Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketika Tubuh Bergetar karena Allah

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:40 WIB Last Updated 2026-02-11T20:40:16Z
Khashyah, Gugurnya Dosa, dan Krisis Kekeringan Ruhani Peradaban Modern

Pendahuluan: Getaran yang Hilang dari Jiwa Manusia Modern

TintaSiyasi.id -- Ada satu pengalaman ruhani yang semakin langka dalam hidup manusia modern: tubuh bergetar karena takut kepada Allah. Bukan karena dingin, bukan karena penyakit, bukan pula karena trauma—melainkan karena kesadaran mendalam akan kehadiran Allah dan beratnya hisab di hadapan-Nya.

Manusia hari ini mudah gemetar karena harga, jabatan, kekuasaan, dan kehilangan dunia. Namun sangat jarang bergetar karena dosa. Padahal Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa satu getaran takut kepada Allah memiliki daya pembersih yang luar biasa—lebih kuat dari sekadar ritual lahiriah yang kosong dari rasa.

Hadits Agung tentang Getaran Khashyah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا اقْشَعَرَّ جِلْدُ الْعَبْدِ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ تَعَالَى، تَحَاتَّتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا يَتَحَاتُّ الْوَرَقُ مِنَ الشَّجَرِ
“Apabila kulit seorang hamba bergetar karena rasa takut kepada Allah Ta‘ala, maka dosa-dosanya berguguran darinya sebagaimana gugurnya daun dari pohon.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Syu‘abul Īmān dan Abu Nu‘aim al-Ashbahani dalam Hilyatul Auliyā’, dari sahabat Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu. Para ulama menilai maknanya kuat dan dikuatkan oleh banyak hadits sahih tentang keutamaan khashyah dan tangisan karena Allah.

Khashyah: Takut yang Lahir dari Ma‘rifah
Islam membedakan antara khauf dan khashyah.
• Khauf bisa lahir dari ancaman.
• Khashyah lahir dari pengenalan (ma‘rifah).

Karena itu Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang takut (khashyah) kepada Allah hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Semakin seseorang mengenal Allah—keagungan-Nya, keadilan-Nya, kelembutan-Nya—semakin halus dan dalam rasa takutnya. Ia tidak berteriak, tetapi menggetarkan batin dan jasad.

Getaran Tubuh: Bahasa Jujur Iman

Hadits ini menyebut “iqsya‘arra jildul ‘abd”—kulit bergetar. Ini penting. Karena tubuh tidak bisa berpura-pura. Lisan bisa berdusta, citra bisa direkayasa, ibadah bisa dipertontonkan, tetapi getaran tubuh adalah bahasa iman yang jujur.
Ketika seseorang:
• membaca ayat tentang neraka lalu dadanya sesak,
• mengingat dosa lalu tubuhnya gemetar,
• bermunajat di sepertiga malam hingga lututnya lemah,
maka saat itulah iman sedang hidup, bukan sekadar ada.

Dosa Berguguran: Rahmat yang Tidak Menunggu Kesempurnaan
Perhatikan keindahan hadits ini. Rasulullah ﷺ tidak menyebut:
• shalat malam panjang,
• puasa bertahun-tahun,
• sedekah besar,
• atau jihad fisik.

Cukup getaran takut yang jujur, dosa-dosa berguguran dengan sendirinya, sebagaimana daun kering jatuh dari pohon saat diterpa angin.

Ini adalah teologi rahmat, bukan teologi keputusasaan. Allah tidak menunggu hamba-Nya sempurna—Allah hanya menunggu kejujuran takut dan kembali.

QS. al-Hasyr Ayat 18: Ideologi Muhasabah yang Terlupakan

Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.”
(QS. al-Hasyr: 18)

Ayat ini adalah poros ideologis khashyah. Takut kepada Allah melahirkan muhasabah, dan muhasabah melahirkan getaran.

Manusia modern sangat sibuk menyiapkan “hari esok” versi dunia: karier, aset, reputasi. Tetapi lupa menyiapkan hari esok yang sejati: hari berdiri sendirian di hadapan Allah.

Mengapa Kita Jarang Bergetar? (Kritik Peradaban)

Pertanyaan yang jujur dan menyakitkan:
• Mengapa ayat-ayat Allah tidak lagi mengguncang tubuh kita?
• Mengapa mata lebih mudah basah karena film daripada karena dosa?
• Mengapa hati lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan ridha Allah?
Jawabannya bukan karena iman hilang sepenuhnya, tetapi karena iman tertimbun—oleh kebisingan dunia, hiburan tanpa henti, dan agama yang direduksi menjadi formalitas sosial.

Peradaban yang kehilangan rasa takut kepada Allah adalah peradaban yang tampak percaya diri, tetapi rapuh dari dalam.

Air Mata dan Getaran: Jalan Singkat Menuju Ampunan

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga susu kembali ke ambingnya.”
(HR. Tirmidzi)

Tangisan dan getaran karena Allah adalah ibadah sunyi. Tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, tidak ada panggung. Tetapi justru di sanalah langit terbuka.

Penutup: Jika Suatu Malam Tubuhmu Bergetar

Jika suatu malam:
• tubuhmu gemetar karena dosa yang kau ingat,
• dadamu sesak karena takut akan hisab,
• air matamu jatuh tanpa siapa pun tahu,

Jangan menahannya. Jangan merasa lemah. Jangan merasa hina. Karena saat itu dosa-dosamu sedang gugur. Bukan karena engkau ahli ibadah,
tetapi karena Allah Maha Pengampun terhadap hamba yang takut kepada-Nya.

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”
(Umar bin al-Khattab r.a.)

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita khashyah yang menggetarkan, takut yang menyelamatkan, dan iman yang hidup—hingga akhir perjalanan.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis dan Akademisi. Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update