TintaSiyasi.id -- Banyak manusia menunggu Ramadhan, tetapi lupa bahwa Ramadhan tidak datang ke hati yang kotor. Ia hanya singgah pada jiwa yang telah disiapkan. Dan Sya’ban adalah bulan persiapan itu—bulan yang Allah jadikan sebagai ruang sunyi untuk membersihkan batin, meluruskan niat, dan menata kembali arah perjalanan ruhani.
Rasulullah ﷺ menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal justru di situlah nilai spiritualnya tersembunyi. Yang ramai sering kehilangan makna, yang sepi justru menyimpan cahaya.
Sya’ban dan Kesadaran Ruhani yang Terlupakan
Sya’ban terletak di antara dua bulan besar: Rajab dan Ramadhan. Ia seperti lorong sunyi yang jarang dilalui dengan kesadaran. Banyak orang sibuk menyambut Ramadhan secara fisik, tetapi lupa menyiapkan wadah ruhani. Padahal ibadah adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke bejana yang kotor.
Dalam perspektif tasawuf, Sya’ban adalah bulan tazkiyatun nafs—bulan menyapu hati sebelum cahaya Ramadhan turun sepenuhnya. Siapa yang masuk Ramadhan tanpa pembersihan, ibarat tamu yang datang ke pesta agung dengan pakaian penuh noda.
Puasa Sya’ban: Menundukkan Nafsu, Menajamkan Jiwa
Rasulullah ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih jiwa untuk taat sebelum diperintah secara wajib. Puasa Sya’ban adalah puasa orang-orang yang rindu, bukan puasa orang-orang yang terpaksa.
Puasa ini berfungsi:
Menundukkan syahwat sebelum Ramadhan
Melunakkan hati yang keras
Membuka mata batin agar peka terhadap maksiat
Dalam bahasa para sufi, lapar adalah kunci hikmah, dan Sya’ban adalah bulan pengunci itu.
Shalawat: Nafas Cinta Menuju Ramadhan
Sya’ban juga dikenal sebagai bulan shalawat. Sebab tidak ada jalan tercepat menuju Allah kecuali melalui cinta kepada Rasulullah ﷺ. Shalawat bukan sekadar bacaan lisan, melainkan penyambung ruhani antara hamba dan kekasih Allah.
Hati yang kering dari shalawat akan sulit menikmati Ramadhan. Sebab Ramadhan adalah warisan Rasulullah ﷺ, dan siapa yang ingin menikmati warisan, ia harus mencintai pewarisnya.
Perbanyaklah shalawat di Sya’ban, sebab:
Shalawat membersihkan hati dari kekasaran
Shalawat mengundang rahmat sebelum puasa
Shalawat menumbuhkan rindu pada ibadah
Istighfar: Menyapu Debu Dosa yang Menghalangi Cahaya
Ramadhan adalah cahaya, dan dosa adalah tirai. Sya’ban adalah bulan menyibak tirai itu. Maka perbanyaklah istighfar, bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan penyesalan dan tekad meninggalkan maksiat.
Dalam kacamata sufistik, istighfar bukan hanya untuk dosa besar, tetapi juga:
Lalai dalam zikir
Hati yang keras
Ibadah yang dilakukan tanpa rasa hadir
Barangsiapa tidak membersihkan dirinya di Sya’ban, maka Ramadhan hanya akan menjadi rutinitas tanpa transformasi.
Malam Nisfu Sya’ban: Malam Evaluasi Jiwa
Malam Nisfu Sya’ban adalah malam di mana banyak ulama menyebutnya sebagai malam evaluasi dan pengampunan. Bukan malam hura-hura ritual, tetapi malam sunyi untuk:
Muhasabah diri
Memohon ampunan
Memperbaiki hubungan yang retak
Allah tidak akan menurunkan ampunan kepada hati yang penuh dendam. Maka membersihkan hati dari kebencian di bulan Sya’ban adalah syarat turunnya cahaya Ramadhan.
Tilawah dan Niat: Menata Arah Perjalanan
Para salaf memperbanyak tilawah di Sya’ban agar Ramadhan tidak dimulai dengan keterkejutan ruhani. Sya’ban adalah bulan membiasakan diri dengan Al-Qur’an, bukan bulan mengejar target semata.
Lebih dari itu, niat harus diluruskan. Ramadhan bukan ajang sosial, bukan pula rutinitas tahunan, melainkan proses kembali kepada Allah. Sya’ban adalah waktu bertanya pada diri: “Untuk apa aku berpuasa?”
Penutup: Jangan Masuk Ramadhan dalam Keadaan Kosong
Sya’ban adalah bulan menyapu hati,
Ramadhan adalah bulan mengisi jiwa.
Siapa yang menyia-nyiakan Sya’ban,
ia akan kehilangan kedalaman Ramadhan.
Mari kita sambut Ramadhan bukan dengan euforia, tetapi dengan kesadaran. Bukan dengan jadwal padat semata, tetapi dengan hati yang bersih dan niat yang lurus.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang disiapkan sebelum dipanggil,
dan bukan yang tergopoh saat cahaya telah turun.
Wallāhu A‘lam bish-Shawāb.
Dr.Nasrul Syarif M.Si.
Penulis, akademisi Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo .