Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kasus Epstein Figur Kesuksesan Tanpa Nilai

Senin, 16 Februari 2026 | 06:34 WIB Last Updated 2026-02-15T23:35:05Z

Tintasiyasi.id.com -- Kementerian Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan dokumen terbaru terkait kasus Jeffrey Epstein, pada 30 Januari lalu, terpidana kekerasan seksual terhadap perempuan di bawah umur.

Jumlah dokumen yang dirilis pada pekan terakhir Januari Jumat (30/01), mencapai tiga juta halaman. Diantaranya berupa 180.000 foto dan 2.000 video. Didalamnya tercatat beberapa publik figur yang diagung-agungkan sebagai role model kesuksesan kelas dunia. 

Mirisnya beberapa nama diantaranya disebut berulang kali dalam berbagai berkas ini. Bahkan 902 nama pejabat dan pengusaha di Indonesia juga tercantum dalam file (3/02/2026, BBC.com).

Rilisan dokumen itu merupakan retakan kecil dari tembok para elit global dan para orang sukses skala internasional. Di balik megahnya tembok kesuksesan, ternyata ada aib di balik panggung kesuksesan mereka. Padahal dalam dokumen tersebut banyak figur-figur kelas dunia yang dianggap sebagai role model kesuksesan.

Dunia percaya bahwa tangga kesuksesan mereka layak dijadikan contoh. Tapi siapa sangka jika sebelum mereka menaiki anak tangga kesuksesan, mereka harus menginjak masa depan para korbannya.

Ini menjadi bukti jika kesuksesan dunia tidak mensyaratkan ketinggian moral. Di era kapitalis saat ini kesuksesan didefinisikan dengan kekayaan, kekuasaan, berbagai akses strategis, citra panggung.

Sedangkan moral dianggap sebagai ranah privasi.
Akibatnya sisi kemanusiaan mereka kian terkikis. Bukan lagi disebut orang yang tak bermoral, tapi sebagai pesaing iblis yang tak mau lagi menghadirkan moral kemanusiaan. Fitrahnya pudar seiring dengan kejahatan yang dia lakukan.

Dibalik Kesuksesan Tanpa Nilai.
Kesuksesan tanpa menyertakan moral, artinya dia siap melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau. Akibatnya kompas moral ditujukan pada kebebasan perilaku. Sehingga standar dan nilai moral diatur sendiri oleh manusia sesuai dengan kepentingannya.

Jadi nilai apa yang hendak diambil jika kesuksesanya hanya untuk melanggengkan egonya sendiri.
Pangkal dari sikap ini lahir dari pemikiran sekularisme, yang menjadikan manusia bebas melakukan perbuatannya tanpa adanya campur tangan Tuhan.

Hubungan manusia dan Tuhan hanya di ranah ritual ibadah. Di kehidupan sehari-hari mereka mengosongkan agama. Nihilnya peran agama ini tecermin dari sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem sanksi, dan sistem lainnya yang semuanya menggunakan aturan buatan manusia. 

Pendidikannya pun dirancang untuk berorientasi duniawi. Jadi tak heran jika pendidikan sekularisme melahirkan orang-orang yang peduli dengan dirinya sendiri, dan mencapai kesuksesan tanpa moral. Selain itu, hukuman yang diterapkan tidak memberikan efek jera bagi para pelaku. Karena kasus tindak kejahatan selalu terulang lagi.

Kesuksesan Dalam Islam.
Ketika kesuksesan dilepaskan dari nilai-nilai Islam, maka standart manusia akan turun dilevel terendah. Karena orang-orang yang sukses di mata Islam adalah mereka yang paling bersih pertanggungjawabannya dan yang paling bertakwa kepada Allah ketika godaan setan itu datang.

Dalam Islam, sukses tidak dilihat dari hasil, tetapi sangat terikat pada cara memperolehnya dan pertanggungjawabannya. Islam tidak memandang perkara hanya satu dimensi. Tapi juga memperhatikan dimensi yang lain. Dimana satu sama lain itu terkait. 

Karena ujung dari segala upaya manusia itu adalah pertanggungjawaban kita dihadapan Allah kelak. Karena Islam memikirkan dampak pertanggungjawaban di akhirat, maka sistem Islam memiliki perlindungan berlapis agar seseorang terhindar dari tindak kriminal yang bertujuan memuaskan hawa nafsunya.

Pada tataran individu, negara Khilafah menerapkan sistem pendidikan Islam yang berasaskan akidah. Tujuannya adalah membentuk pola sikap dan pola pikir yang Islami kepada setiap individu. Dua pola tersebut akan melahirkan karakter manusia yang bertaqwa.

Di tataran masyarakatnya, Islam akan membentuk masyarakat yang siap melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Aktivitas ini akan membentuk kontrol masyarakat terhadap individu. Jadi tidak ada masyarakat yang cuek akan perilaku individu. Yang ada mereka saling mengingatkan untuk kembali kepada aturan Allah.

Kemudian di ranah negara,akan menindak pelaku kriminal sesuai dengan syari'at islam yang memberlakukan sanksi tegas. Yaitu zawâjir dan jawâbir.

Fungsi zawâjir (pencegah) yang berarti dapat mencegah manusia dari tindak kejahatan. Jika ia mengetahui apabila membunuh balasannya adalah dibunuh, ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut. Juga sebagai jawâbir (penebus) dikarenakan pelaksanaan hukuman di dunia dapat menebus sanksi akhirat.

Untuk itu sdh saatnya kaum muslimin menyadari bahwa, kapitalisme tidak mampu menanamkan nilai sejati dalam kehidupan. Hanya islam yang mampu menanamkan nilai moral yang memiliki landasan yang yaitu aqidah Islam. Aqidah inilah yang akan menuntun manusia kepada tujuan yang mulia. Yaitu mendapatkan ridho Allah.[]

Oleh: Yuni Lestari
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update