Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Akidah Islam sebagai Akidah Siyasiyah wa Ruhiah: Jalan Kebangkitan Jiwa dan Peradaban

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:49 WIB Last Updated 2026-02-18T22:49:15Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Akidah Bukan Sekadar Keyakinan, tetapi Kekuatan Peradaban
Akidah Islam bukan sekadar pernyataan iman yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sekadar ketenangan spiritual yang tersembunyi di relung hati. Akidah Islam adalah energi ilahiah yang membentuk jiwa manusia sekaligus membangun struktur peradaban. Ia adalah akidah ruhiyyah yang menghidupkan hati, dan akidah siyasiyyah yang mengatur kehidupan manusia.

Inilah rahasia mengapa Islam mampu mengubah bangsa padang pasir menjadi pemimpin dunia. Perubahan itu bukan dimulai dari ekonomi, bukan pula dari kekuatan militer, tetapi dari akidah.

Allah Swt., berfirman:
"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan atas seluruh agama."
(QS. At-Taubah: 33).

Kemenangan Islam adalah kemenangan akidah, kemenangan spiritual, dan kemenangan peradaban.

I. Akidah sebagai Ruhiyyah: Fondasi Kehidupan Jiwa

Dimensi pertama akidah adalah ruhiyyah, yaitu ikatan eksistensial antara hamba dan Rabb-nya. Akidah membebaskan manusia dari perbudakan dunia menuju penghambaan kepada Allah semata.

Allah berfirman:
"Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya."
(QS. Al-Baqarah: 257).

Kegelapan terbesar manusia adalah hidup tanpa tauhid. Ketika manusia tidak mengenal Allah, ia akan diperbudak oleh:

harta

jabatan

manusia

dan hawa nafsunya sendiri.

Namun, ketika akidah hidup, jiwa menjadi merdeka.

Inilah yang dirasakan oleh Bilal bin Rabah ketika disiksa di padang pasir. Tubuhnya tertindih batu, tetapi jiwanya bebas. Ia hanya mengucapkan:

"Ahad... Ahad..."

Karena akidah adalah kebebasan sejati.

Akidah Melahirkan Ketenangan Eksistensial

Manusia modern memiliki segalanya kecuali ketenangan. Mereka memiliki teknologi, tetapi kehilangan makna hidup. Mereka memiliki kekayaan, tetapi kehilangan kedamaian jiwa.

Allah berfirman:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra’d: 28).

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia diciptakan untuk mengenal Allah. Jika ia jauh dari Allah, ia akan gelisah, meskipun seluruh dunia berada di tangannya.

Akidah adalah rumah bagi jiwa.

Tanpa akidah, manusia menjadi kosong.
Dengan akidah, manusia menjadi utuh.

II. Akidah sebagai Siyasiyyah: Fondasi Kehidupan Sosial dan Politik

Islam bukan agama yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia.

Allah Swt., berfirman:
"Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim."
(QS. Al-Ma’idah: 45).

Ayat ini menegaskan bahwa akidah memiliki implikasi sosial dan politik. Akidah melahirkan sistem hukum, sistem keadilan, dan sistem pemerintahan.

Karena itu, dalam Islam:

Kekuasaan adalah amanah

Kepemimpinan adalah ibadah

Politik adalah tanggung jawab di hadapan Allah

Bukan sekadar alat kekuasaan.

Rasulullah Saw., bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban."

Ini menunjukkan bahwa siyasah dalam Islam adalah manifestasi akidah.

III. Integrasi Ruhiyyah dan Siyasiyyah dalam Diri Rasulullah Saw.,. 

Rasulullah Saw., adalah manifestasi sempurna akidah ruhiyyah dan siyasiyyah.

Di malam hari, beliau menangis dalam shalat, hingga kakinya bengkak.
Di siang hari, beliau memimpin negara, mengatur masyarakat, dan menegakkan keadilan.

