Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Shalat dan Ngaji: Rezeki Paling Mahal yang Sering Diremehkan

Selasa, 03 Februari 2026 | 11:55 WIB Last Updated 2026-02-03T04:56:02Z

TintaSiyasi.id -- Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sibuk mengejar apa yang tampak oleh mata: harta, jabatan, popularitas, dan pengakuan sosial. Ironisnya, semakin banyak yang diraih, semakin sedikit yang benar-benar menghadirkan ketenangan jiwa. Pada titik inilah kita perlu merenung secara jujur: apakah semua orang yang hidup hari ini benar-benar kaya? Ataukah justru banyak yang mengalami kemiskinan paling berbahaya—kemiskinan ruhani?

Di antara rezeki paling mahal yang sering diremehkan manusia adalah kemampuan untuk menjaga sholat dan kecintaan kepada Al-Qur’an (ngaji). Tidak semua orang diberi anugerah ini. Bahkan, tidak sedikit yang secara fisik sehat, ekonomi mapan, dan intelektual cemerlang, namun miskin dalam urusan sujud dan tilawah.

Sholat dan Ngaji: Bukan Sekadar Kewajiban, tapi Anugerah

Sholat dan ngaji sering dipahami sebatas kewajiban formal. Padahal, dalam perspektif iman yang jernih, keduanya adalah taufik dan hidayah. Allah ﷻ berfirman: “Allah menarik kepada agama-Nya siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang yang kembali kepada-Nya.”ni(QS. Asy-Syura: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan bukan hasil kecerdasan semata, melainkan pilihan dan anugerah Allah. Jika hari ini seseorang masih diberi kekuatan untuk bangun sholat Subuh, masih merasakan rindu membuka mushaf, sejatinya ia sedang menerima rezeki langit yang nilainya melampaui emas dan perak.

Kemiskinan Ruhani di Tengah Kemajuan Materi

Realitas umat hari ini menunjukkan paradoks yang mengkhawatirkan. Masjid megah berdiri, tetapi shaf sholat kosong. Mushaf Al-Qur’an berjejer rapi, namun jarang dibaca. Umat memiliki akses ilmu yang luas, tetapi kehilangan rasa butuh kepada Allah.

Inilah tanda krisis ruhani. Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Akan datang suatu masa, umat Islam diperebutkan seperti hidangan, bukan karena jumlahnya sedikit, tetapi karena penyakit wahn.”
(HR. Abu Dawud)

Wahn—cinta dunia dan takut mati—adalah penyakit yang membuat sholat terasa berat dan ngaji terasa membosankan. Ketika hati telah penuh dengan dunia, maka ruang untuk Allah menjadi sempit.

Sholat Menjaga Akal, Ngaji Menghidupkan Hati

Sholat bukan hanya ibadah ritual, tetapi penjaga stabilitas jiwa dan moral. Allah menegaskan: “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Sementara itu, ngaji Al-Qur’an adalah obat bagi hati yang lelah dan gelisah. Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi membentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara memandang hidup. Umat yang jauh dari Al-Qur’an akan kehilangan arah, mudah galau, dan rapuh menghadapi ujian zaman.

Rezeki Mahal Itu Bernama Istiqamah

Tidak sulit memulai sholat dan ngaji. Yang sulit adalah menjaganya. Karena istiqamah adalah rezeki paling langka. Para ulama salaf lebih takut kehilangan istiqamah daripada kehilangan dunia. Mereka memahami bahwa ketika Allah mencabut kenikmatan ibadah, itulah pertanda bahaya terbesar.

Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata: “Jika Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, Dia bukakan pintu amal dan Dia tutup pintu debat.”

Sholat yang terjaga dan ngaji yang terus hidup adalah tanda bahwa Allah masih menghendaki kebaikan bagi seseorang dan bagi umat ini.

Penutup: Jangan Meremehkan Anugerah yang Menyelamatkan

Mari kita jujur pada diri sendiri. Jika hari ini kita masih:

merasa gelisah ketika meninggalkan sholat

merasa kehilangan saat jauh dari Al-Qur’an

dan merasa tenang ketika dekat dengan Allah

maka sungguh kita sedang memegang rezeki yang sangat mahal.

Tugas kita bukan sekadar menjalankan ibadah, tetapi menjaganya dengan rasa syukur dan takut kehilangan. Karena bisa jadi, harta diambil Allah masih bisa dicari. Tapi jika rezeki sholat dan ngaji dicabut, maka gelaplah seluruh kehidupan.

Semoga Allah ﷻ:

mengokohkan kita dalam sholat

menghidupkan hati kita dengan Al-Qur’an

dan menjadikan ibadah sebagai kebutuhan jiwa, bukan sekadar kewajiban formal

Sebab pada akhirnya, keselamatan umat ini tidak ditentukan oleh banyaknya aset dunia, tetapi oleh kuatnya ikatan dengan Allah.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Penulis 38 judul buku, akdemisi,Konsultan pendidikan dan SDM) 

Opini

×
Berita Terbaru Update