Investasi Peradaban, Jalan Sunyi Menuju Keberkahan dan Kesalehan Generasi
Pendahuluan: Pendidikan sebagai Pilihan Ideologis
TintaSiyasi.id -- Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan sekadar aktivitas sosial, apalagi sekadar mobilitas kelas ekonomi. Pendidikan adalah pilihan ideologis, yang menentukan arah hidup seseorang, bahkan menentukan wajah peradaban di masa depan.
Ketika seorang orang tua memilih untuk membiayai anaknya menuntut ilmu di pondok pesantren, sejatinya ia sedang mengambil keputusan teologis: memilih keselamatan iman di atas kemewahan dunia, memilih keberkahan di atas sekadar keberlimpahan, serta memilih nilai di atas popularitas.
Pilihan ini sering kali tidak mudah. Ia menuntut kesungguhan, pengorbanan, dan yang paling mendasar: keikhlasan.
1. Ikhlas sebagai Fondasi Spiritual Pendidikan
Islam menegaskan bahwa nilai sebuah amal tidak ditentukan oleh besar kecilnya nominal, melainkan oleh kualitas niat yang melatarinya. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Membiayai anak ke pondok, bila diniatkan sebagai upaya menjaga agama dan membangun karakter, maka ia bertransformasi dari sekadar kewajiban orang tua menjadi amal ibadah strategis.
Bahkan Rasulullah ﷺ mengangkat derajat nafkah keluarga sebagai sedekah:
إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ
“Apabila seseorang menafkahi keluarganya dengan mengharap pahala, maka itu bernilai sedekah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, biaya pondok bukan beban finansial, melainkan kapital spiritual.
2. Pendidikan Agama sebagai Mandat Ilahiah
Allah ﷻ berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua melampaui aspek biologis dan ekonomi. Ia adalah tanggung jawab transendental: menjaga keberlangsungan iman dalam diri anak.
Pondok pesantren, dengan tradisi keilmuannya, disiplin ibadahnya, dan kultur keteladanannya, merupakan salah satu instrumen efektif dalam menjalankan mandat ini. Oleh karena itu, membiayai pendidikan pondok adalah bagian dari pelaksanaan perintah Allah, bukan sekadar preferensi pendidikan.
3. Relasi Kesungguhan Orang Tua dan Kesalehan Anak
Dalam perspektif Islam, kesalehan anak tidak lahir secara instan. Ia dibentuk melalui ekosistem nilai yang kuat, salah satunya adalah kesungguhan orang tua dalam menyiapkan jalan ilmu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ… أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
(HR. Muslim)
Hadis ini menempatkan anak shalih sebagai aset eskatologis orang tua. Namun aset ini hanya lahir dari proses panjang: pengorbanan harta, kesabaran jiwa, dan keteguhan nilai.
Dengan kata lain, kesalehan anak adalah cermin dari kesungguhan orang tua.
4. Logika Keberkahan: Ketika Harta Dikeluarkan di Jalan Ilmu
Islam mengajarkan logika yang berbeda dengan logika materialisme. Dalam Islam, harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak berkurang, melainkan bertambah secara maknawi.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ
“Apa pun yang kalian infakkan, Allah pasti menggantinya.”
(QS. Saba’: 39)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ
(HR. Muslim)
Keberkahan ini sering kali tidak terukur secara matematis, tetapi nyata dalam stabilitas keluarga, ketenangan batin, dan keselamatan moral generasi.
5. Pahala Ilmu yang Mengalir kepada Orang Tua
Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
(HR. Muslim)
Orang tua yang mengarahkan anaknya ke pondok, membiayai, dan mendukungnya untuk istiqamah, secara tidak langsung berpartisipasi dalam setiap amal ilmiah dan ibadah sang anak.
Inilah konsep amal jariyah berbasis pendidikan, yang pahalanya melampaui batas usia biologis manusia.
Penutup: Pendidikan Pondok sebagai Jalan Keselamatan
Membiayai anak ke pondok dengan kesungguhan dan keikhlasan adalah tindakan visioner dalam Islam. Ia bukan hanya menyelamatkan anak dari krisis moral zaman, tetapi juga menyelamatkan orang tua dari keterputusan amal di akhirat.
Dalam konteks inilah kita memahami bahwa: Orang tua boleh saja berkurang hartanya di dunia, tetapi tidak pernah rugi di hadapan Allah.
Semoga Allah ﷻ menjadikan pengorbanan para orang tua sebagai sebab lahirnya generasi berilmu, berakhlak, dan beradab—serta menjadikannya pemberat timbangan kebaikan di hari akhir.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Dewan Pembina IBS Al Amri, Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)