Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rasa Takut kepada Allah: Disiplin Ruhani dan Ideologi Peradaban

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:39 WIB Last Updated 2026-02-11T20:39:59Z
Refleksi Dakwah Ideologis–Sufistik

Pendahuluan: Ketika Takut kepada Allah Menjadi Asing

TintaSiyasi.id -- Peradaban modern membesarkan manusia dengan keberanian palsu: berani melawan fitrah, berani menabrak nilai, berani menertawakan dosa, dan berani menunda taubat. Namun di balik keberanian itu, sesungguhnya manusia modern kehilangan satu rasa paling mendasar dalam iman: rasa takut kepada Allah (al-khauf).

Takut kepada Allah hari ini sering disalahpahami sebagai sikap inferior, tidak rasional, bahkan dianggap penghambat kebebasan. Padahal dalam tradisi Islam—terutama dalam khazanah tasawuf dan pemikiran salaf—takut kepada Allah justru adalah fondasi kemerdekaan ruhani. Ia membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu, dunia, dan kekuasaan.

Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi, sebagaimana dinukil dalam Mukâsyafatul Qulûb karya Imam Al-Ghazali, menegaskan bahwa rasa takut kepada Allah bukan sekadar kondisi psikologis, melainkan etos hidup yang menjelma dalam seluruh anggota tubuh.

Takut kepada Allah: Konsep Ideologis dalam Islam

Dalam Islam, khauf bukan ketakutan patologis, tetapi kesadaran eksistensial. Ia lahir dari pengenalan (ma’rifah) terhadap Allah: keagungan-Nya, keadilan-Nya, dan kepastian hisab-Nya. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa takut adalah buah ilmu, bukan kebodohan. Semakin dalam ilmu seseorang, semakin halus rasa takutnya. Ia tidak berisik, tidak demonstratif, tetapi mengendalikan seluruh gerak hidupnya.

QS. Al-Hasyr Ayat 18: Poros Kesadaran Takut kepada Allah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Penjelasan Tafsir Ideologis–Sufistik

Ayat ini dibuka dengan panggilan iman, bukan sekadar nasihat moral. Takwa dan muhasabah adalah konsekuensi ideologis dari iman, bukan tambahan opsional.
Perintah “wal tanẓur nafsun” menegaskan kewajiban muhasabah personal. Tidak ada solidaritas palsu di hari hisab. Setiap jiwa berdiri sendiri di hadapan Allah.

Kata “lighad” (untuk hari esok) bukan menunjuk masa depan duniawi, tetapi akhirat. Inilah kritik Al-Qur’an terhadap peradaban yang piawai merancang dunia, tetapi lalai menyiapkan akhirat.

Takut kepada Allah, dalam ayat ini, adalah kesadaran masa depan ruhani. Hidup bukan dinilai dari apa yang diraih, tetapi dari apa yang dipersembahkan kepada Allah.

Hikmah QS. Al-Hasyr: 18

1. Takut kepada Allah melahirkan disiplin muhasabah: hidup tidak dijalani secara serampangan.
2. Takut kepada Allah menyatukan amal lahir dan batin: Allah mengetahui niat di balik setiap perbuatan.
3. Takut kepada Allah adalah fondasi peradaban beradab: ketika ayat ini hidup, kekuasaan menjadi amanah dan ilmu menjadi cahaya.

QS. Al-Hasyr: 18 adalah ruh dari seluruh pembahasan tentang rasa takut kepada Allah. Ia menjadi cermin yang jujur dan keras bagi jiwa.

Tujuh Manifestasi Rasa Takut kepada Allah

1. Lidah: Antara Dzikir dan Kehancuran
Lidah orang yang takut kepada Allah terkendali. Ia tidak digunakan untuk ghibah, dusta, fitnah, dan ujaran kebencian. Dalam era digital, lidah menjelma status dan komentar. Takut kepada Allah membuat seseorang berhenti sebelum berbicara.

2. Hati: Pusat Kesadaran Ruhani
Hati orang yang takut kepada Allah tidak pernah merasa aman dari murka-Nya. Ia hidup antara harap dan takut. Peradaban modern meninabobokan hati dengan hiburan, hingga manusia takut kehilangan kenyamanan, tetapi tidak takut kehilangan Allah.

3. Mata: Pandangan yang Dijaga
Mata adalah jendela hati. Orang yang takut kepada Allah menundukkan pandangan karena sadar akan dampak ruhani. Mata yang takut kepada Allah lebih sering basah oleh munajat daripada silau oleh dunia.

4. Perut: Ideologi Konsumsi dan Spiritualitas
Takut kepada Allah menjadikan seseorang sangat berhati-hati terhadap apa yang masuk ke perutnya. Makanan haram dan syubhat bukan sekadar masalah fikih, tetapi racun ruhani.

5. Tangan: Kekuasaan yang Dikendalikan Takut
Tangan melambangkan kuasa. Orang yang takut kepada Allah tidak menggunakan kekuasaannya untuk menzalimi. Hilangnya rasa takut kepada Allah di balik jabatan adalah akar kerusakan sosial.

6. Kaki: Arah Hidup yang Disengaja
Kaki orang yang takut kepada Allah tidak melangkah tanpa kesadaran. Ia memilih jalan hidup, karena setiap langkah akan dimintai pertanggungjawaban.

7. Ketaatan: Konsistensi dalam Sunyi
Puncak rasa takut kepada Allah adalah ketaatan yang istiqamah, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Ia taat bukan demi citra, tetapi demi keselamatan akhir perjalanan.

Penutup: Takut kepada Allah sebagai Proyek Peradaban

Takut kepada Allah bukan sekadar proyek individual, tetapi agenda besar peradaban Islam. Tanpa takut kepada Allah, hukum kehilangan ruh, ilmu kehilangan hikmah, dan kekuasaan kehilangan nurani.
QS. Al-Hasyr ayat 18 mengajarkan bahwa hidup adalah persiapan menuju perjumpaan. Siapa yang hidup tanpa takut kepada Allah, ia mungkin bebas—tetapi tersesat. Siapa yang hidup dengan takut kepada Allah, ia tunduk—namun selamat.
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” (Umar bin al-Khattab r.a.)

Semoga Allah menghidupkan dalam diri kita rasa takut yang menyelamatkan, bukan yang melumpuhkan. Takut yang menundukkan ego, namun mengangkat derajat ruh di sisi-Nya.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis, Akademisi. Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update