Pendahuluan: Dakwah yang Membumi dan Menghidupkan
TintaSiyasi.id -- Sejarah Islam di Nusantara tidak ditandai oleh dentuman pedang, tetapi oleh kelembutan hikmah. Tidak oleh pemaksaan, melainkan oleh keteladanan. Di titik inilah Wali Sanga hadir sebagai arsitek peradaban, bukan sekadar penyebar agama. Mereka bukan hanya mengislamkan manusia, tetapi memanusiakan Islam di tengah kultur Nusantara yang kaya, majemuk, dan berlapis makna.
Merekam jejak dakwah Wali Sanga bukanlah romantisme masa lalu, melainkan ikhtiar ideologis dan metodologis untuk menjawab tantangan dakwah masa kini: krisis adab, kegersangan spiritual, konflik identitas, hingga dakwah yang kehilangan kebijaksanaan.
Wali Sanga: Dai, Ulama, dan Negarawan Peradaban
Wali Sanga adalah simbol dakwah paripurna—mengintegrasikan tauhid, akhlak, budaya, dan peradaban. Mereka memahami bahwa dakwah tidak cukup dengan retorika, tetapi membutuhkan pembacaan sosial, kearifan lokal, dan kesabaran sejarah.
Beberapa prinsip utama dakwah Wali Sanga antara lain:
1. Tauhid sebagai Fondasi, Akhlak sebagai Jalan
Wali Sanga menanamkan tauhid tidak melalui perdebatan teologis yang kering, tetapi lewat akhlak yang hidup. Islam hadir sebagai agama yang menenangkan, bukan menakutkan. Masyarakat Nusantara melihat Islam pada perilaku para wali sebelum mendengarnya lewat lisan.
2. Budaya sebagai Media Dakwah, Bukan Musuh Dakwah
Wayang, gamelan, tembang, batik, arsitektur masjid—semuanya menjadi media dakwah yang sarat makna. Sunan Kalijaga, misalnya, tidak memusnahkan budaya lokal, tetapi menyucikannya dari syirik dan mengisinya dengan nilai tauhid. Inilah dakwah kultural yang cerdas dan visioner.
3. Kelembutan Metode, Keteguhan Prinsip
Wali Sanga sangat lentur dalam metode, namun sangat kokoh dalam prinsip. Mereka membedakan mana wilayah tsawabit (prinsip) dan mana mutaghayyirat (cara). Inilah kunci keberhasilan dakwah yang lestari lintas generasi.
Dakwah Transformasional: Dari Individu Menuju Peradaban
Jejak dakwah Wali Sanga menunjukkan bahwa dakwah sejati bukan hanya mengubah keyakinan individu, tetapi membangun sistem sosial yang berkeadilan. Mereka mendirikan pesantren, membina ekonomi umat, menata politik kerajaan, dan melahirkan tatanan masyarakat Islam Nusantara yang damai.
Pesantren yang mereka rintis menjadi pusat:
Pendidikan ruhani dan intelektual
Kaderisasi ulama dan pemimpin umat
Penjagaan akhlak dan tradisi keilmuan
Dakwah mereka bersifat holistik: spiritual, sosial, ekonomi, dan politik—tanpa kehilangan ruh ikhlas dan ketundukan kepada Allah SWT.
Relevansi Dakwah Wali Sanga di Era Kontemporer
Di tengah era digital yang bising, dakwah sering terjebak pada sensasi, polarisasi, dan ujaran kebencian. Jejak Wali Sanga mengingatkan kita bahwa:
Dakwah tanpa adab akan kehilangan keberkahan
Dakwah tanpa hikmah akan melahirkan resistensi
Dakwah tanpa cinta akan berubah menjadi propaganda
Meneladani Wali Sanga berarti menghadirkan Islam yang ramah, mencerahkan, dan mempersatukan, bukan Islam yang marah dan memecah belah.
Penutup: Melanjutkan Jejak, Bukan Sekadar Memuja
Wali Sanga tidak meminta dikenang, tetapi dilanjutkan perjuangannya. Meneladani mereka berarti menjadi dai yang:
Teguh dalam aqidah
Lembut dalam dakwah
Cerdas membaca zaman
Ikhlas dalam pengabdian
Di bumi Nusantara yang kembali diuji oleh krisis moral dan spiritual, jejak Wali Sanga adalah kompas dakwah yang tak pernah usang. Dari mereka kita belajar bahwa Islam akan jaya bukan karena kerasnya suara, tetapi karena beningnya hati dan agungnya akhlak.
“Dakwah yang hidup adalah dakwah yang menyentuh hati, bukan sekadar menguasai mimbar.”
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)