaya penuntun.

Tanpa wahyu, akal dapat tersesat. Tanpa akal, wahyu tidak dapat dipahami.

Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa akal adalah proses memahami realitas, tetapi standar kebenaran tertinggi tetap wahyu.

Akal yang tunduk kepada wahyu akan melahirkan peradaban yang mulia.

Sebaliknya, akal yang memberontak terhadap wahyu akan melahirkan peradaban yang rusak.

Inilah yang kita saksikan hari ini: teknologi maju, tetapi jiwa kosong. Informasi melimpah, tetapi hikmah hilang.

Karena akal telah dipisahkan dari wahyu

Akal sebagai Jalan Menuju Ma’rifatullah

Tujuan tertinggi akal bukanlah ilmu, tetapi ma’rifatullah.

Akal yang sehat akan membawa manusia kepada kesimpulan:

Bahwa dirinya adalah makhluk
Bahwa alam semesta memiliki Pencipta
Bahwa hidup memiliki tujuan
Bahwa akhirat adalah kepastian

Ketika akal sampai pada kesimpulan ini, maka ia akan tunduk kepada Allah.

Di sinilah akal mencapai kesempurnaannya: bukan dalam kesombongan intelektual, tetapi dalam ketundukan spiritual.

Karena akal yang sejati adalah akal yang bersujud.

Penutup: Menghidupkan Kembali Akal sebagai Cahaya Ilahi

Kebangkitan umat Islam tidak akan dimulai dari ekonomi, bukan pula dari politik semata, tetapi dari kebangkitan akal yang terhubung dengan wahyu.

Kita harus menghidupkan kembali:

Idrāk yang sadar akan tanda-tanda Allah
Fikr yang merenungkan ciptaan-Nya
‘Aql yang tunduk kepada wahyu-Nya

Ketika akal kembali kepada fungsinya yang sejati, maka manusia akan kembali kepada Tuhannya.

Dan ketika manusia kembali kepada Tuhannya, maka ia akan menemukan makna hidup yang sejati.

Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28).

Karena ilmu yang sejati bukan yang memenuhi otak, tetapi yang menghidupkan hati.

Dan akal yang sejati bukan yang membuat manusia sombong, tetapi yang membuatnya bersujud di hadapan Allah Swt., 

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update