Beliau adalah seorang sufi dalam spiritualitas, dan seorang pemimpin dalam peradaban.

Inilah keseimbangan Islam.

Islam tidak melahirkan manusia yang hanya beruzlah di gua, tetapi juga tidak melahirkan manusia yang tenggelam dalam dunia tanpa mengenal Allah.

Islam melahirkan manusia yang:

hatinya bersama Allah

tetapi tangannya membangun dunia.

IV. Krisis Peradaban Modern: Ketika Akidah Dipisahkan dari Kehidupan

Peradaban modern dibangun di atas sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan.

Akibatnya, lahirlah manusia yang kehilangan arah.

Politik tanpa akidah melahirkan korupsi.
Ekonomi tanpa akidah melahirkan eksploitasi.
Ilmu tanpa akidah melahirkan kehampaan spiritual.

Manusia modern mengalami krisis makna.

Mereka tahu segala sesuatu, tetapi tidak tahu untuk apa mereka hidup.

Allah berfirman:
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit."
(QS. Thaha: 124).

Kehidupan sempit bukan berarti miskin secara materi, tetapi miskin secara ruhani.

V. Rahasia Kebangkitan Generasi Sahabat: Kekuatan Akidah

Generasi sahabat bukan generasi yang kuat secara materi, tetapi mereka kuat secara akidah.

Mereka mengalahkan Romawi dan Persia bukan dengan jumlah, tetapi dengan iman.

Umar bin Khattab berkata:
 "Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kami mencari kemuliaan selain Islam, Allah akan menghinakan kami."

Mereka memahami bahwa akidah bukan hanya keyakinan, tetapi identitas dan kekuatan peradaban.

Aqidah mengubah:

budak menjadi pemimpin

padang pasir menjadi pusat peradaban

umat lemah menjadi umat yang memimpin dunia.

VI. Dimensi Sufistik Akidah: Kebangkitan Dimulai dari Hati

Kebangkitan Islam tidak dimulai dari sistem, tetapi dari hati.

Karena sistem hanyalah manifestasi dari jiwa manusia.

Jika jiwa rusak, sistem akan rusak.
Jika jiwa lurus, sistem akan lurus.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka."
(QS. Ar-Ra’d: 11).

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati adalah pusat kehidupan manusia. Jika hati hidup, seluruh kehidupan akan hidup.

Karena itu, kebangkitan umat adalah kebangkitan aqidah.

Bukan sekadar kebangkitan politik, tetapi kebangkitan spiritual.

VII. Jalan Kebangkitan Umat: Menghidupkan Akidah Ruhiyyah wa Siyasiyyah

Kebangkitan umat Islam harus dimulai dari tiga tahap:

1. Kebangkitan Akidah Ruhiyyah

Menghidupkan tauhid, dzikir, dan kesadaran akan Allah.

2. Kebangkitan Akidah Intelektual

Memahami Islam sebagai sistem kehidupan, bukan sekadar ritual.

3. Kebangkitan Akidah Peradaban

Membangun masyarakat yang diatur oleh nilai-nilai Islam.

Penutup: Akidah adalah Cahaya Kebangkitan

Akidah Islam adalah cahaya.

Ia menerangi hati manusia, dan menerangi peradaban.

Tanpa akidah, manusia menjadi tubuh tanpa ruh. Tanpa akidah, peradaban menjadi bangunan tanpa fondasi.

Tetapi dengan akidah:

Budak menjadi mulia.
Umat yang lemah menjadi kuat.
Peradaban yang mati menjadi hidup kembali.

Allah berfirman:
"Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan cahaya untuk berjalan di tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan?"
(QS. Al-An’am: 122).

Akidah adalah kehidupan.
Akidah adalah cahaya.
Akidah adalah jalan kebangkitan umat.

Dan kebangkitan itu dimulai dari hati yang kembali mengenal Allah.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si
Penulis dan akademisi
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa

Opini

×
Berita Terbaru Update